Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
72.


__ADS_3

Kenapa kalian masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?!” Jefri mengerutkan dahinya dan membuat anak-anak menjadi takut kecuali Alex.


“Kita hanya ingin mencari mami, perlukah kita mengetuk pintu jika itu adalah mami kita. Ini urusanku dan mami bukan kau Papa!” Alex hanya bicara sembarang karena ia tau jika yang sudah ia lakukan itu salah, dan Alex tidak ingin dirinya disalahkan.


Alex berjalan memutari ranjang dan naik ke atas ranjang tepatnya ke depan Caroline. Alex mengangkat lengan Caroline dan tidur di dalam pelukan Caroline.


Carolin yang merasa tidurnya terganggu pun mulai membuka matanya dan melihat Axel yang sudah memposisikan dirinya di dalam pelukannya.


“Loh, Kalian sudah pulang?” tanya Caroline kepada Alex saat melihat Alex yang sedang memposisikan dirinya dalam pelukan Caroline.


Alex hanya menganggukan kepalanya.


“Ada apa, dengan anak mami yang satu ini, Hmmm … apa kau habis berbuat salah? tidak biasanya kau manja dengan mami?” tanya Caroline karena merasa jika ada sesuatu yang mengganjal di hati Alex melihat perilaku Alex yang manja.


Selama ini Alex tidak pernah bersikap manja, baik dengan Caroline ataupun Carzol. Alex adalah anak yang tegas dan lebih dewasa dari pada anak pada umumnya. Namun, alex akan bersikap manja jika ia melakukan suatu kesalahan dan itu mengganggu suasana hatinya.


“Alex … ada apa hmmm … apa yang kau lakukan?” tanya Caroline dengan lembut.


“Kakak habis memukul Luara teman Aulia, Mi.” Axel menghampiri Caroline yang masih dalam pelukan Jefri.


Jefri hanya menjadi pendengar yang baik dia melihat apa yang akan dikatakan Axell selanjutnya.


“Kenapa Alex memukulnya?” tanya Caroline kepada Axel.


“Laura meminta Aulia untuk mengelap sepatu Laura … bukan hanya itu saja, Mi. Laura juga menyatakan Amar dan Zamar dan Aulia anak pungut,” ucap Axel dengan mulut lemesnya, padahal saat di mobil Alex sudah mengatakan untuk tidak memberitahukannya kepada Mami ataupun Papa.


Caroline tersenyum ada rasa bangga dalam hatinya saat mendengar jika putranya bisa melindungi saudaranya. Caroline mengusap kepala Alex dan berkata, “Itu tidak salah sayang … yang salah mereka. Kau hanya berusaha untuk melindungi saudaramu.”


“Tapi aku memukul wanita, Mi. Mami prnah bbilang jika aku tidak boleh memukul wanita.” Alex mendongakan kepalanya, meminta penjelasan kepada Caroline.

__ADS_1


“Kau tidak salah, Lex. Jika wanita itu berani melukai orang terdekatmu, kau tidak salah jika kau mengambil tindakan kepadanya. Namun, lain halnya jika dia hanya membuat kesalahan kecil, kau tidak boleh memukulnya, cukup hanya dengan bentakan saja. Kau mengerti boy?” Kali ini bukan Caroline yang menjelaskan melainkan Jefri.


“Mengerti, Pi.” Alex langsung memeluk Caroline dan membenamkan kepalanya di dada Caroline.


“Boy, permasalahanmu sudah selesai, sekarang kalian bisa keluar dulu,” Jefri meminta para kurcaci itu untuk keluar karena menurutnya itu mengganggu waktunya bersama Caroline.


“No, Papa tidak bisa memisahkan seorang ibu dan anaknya!” ucap Axel dengan mengeluarkan jari telunjuknya dan naik ke atas ranjang dan masuk ke sela-sela antara Caroline dan Jefri.


Jefri hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar dan memasang wajah cemberut.


***


“Jose ke mana perginya cewek lu, setelah pernikahan Jefri dan Caroline, aku gak pernah tuh, melihatmu membawa wanitamu keluar. Apa lagi berkencan dengannya, kau selalu di perusahaan saja dengan Jefri dan sibuk dengan markas,” ucap Miko. Setelah mereka keluar dari ruangan Jefri mereka memutuskan untuk berkumpul di cafe depan perusahaan Jefri.


“Iya, di mana pacar mudamu itu? Apa jangan-jangan dia hanya wanita bayaran saja?” ucap Zail dengan senyum bibirnya. Itu semua karena Zail masih belum percaya jika teman mereka yang paling dingin ini memiliki pacar.


“Dia sedang ada urusan. Katakan saja kalian ingin melihat wajah cantiknya ‘kan?” ucap Jose dengan bangga.


“Coba kau suruh dia kesini, kau saat di pesta tidak membiarkan kami berkenalan dengannya,” ucap Miko dengan tangannya yang merangkul pinggang wanita yang ada di sampingnya.


Sudah jelas wanita itu adalah wanita bayaran karena Miko adalah buaya darat, walaupun banyak wanita yang ingin memanjat ke atas ranjangnya tapi Miko tidak pernah mau meniduri sembarangan wanita. Karena baginya wanita itu hanyalah menginginkan hartanya saja.


Jose pun mengeluarkan handphone miliknya dan mengirim pesan kepada Thasiko.


Tak, lama kemudian, Thasiko datang dengan berlari menuju Jose. “Maat Tu-”


Thasiko lupa jika saat ini ia harus berperan sebagai pacar Jose, hampir saja mulutnya kelepasan.


“Kenapa kau minta maaf?” tanya Miko heran karena melihat Thasiko yang datang dengan berlarian.

__ADS_1


“Hmm … Jose sudah memintaku untuk datang ke sini dari tadi, tapi aku lupa dan baru datang,” ucapnya beralasan.


“Lalu kenapa kau datang dengan berlari seperti itu?” tanya Zail dengan menyesap rokok yang ada di tangannya.


“Em ….”


“Kenapa kau mengintrogasi pacarku, urus-urusanmu sendiri.” Jose langsung menarik tangan Thasiko dan merangkul pinggangnya dengan posesif.


“Cumab tanya beberapa pertanyaan saja, dasar posesif.” Miko menyeruput kopi yang ada di depannya.


Mereka mengobrol sangat lama merek tidak hanya mengobrol saja, tapi juga mencari keberadaan Mona dan Marcel melalui laptop mereka, sampai waktu menunjukan pukul 6 sore dan semuanya kembali ke rumah masing-masing.


“Bagaimana keadaan ibu kamu?” tanya Jose basa basi, ia sangat tau jika uang yang ia berikan kepada Thasiko pasti akan digunakan untuk mengobati ibunya yang ada di rumah sakit.


“Dia sudah membaik, dan sudah selesai melewati masa krisisnya.” Saat Thasiko berhenti berbicara tanpa terasa ternyata mereka sudah berada tepat di depan gang rumah Thasiko. Jose tidak mengantarnya sampai depan rumah karena gang itu sangat sempit dan mobilnya tida bisa masuk.


Thasiko turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada Jose, sedangkan Jose hanya melihatnya dengan wajah datar dan melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Namun, Saat di tengah jalan, Jose melihat handphone Thasiko tertinggal.


Jose pun memutar balik mobilnya kembali ke depan gang rumah milik Thasiko. Saat berada tepat di depan gang, Jose turun dari mobil dan melihat Thasiko yang sedang dihadang oleh beberapa preman.


Jose dengan sigap pun melawan para preman itu, Hanya dalam hitungan menit, semua preman itu sudah terkapar di tanah. Thasiko menghampiri Jose dan berterima kasih kepadanya. Saat Thasiko ingin berjalan meninggalkannya, Jose memanggilnya kembali.


“Lebih baik biar aku antar saja, jika nanti kau di hadang preman lagi bisa bahaya,” ucap Jose yang menggandeng tangan Thasiko dan membuat jantung Thasiko berdebar.


Ditengah perjalanan menuju rumah Thasiko, Jose terus memandangi wajah Thasiko. Entah kenapa gadis remaja 18 tahun ini, bisa membuatnya terpesona dan begitu cantik di matanya.


Note.


hayy ... maaf baru up. mulai dari sekarang author akan up dari hari Senin sampai Jumat ya ... dan untuk sekarang author kasi bonus up heheh 😅

__ADS_1


semoga kalian suka terus sama ceritanya, maaf kalau ada salah kata dan lain sebagainya. Jangan lupa komentar y untuk nambah semangat author.


salam hangat dari Author untuk kalian semua.


__ADS_2