Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
13. Perlengkapan Untuk Kabur


__ADS_3

Braaaakkk 


Jefri menutup documen itu dengan kasar dan menaruhnya di atas meja dengan keras. Dengan kedua sikunya yang bertumpu pada meja kerjanya dan jari-jari tangannya yang memijat kepalanya. 


“Bagaimana? itu adalah laporan yang sangat akurat, dan sekarang sudah terbukti jika calon istriku tidak bersalah, jadi lepaskan dia sekarang aku akan membawanya ke KUA sekarang juga," ucap Miko, dengan wajahnya yang mengekspresikan penuh dengan kemenangan, ketika melihat ekspresi wajah Jefri. 


"Diam, kau tak boleh membawanya!" bentak Jefri. Entah kenapa Jefri merasakan hatinya seperti terbakar kala mendengar Miko ingin membawa Caroline ke KUA. 


'Heh, kena kau, sebentar lagi masa jomblomu akan hilang brow,' Batin Miko berkata. 


Miko sangat senang saat melihat wajah sahabatnya yang menahan amarah. Sebenarnya Miko sengaja mengatakan Caroline adalah calon istrinya. Mengatakan seolah-olah dirinya jatuh cinta dengan Caroline dan ingin menikahinya. 


Miko melakukan itu demi kebaikan sahabatnya yang satu ini, yang kaku dan tidak tersentuh oleh wanita sedikit pun. Miko bisa melihat ada ketertarikan dalam diri Jefri terhadap Caroline tawanannya, saat Miko melihat Jefri di balkon ruang kerjanya sedang memandangi Caroline yang sedang membuat kebun untuk Jefri. 


Dari sanalah Miko mengetahui jika Jefri sudah mulai tertarik kepada Caroline tetapi karena rasa gengsinya Jefri tidak ingin mengakuinya.


Karena itu Miko selalu mengatakan jika Caroline adalah calon istrinya, hanya untuk memanas-manasi Jefri, supaya Jefri meninggalkan rasa gengsinya dan mau mengakui Caroline dan melupakan dendamnya.


"Kenapa aku tidak boleh membawanya, kau juga tidak menyukainya, lebih baik aku membawanya untuk kunikahi saja," ucap Miko. 


Wajah Jefri merah padam, menahan amarah. Jefri sendiri bingung kenapa dirinya marah saat mendengar Miko mengatakan ingin membawa Caroline ke KUA. 


Ada percikan api di dalam harinya, yang membuat hatinya terbakar mendengar ucapan Miko. Ditambah lagi dirinya sudah tidak bisa menjawab ucapan Miko membuat Jefri hanya bisa diam membisu menahan amarahnya.


"Jika begitu aku kembali ke ruanganku dulu," ucap Miko berbalik dan meninggalkan ruangan Jefri. 


Sedangkan Jefri mengusap wajahnya kasar. Jefri sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya marah. 


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku sangat marah?" gumam Jefri bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. 

__ADS_1


"Apa aku sudah mulai menyukai wanita itu?" gumam Jefri lagi dan tanpa disadarinya Jefri tersenyum saat ia mengklaim jika dirinya sudah mencintai Caroline. 


 


 


Sedangkan di sisi lain, Caroline baru saja selesai mandi dan keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar bawah tanah yang memang menjadi penjara baginya. 


"Aku sudah bisa berjalan dan sudah merasa baikan, ini saatnya bagiku untuk kabur dari penjara bajingan itu," gumam Caroline dengan tangannya yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. 


Caroline mengganti pakaiannya dengan baju kaos dan celana panjang yang mana ia dapat dari baju bekas para maid yang tinggal di mansion Jefri. 


"Tunggu," ucapnya menghentikan aktivitasnya sejenak. 


"Aku tidak bisa kabar dengan tangan kosong, jika aku kabur dan masih berdiam diri di negara ini sama saja aku akan masuk kembali ke dalam kandang macan ini," gumam Caroline yang perlahan mulai melanjutkan aktivitasnya memakai baju. 


"Tapi di mana aku bisa mendapatkan uang dengan mudah, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi," gumamnya dengan wajah sendu. 


"Tidak-tidak, itu salah, aku tidak boleh melakukan itu," ucal Caroline menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran jahat itu. 


"Tapi jika aku tidak melakukan itu, aku tidak akan bisa kabur dari sini, dan hanya bisa diam mengikuti apa perintah pria bajiangan itu." Caroline berjalan bolak balik di depan kasurnya. 


"Aku tidak bisa apa-apa ma, maafkan Caroline yang harus mengingkari janji Caroline yang satu ini, tapi jika Caroline bisa bertemu dengan damai dengan bajingan itu, Caroline akan berusaha untuk mengembalikannya," ucap Caroline kepada sang mama yang sudah berada di surga.


Dengan segera Caroline menggunakan pakaiannya dan keluar dari ruangan bawah tanahnya. 


Caroline menyelinap ke dalam kamar Jefri dengan mudah, karena semua para maid dan pengawal sedang bertugas menjaga dan membersihkan mansion di jam sekarang. 


Caroline membuka semua laci yang ada di dalam kamar Jefri. Ia mencari sesuatu yang bisa membantunya untuk pergi dari negara ini. 

__ADS_1


Caroline sudah membuka semua laci dan lemari tetapi Caroline tidak menemukan apa-apa. Saat Caroline melihat sebuah lemari Caroline membukanya dan terdapat sebuah brankas di dalam lemari itu. 


Mata Caroline berbinar, tetapi sedetik kemudian Caroline kembali berdumal, "Sial! Brankas ini menggunakan password, aku tidak tau passwordnya, apa yang akan aku lakukan sekarang?"


Caroline mencoba memencet tombol yang berisikan angka itu dengan asal, tetapi sudah beberapa kali Caroline mencoba masih saja salah. 


"Aarrrggghh … sial, kenapa password brankas ini sangat sulit," umpat Caroline kesal. 


Caroline kembali menekan angka. Caroline menekan asal, Caroline menekan angka '8964' baru empat angka yang Caroline tekan masih kurang dua angka lagi untuk membuka brangkas itu. 


"Angka berapa lagi ya …," gumam Caroline dengan tangannya yang membentuk centang mengusap dagunya. 


Tapi saat sedang berpikir Caroline menjadi tak seimbang dan terjatuh, secara tidak sengaja siku Caroline menekan angka yang ada di brankas dan seketika brankas itu terbuka. 


Caroline melotot dan meloncat kegirangan saat melihat itu. "Yeeeeyyyy … akhirnya bisa kabur," teriak Caroline dan untungnya kamar Jefri kesal suara sehingga tidak ada siapa pun.


Caroline dengan cepat membuka pintu brankas, Caroline melotot melihat isi di dalam brankas. Lembaran-lembaran kertas berwarna merah dan berisi angka 100.000 bertumpuk-tumpuk segunung. 


"Wao, banyak banget, seberapa kaya bajingan itu?" gumamnya ketika melihat tumpukan uang yang sangat banyak itu. 


Belum tahu saja Caroline uang yang ada di brankas yang ia lihat sekarang ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua aset milik Jefri dan juga semua uang yang ada di dalam black card miliknya. 


"Aku ambil berapa, ya?" gumam Caroline.


"Sudahlah ambil saja, yang sepuluh gepok, untuk berjaga-jaga," gumam Caroline.


Satu gepok ikatan uang itu berisi sekitar tiga puluh juta. Dan jika Caroline mengambil sepuluh gepok maka semuanya akan menjadi tiga ratus juta. Dan itu masih ada tersisa  banyak uang di di dalam brankas itu.


Caroline yang melihat adanya paspor dan KTP milik Jefri. "Owh iya, ini dibutuhkan juga, aku kan tidak memiliki KTP dan paspor," ucap Caroline dan memasukan itu semua ke dalam tas bag yang ada di tangannya. 

__ADS_1


Saat akan keluar dari kamar Jefri, baru saja Caroline membuka pintu kamar sedikit dan mendongakan kepalanya, Caroline melihat begitu banyak maid yang sedang bersih-bersih di depan kamar Jefri, dan dengan cepat dan sangat hati-hati Caroline kembali menutup pintu kamar. Untungnya Caroline tidak terlihat oleh para maid karena mereka membelakangi Caroline.


"Apa yang harus aku lakukan jika begini, mereka semua ada tepat di depan kamar si bajingan itu, jika begini aku tidak akan bisa keluar dari kamar ini," gumam Caroline.


__ADS_2