
Sedangkan Di dalam gedung pencakar langit yang megah, Jefri sedang menatap layar komputernya dengan sangat fokus. Dan jari-jarinya yang dengan lincah berselancar di atas keyboard.
Jefri sedang mencari tahu mengenai identitas Marco. Ia merasakan ada yang aneh dengan Marco, Dengan menggunakan kemampuan Hackernya yang lumayan bagus, Jefri akan sebisa mungkin untuk menemukan identitas Marco.
Dan mata Jefri melotot, saat ia menemukan Identitas Marco sebenarnya. “Bagaimana ini bisa terjadi? Dan sudah sejaun ini, aku baru mengetahui siapa Marco sebenarnya?”
Jefri masih merasa kaget saat melihat semua data-data yang ada di layar laptopnya. Yang mana dI sana terdapat laporan rumah sakit Jek, yang melakukan operasi plastik, sampai wajahnya terlihat seperti sekarang.
“Ternyata dia cukup berani juga melawanku!” gumam Jefri dengan senyum licik yang ada di sudut bibirnya.
Derttt
Seseorang menelepon Jefri, saat Jefri melihat layar handphone miliknya, di sana bertuliskan ‘Michu’ “Untuk apa Michu meneleponku?” gumamanya dengan menaikan sebelah alisnya.
“HalloTuan, kenapa nyonya sampai saat ini belum pulang? Bukankah jam pulang nyonya, sudah lewat?” ucap Michu, saat sambungan teleponnya sudah tersambung.
“Apa! Kenapa Caroline bisa belum pulang?” pekiknya kaget. Karena Jam pulang kantor sudah usai sedari tadi.
“Saya kira, nyonya hari ini pulang telat. Dan untuk berjaga-jaga saya mengabari Anda.” ucap Michu menjelaskan.
Tanpa berkata lebih banyak lagi, Jefri mematikan sambungan teleponnya dan segera berlari keluar dari ruangannya. Jefri menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu lokasi keberadaan Caroline.
“Tiba-tiba saja pikiran Jefri tertuju kepada Jek, yang menyamar menjadi Marco.” Jefri bergerak cepat, dengan melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan melacak tempat Marco berada.
Tapi baru saja Jefri mendudukan bokongnya di atas kursi, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Belum Jefri menjawab dan pintu itu sudah terbuka dan memperlihatkan Zail yang masuk dengan senyum di wajahnya. Zail langsung duduk di atas sofa, dengan kakinya yang bersilang.
“Kau, kali ini memiliki utang budi kepadaku,” ucap Zail dengan senyum gembira yang terpancar di wajahnya.
Jefri tidak menjawabnya, ia fokus dengan komputer yang ada di hadapannya. Zail melihat hal itu, tetapi ia tetap melanjutkan ucapannya, “Apa kau tau? Selama ini kedua putramu itu sudah ditukar!”
“Apa! Kenapa bisa?!” Mata Jefri melotot saat itu juga.
Zail tersenyum dan kembali berkata, “Aku juga tidak begitu tau siapa yang melakukan ini. tetapi aku sempat melihat Mona dan orang bernama Fahzan bekerja sama. Tetapi sepertinya ini bukan hanya ulah mereka.” Zail mulai berpikir dan mengingat apa yang terjadi saat ia menyelamatkan Alex dan Axel.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan Alex dan Axel? Apa kau sudah menyelamatkannya?” tanya Jefri dengan wajahnya yang terlihat kawatir.
“Tenang, saat ini mereka berada di mansionku, dan sedang bersama dengan Aurel.” Mendengar itu hati Jefri merasa lebih lega.
Tetapi tak berselang lama, wajahnya kembali memerah. Tangan Jefri terkepal kuat dan bekata dengan suara beratnya, “Aku tidak akan membiarkannya lolos, kali ini aku tidak akan segan dengan!”
Zail yang mendengar itu menaikan salah satu alisnya dan berkata, “Apa kau mengetahui pelakunya?”
“Dia adalah Jek. dia melakukan operasi plastik dan mengubah identitasnya menjadi Marco, dengan menggunakan itu, dia mendekati Caroline dan saat ini aku yakin dia sedang menculik Caroline.” Tatapan mata Jefri terlihat jelas terdapat amarah didalamnya.
“Hmm … aku kira orang itu sudah tiada, ternyata dia cukup kuat juga masih bisa bertahan,” gumam Zail.
Tak beberapa lama kemudian, Jefri menemukan apa yang dia cari dengan segera, Jefri melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Zail di belakangnya.
***
Sedangkan di sisi lain, Caroline mengerjapkan matanya. Ia melihat sekelilingnya, dan mendapati dirinya yang sedang berada di ruangan yang cukup gelap. Serta tembok yang sudah retak membuatnya, dapat menebak jika itu adalah gedung tua.
‘Di mana ini? Kenapa aku diikat?’ batin Caroline saat tangan dan kakinya tidak dapat digerakan.
Caroline kaget saat melihat yang masuk adalah Marco.
“Hallo, sayang …. Bagaimana? Kenapa kau memberontak, apa kau tidak bisa melepaskan diri?” Marco berjalan mengelilingi Caroline
Marco tersenyum licik melihat Caroline yang terlihat lemah. Caroline tidak tinggal diam, ia menggerakkan kakinya sampai akhirnya ikatan itu terlepas.
Dengan gerakan cepat Caroline menendang burung Marco alias Jek.
"Aarrrggg … sialan." Marco memegang bagian bawahnya yang mana Caroline tendang.
Jek menatap Caroline dengan tatapan tajam dan …
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Caroline. Darah segar pun mengalir dari sudut bibirnya, dan terdapat tanda berwarna abu-abu disampingnya.
__ADS_1
Caroline bukanya merasa kesakitan tetapi ia tertawa, walau tidak bersuara karena mulutnya yang di lakban membuatnya hanya bisa tertawa dalam diam.
Caroline terus menggerakkan kursi dan badannya untuk melepaskan ikatan itu, tetapi itu tidak berhasil.
Saat Jek ingin maju, lagi lagi Caroline menendang Jek dengan sangat keras.
"Kurang ajar!" Wajah Jek mulai merah saat sudah merasa tidak tahan menghadapi Caroline.
Tanpa Ba-bi-bu, Jek langsung mengangkat kursi yang mana tempat Caroline diikat dan langsung melemparnya ke arah tembok.
Caroline sudah terlihat sangat tidak berdaya dengan darah yang mulai mengalir dari kepalanya. Marco tersenyum dan berkata, "Kau dengar ini, NAMA ASLIKU ADALAH JEK, dan kau sudah masuk ke dalam perangkapku."
Caroline melebarkan matanya mendengar itu. 'Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa bisa orang ini ada di sini.capa yang aku harus lakukan sekarang?'
Caroline mulai merasa panik, yang mana keberaniannya yang setinggi gunung kali ini hilang tanpa alasan. Ia sudah trauma berhadapan dengan Jek, di masa lalunya. Saat dia di dijual, Caroline melihat hal yang tidak pernah ia lihat dan itu membuatnya trauma
Jek, berjalan mendekat kepada Caroline, namun pandangannya terarah ke satu arah. Yaitu ke sebuah gunung yang ada di dada Caroline.
Benda itu terbuka, karena baju Caroline yang tersingkap dan dua kancing di atasnya terlepas.
Benda yang terlihat kenyal dan putih itu kembali, membuat nafsu Jek menjadi semakin membara.
Dengan senyum yang mesum yang ada di wajahnya, Jek pun mendekat ke arah Caroline dengan menjilati sekitar tubuhnya.
Caroline membuka matanya, tubuhnya terasa sangat sakit. Dengan cepat Caroline tersadar.
Dengan kuat Caroline mendorong Jek, tetapi Jek menggenggam pergelangan tangannya. Dan menjilati tangan dan jari-jari Caroline.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi Jek. Caroline yang merasa masih belum puas pun kembali menggigit tangan Caroline.
"Aarrrhh …." Jeritan kesakitan itu, berasal dari Jek yang memegang jari telunjuknya yang mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Dengan tangannya yang masih terikat kursi belakang, membuatnya terus bergerak.
__ADS_1