Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
75.


__ADS_3

"Papa, kau mengagetkan kita," pekik Axel, berjalan ke arah bar mini dan menaruh piring yang berisikan spageti di meja bar mini itu.


Jefri menaikan sebelah alisnya saat melihat piring spaghetti yang Axel taruh di atas meja bar. "Siapa yang buat spaghetti itu?" tanya Jefri.


"Siapa lagi jika bukan aku, Pa …," ucap Axel dengan sedikit nada terdengar bangga.


Jefri menaikan alisnya sedikit tidak percaya dengan ucapan putranya dan bertanya, "Apa kau bisa masak?"


"Hmmm … tidak," jawab Axel santai dengan baik ke atas kursi yang tinggi itu, "aku hanya mengikuti langkah-langkah yang ada di internet.


"Lalu kenapa kau membuatnya hanya dua saja?" Jefri duduk di kursi bar, tepatnya di depan Axel.


"Yang ini untuk Aulia dan yang ini untuk Alex." Axel menarik piring spageti yang ditarik oleh Jefri.


"Pelit, Papa hanya ingin mencicipi saja," ucap Jefri, begitu ia ingin mengambil sendok yang ada di piring Alex yang disiapkan oleh Axel. Namun malah di tarik dengan cepat oleh Axel.


Axel terlihat tidak menghiraukan ucapan papanya, dan menatap Jefri dengan terlilit.


"Papa dari mana jam segini?" Pertanyaan Axel membuat Jefri tertegun. Ia lupa untuk mengganti bajunya saat sampai di mansion, dan langsung ke dapur saat mendengar suara ribut-ribut dari dapur.


'Apa yang harus aku jawab sekarang, tidak mungkin aku menjawab habis menyerang kelompok Snack.' Batinnya gelisah.


Melihat gelagat aneh dari papanya, Axel pun menerka-nerka sendiri. "Apa papa habis bermalam dengan cewek ya …." Jari telunjuk Axel menunjuk wajah Jefri.


Tlak


Jefri menjentik kening Axel yang berbicara sembarangan. "Siapa yang mengajarimu berbicara begitu? Anak kecil ko pembicaraannya sudah berani ke sana, awas saja jika papa dengan sekali lagi kau berbicara seperti ini. Papa akan menghukum," ucap Jefri.


"Abis, Papa terlihat aneh, Axel tanya malah diam, malah seperti orang kebingungan," ucap Axel mengutarakan pemikirannya dengan tangannya yang usap keningnya yang habis di jentik Jefri.


"Papa habis dari kantor, tadi ada masalah sedikit," ucap Jefri.


"Benarkah?" tanya Axel kembali memicingkan matanya ke arah Jefri.

__ADS_1


"Tapi kenapa Papa bau amis?" Kali ini yang bertanya bukan Axel melainkan Aulia juga mulai membuka suara.


Jefri sudah tidak bisa mengelak lagi akhirnya hanya bisa memberitahukannya kepada putra dan putrinya.


"Huuhhh … kalian ini ya, memang sangat teliti dan pintar. Papi habis menyerang kelompok Snack, yang melindungi Mona dan Marcell, Kalian tidak boleh memberitahu hal ini kepada siapa pun," ucap Jefri memberikan peringatan kepada putra dan putrinya.


Axel menganggukan kepalanya paham sedangkan Aulia kembali bertanya, "Kenapa, pa? Apa papa keluar tidak memberitahu Mama? Apa papa membohongi Mama?"


"Pa, itu gak baik loh … nanti mama tau akan marah besar," ucapan putrinya membuat tenggorokan Jefri terasa tercekat.


"Putri Papa yang baik dan imut … mama tidak akan tau jika kau tidak mengatakannya, sayang …," ucap Jefri berusaha untuk membuat putrinya itu mengerti.


"Tapi bohong itu dosa, dan lagi tadi papa bilang menyerang 'kan? Mama bilang menyerang itu dosa papa …," ucap Aulia dengan polos dan nada yang terdengar cerewet.


Jefri mendengar itu pun menepuk jidatnya. Ia bingung harus bagaimana membuat putrinya ini mengerti.


"Kali ini tidak dosa Lia … papa sudah izin dengan tuhan jika papa hanya akan menyerang untuk menangkap penculik kamu saat itu, jadi jangan katakan hal ini pada siapa pun ya?" ucap Jefri harap-harap Aulia mengerti keadaannya.


"Oooo … baiklah, Lia tidak akan bilang," ucap Aulia dengan santai dan kembali melanjutkan makannya.


"Hahaha … papa spot jantung hanya karena Lia," ucap Axel tertawa lepas melihat papanya yang takut jika Lia akan mengatakan hal itu kepada Caroline.


"Axel, diam." Jefri melotot ke arah Axel dengan nada sedikit membentak.


Axel pun diam dibuatnya mendengar bentakan itu. Bisa-bisa tidak dapat uang jajan ia jika terus tertawa.


"Spot jantung itu apa, Kak?" tanya Aulia polos.


"Spot jantung itu, jantung kita berdetak lebih cepat dari biasanya," jawab Axel.


"Lalu kenapa jantung papa bisa berdetak lebih cepat karena Lia, Kak? Bukanya itu tanda orang jatuh cinta ya? Apa papa jatuh cinta dengan Lia?"


"Sudah-sudah sayang … jangan di lanjutkan sekarang, cepat habiskan makanannya." Belum juga Axel menjawab pertanyaan Aulia, tapi Jefri sudah lebih dulu memotong perkataan Axel.

__ADS_1


"Sudah papa ingin ganti baju dulu, kalian jika sudah selesai cepat tidur jangan berkeliaran," ucap Jefri dan bergegas pergi menjauhi dapur sebelum putrinya itu mengatakan hal yang membuat jantungnya copot.


"Iya Pa …," ucap Aulia dan Axel.


Lima belas menit kemudian, Aulia sudah selesai menghabiskan makanannya, dan segera menuju kamar mereka.


Aulia sampai di kamar Axel dan Alex. Alex yang melihat Aulia meraba dadanya pun bertanya, "Ada apa Lia? Kenapa kau memegang dadanya?"


"Kak, Lia mengalami spot jantung seperti papa. Tapi kenapa Lia bisa spot jantung, Kak? Apa Lia jatuh cinta dengan lantai?"


Mendengar ucapan Aulia, Axel dan Alex tertawa terbahak-bahak. "Lia, kau jatuh cinta dengan lantai, apa kau nanti akan menikahi lantai itu dan memiliki anak seperti lantai yang keras dan kotak itu? Hahaha …." Tawa Axel dan Alex terdengar sangat keras sampai membangunkan Amar dan Zamar yang sedang tidur.


Cklek


"Ada apa, Kak kenapa kalian tertawa terbahak-bahak seperti itu?" tanya amar yang baru saja masuk ke dalam kamar Axel dan Alex bersama Zamar.


"Kalian tanyakan saja pada Lia, ha-hahaha …," Alex dan Axel tertawa sampai berguling-guling di atas kasur.


Amar dan Zamar menaikan sebelah alisnya, dan menatap Aulia dengan penuh tanya.


Aulia yang mengerti akan arti tatapan itu pun berkata dengan wajahnya yang polos, "Kak, Lia jatuh cinta pada lantai kamar kak Axel dan Alex."


"Hahah … jatuh cinta dengan lantai, hahah …." Mereka semua yang ada di sana tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Aulia.


"Sudah, sudah … sebaiknya kalian tidur lagi, ini sudah larut malam," ucap Alex, saat melihat jam tangannya, ternyata waktu menunjukan pukul 02.35 AM.


***


Pagi hari


Di depan gerbang pintu mansion keluarga Al Zero, terlihat semua maid dan beberapa penjaga sedang membantu menurunkan stok makanan untuk keluarga Al Zero.


"Ziki, Ini bahan khusus yang nyonya pesan untuk masak siang nanti, jadi tolong taruh di kulkas ya," ucap Bi Michu, menyerahkan paper bag yang berisikan daging, satu dan buah.

__ADS_1


"Siap, Bi." Zaki berjalan menuju dapur mansion. Namun di pertengahan jalan, Zaki mengeluarkan sesuatu dari kantong, terlihat seperti serbuk berwarna putih. Zaki pun menumpahkan serbuk itu ke dalam paper bag itu.


Setelahnya Zaki melihat kanan, kiri, depan, belakang. Dilihatnya tidak ada yang memperhatikannya, Ziki kembali melanjutkan jalan menuju dapur.


__ADS_2