
“Upss ….” Miko dan Jose berusaha untuk menahan tawa mereka.
Mereka sangat puas melihat Jefri yang dibuat seperti perempuan, sudah pastinya Jefri akan malu setengah mati, jika seluruh karyawan kantor menemukannya dalam penampilan yang sekarang.
“Sayang … ayolah, biarkan aku lepas ini ya,” ucap Jefri memohon kepada Caroline.
“Tadi kau sudah berjanji, kalau kau akan memenuhi semua keinginanku.” Caroline melipat kedua tangannya di depan dada.
Mendengar itu membuat Jefri bungkam, ia tidak bisa melanggar janjinya kepada Caroline.
Caroline kembali duduk di sofa bersama dengan Miko dan Jose, yang ingin membicarakan sesuatu dengan Jefri, mengenai pencarian Mona dan Marcell.
Namun, Jefri mengenyampingkan hal itu, dan meminta beberapa kenalannya untuk masuk ke dalam ruangannya. Untuk bisa membuat dirinya terlepas dari penampilan seperti ini, Jefri pun memanggil, Zail, Carzol Aurel, Bi Michu dan Kornel untuk membantunya terlepas dari penampilan ini.
Saat mereka melihat penampilan Jefri yang seperti perempuan, reaksi yang mereka berikan sama dengan Jose dan Miko.
****
Di pinggir jalan terlihat seorang pria paruh baya, berjongkok di trotoar dengan tangannya yang memegang kaleng yang berisikan uang receh.
Pria itu tidak lain adalah Zaki, Paman Caroline yang mana saat ini sudah bangkrut karena ulah Jefri, yang membuat perusahaannya menjadi bangkrut.
Dengan pakaian yang sudah serba bolong-bolong dan kotor, bukan hanya pakaian, tetapi kulitnya juga sudah menjadi hitam saking kotornya. Dari arah yang jauh, terlihat segerombolan orang berpakaian serba hitam berjalan ke arah Zaki.
“Siapa kalian?” tanya Zaki panik saat segerombolan orang itu mengelilinginya. Tanpa mengatakan apa pun dari belakang salah satu dari mereka langsung membekap mulut Zaki dan membuatnya pingsan.
“Bos … dia sudah pingsan,” ucapannya kepada salah satu rekannya yang menjadi atasannya.
“Angkat dia dan masukan ke dalam mobil,” perintahnya kepada anak buahnya.
__ADS_1
Saa Zaki membuka matanya, ia kaget saat mendapati dirinya yang terikat di kursi dan berada di sebuah ruangan yang sangat aesthetic. ‘Kenapa aku berada di ruangan ini? Siapa yang menculikku, aku sudah tidak memiliki apa apa, untuk apa mereka menculikku?’
“Ternyata kau sudah bangun,” ucap seorang wanita berjalan ke arahnya dengan kedua tangannya yang dilipat di depan dada.
Zaki melihat wanita itu, ia mengerutkan keningnya karena merasa tidak pernah menyinggung wanita ini, apalagi mengenalnya.
“Siapa kau? Kenapa kau menangkapku?” tanya Zaki panik.
“Kau tidak perlu tau siapa aku, aku hanya ingin kau melakukan sesuatu.” Wanita itu tersenyum licik, dengan membalikan badannya ke arah jendela besar yang mana memperlihatkan seluruh inggris dari atas sana.
“Apa itu,” tanya Zaki.
“Aku tau kau masih menaruh dendam kepada keponakan tercintamu itu, aku ingin kau membunuhnya dengan menggunakan racun ini,” ucap wanita itu menunjukan botol kecil yang berisi cairan.
“Aku akan memberikan setengah harta kekayaanku jika aku berhasil menjadi istri Jefri, dan aku akan memberikan seperempat jika kau berhasil membunuhnya.”
Wanita itu membalik badannya dan menatap badan Zaki yang kotor dan kumal. Hanya dengan melihatnya saja membuat Wanita itu merasa jijik dengan keberadaan Zaki saat ini.
Italia sangat tergila-gila dengan Jefri. Karena itu tepat saat kematian Tuan Card, Italia tidak menyalahkan Jefri atas kematian Tuan Card, tetapi ia menyalahkan Caroline yang mana sudah menggagalkan rencana Angel.
Sampai saat ini pun dendam itu masih membara di hatinya, apa lagi saat mendengar jika Caroline hamil anak keduanya.
Zaki yang mendengar itu pun merasa senang karena ada secercah harapan untuk bisa membalaskan dendamnya yang ada di dalam hatinya, yang sudah menumpuk begitu banyaknya.
“Okey, aku setuju.” Jawab Zaki.
Begitu mendengar jawaban memuaskan keluar dari mulut Zaki, Italia langsung menjentikan jarinya dan dua bawahan Italia yang sedari tadi berdiri di depan pintu pun masuk ke dalam ruangan.
“Buka ikatanya!” perintah Italia dan membalik badannya melihat ke arah kaca yang lebar memperlihatkan keindahan Inggris, dengan tatapan matanya yang kosong.
__ADS_1
***
Perusahaan Al Zero, ruangan CEO
Terlihat Jefri yang keluar dari ruang ganti dengan penampilannya yang kembali seperti pria. Dengan menggunakan kemeja dan Jas membuat aura Jefri sebagai lelaki kembali terlihat, di dalam ruangan itu hanya ada Jose dan Miko, sedangkan yang lainnya sudah pergi saat Caroline mengizinkan Jefri melepaskan riasannya, dan Caroline sedang tidur di dalam kamar yang ada di ruangan Jefri.
Jefri berjalan duduk di kursi CEO dan bertanya, "Ada hal apa yang ingin kalian sampaikan?"
"Owh … ya. Aku sama sekali tidak menemukan jejak Mona dan Marcell, masalahnya di sekitar rumah mereka itu adalah hutan, dan tidak ada CCTV yang terpasang di sana." Jefri mendengar penjelasan Miko pun mengusap dagu ya dan berfikir mencari solusi.
"Aku yakin, mereka tidak akan pergi jauh dari Inggris. Mereka sudah tidak memiliki apa pun untuk keluar dari Inggris." Jefri terlihat sedang berpikir keras.
"Lalu bagaimana cara kita untuk mencarinya?" tanya Miko dan Jose yang terlihat sedang berpikir keras.
“Bagaimana jika kita Dron, dan melacak melalui nomor Marcell. tidak mungkin mereka tidak menggunakan handphone mereka ‘kan?” tanya Jose meminta pendapat Miko dan Jefri.
“Aku tidak ingin tau bagaimana dan menggunakan cara apa kalian menemukan mereka. Intinya kalian bisa membawa mereka ke hadapanku!” ucap Jefri dengan aura dinginnya yang mulai menyebar di sekitarnya.
Jefri dan Miko hanya menjawab dengan menganggukan kepala mereka, dan berjalan keluar dari ruangan Jefri.
Begitu melihat pintu tertutup, Jefri langsung berjalan menuju kamar yang ada di dalam ruangannya. Begitu membuka pintu Jefri kaget saat melihat caroline yang tidur dengan setengah telanjang.
Yang mana bagian atas Caroline tidak menggunakan baju dan hanya menggunakan bra. Ditambah lagi dengan suhu AC yang sangat dingin membuat Jefri langsung gerak cepat menutupi tubuh Caroline.
Jika saja Caroline sedang tidak hamil, maka Jefri sudah pasti akan menerkam Caroline saat ini juga.
Jefri naik ke atas ranjang dan memeluk Caroline dari belakang. Karena Caroline yang tidur membelakangi dirinya, Jefri juga mencium pundak Caroline, Jefri sudah tidak tahan untuk menahan hasratnya dan hanya bisa memainkan buah kesukaannya saja.
“Papa ….” Teriakan anak-anak yang terdengar bergerombolan membuat aktivitas Jefri terganggu bahkan sampai membuat Jefri terperanjat kaget akibat ulah kelima anak yang yang masuk tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
Jefri memutar badannya dan terlihat ekspresi marah yang tergambar di wajah Jefri.