Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
99.


__ADS_3

“Ternyata aku harus melatih kalian untuk lebih teliti lagi. Kalian lihat, aku menemukan pelakunya dengan mudah dan kalian sudah lima belas menit mencari pun tidak ketemu,” ucap Jefri dan meninggalkan Jose dan Miko begitu saja. 


“Bagaimana bisa Jefri menemukannya dengan mudah? Bukankah dia tadi di kamar mandi?” tanya Miko. 


“Sudah … tidak usah ambil pusing, kita kerjakan dulu ini,” ucap Jose yang sudah mulai mengemasi mayat wanita itu. 


***


keesokan harinya, Caroline dan Jefri melakukan aktivitasnya seperti biasa.  Akan tetapi kali ini, begitu banyak penjagaan untuk caroline dan juga anak-anak mereka. Begitu juga dengan Thasiko karena Jose harus lembur untuk beberapa hari sehingga membuat Thasiko yang harus tinggal di mansion Jefri. Bukan hanya Thasiko, tetapi Aurel dan Zail juga, yang mana Zail harus melakukan tugasnya sebagai dokter pribadi keluarga Al Zero. 


“Sayang, aku berangkat kerja dulu, ya.” Jefri mencium kening Caroline dan kembali berkata, “ingat, jika keluar jangan sendirian!”


“Siap, Suamiku …,” ucap Caroline seraya bergelayut manja pada lengan Jefri. 


“My dwarves are you ready? (Para kurcaciku apa kalian sudah siap?)” tanya Jefri pada kelima anaknya yang berada di meja makan. 


“Ready dedy,” sorak kelima kurcaci itu dan bersaliman dengan Caroline. 


Setelah Jefri dan putra, putrinya menghilang dari mansion. Caroline pun berjalan ke taman belakang yang mana tempat favorite caroline untuk bersantai. “Bi, nanti tolong bawakan cemilan ke taman belakang, ya.” 


Caroline yang sedang bersantai di ayunan yang berada di bawah pohon, tidak menyadari jika di atas pohon itu terdapat burung. Burung itu bermata merah dengan melihat ke arah Caroline dengan tatapan marah, sampai burung berparuh panjang itu dengan bobot badan yang cukup besar itu terbang ke arah perut Caroline yang besar itu.


Caroline yang melihat burung itu pun dengan cepat mengambil ranting pohon yang berjatuhan dan memukul burung itu menggunakan ranting pohon itu. Akan tetapi burung itu terlihat tidak kesakitan sama sekali, yang mana membuat Caroline harus berlari ke dalam mansion. Di saat yang bersamaan juga, Bi Michu berjalan menuju tempat Caroline bersantai pun kaget, saat melihat Caroline yang berlari dengan dikejar oleh burung yang begitu besar. 


“Nyonya, ada apa in?” tanya Bi Mich panik. 

__ADS_1


“Lari,Bi … lari,” teriak Caroline yang masih berjarak cukup jauh dari Caroline. 


Namun, bukannya lari, Bi Michu malah mengambil tongkat yang ada di sekitar taman dan mencoba memukul burung tersebut. Akan tetapi, Bi Michu mengalami hal yang sama dengan Caroline, burung itu tidak terluka ataupun terlihat seperti kesakitan dan malah semakin bertenaga. “Bi, tidak ada gunanya memukul burung itu, dia tidak akan terluka, lebih baik Bibi lari,” teriak Caroline yang berlari melintasi Bi Michu. 


Karena melihat apa yang dikatakan oleh Caroline benar, membuat Bi Michu lari ke dalam mansion bersama dengan Caroline. Saat di dalam mansion, Caroline dan Bi Michu masih dikejar oleh burung itu, dan membuat semua pelayan dan penjaga berusaha menangkap burung itu. Sampai Zail, Aurel dan Thasiko, datang melihat apa yang terjadi, hingga membuat Zail menembak burung itu dengan pistolnya. Akan tetapi, burung itu bukannya mati, melainkan pecah dengan serpihan-serpihan besi yang berhamburan ke mana-mana. 


Semua orang yang berada di sana kaget melihat itu. Benar-benar tidak ada yang menyangka, jika ada seseorang yang bisa membuat burung yang terlihat seperti burung asli. Namun, tidak dengan Zail, raut wajahnya terlihat biasa saja karena ia sudah melihat gerak gerik aneh pada burung itu. 


“Bersihkan semua kekacauan yang ada!” perintah Zail kepada para maid yang ada di sana. 


“Arrrkk …,” pekik Caroline sembari memegang perutnya.


Bi Michu yang mendengar pekikan Caroline pun segera membopong tubuh Caroline. Dengan paniknya, Bi Michu pun bertanya, “Nyonya, Anda kenapa?” 


“Baringkan Caroline di sofa, biar aku periksa,” ucap Zail dengan membawa peralatan medisnya. 


***


Di sisi lain, Jefri yang sedang mengadakan meeting untuk sebuah proyek, merasa tidak tenang. Entah kebetulan atau bukan, tetapi Jefri sedari tadi tidak bisa menenangkan hatinya, yang sedang gelisah. “Stop, cukup sampai sini, lanjutkan besok saja,” ucap Jefri meninggalkan perusahaannya begitu saja. 


“Tuan Jose, kenapa harus dilanjutkan besok? Bukankah ini tinggal sedikit lagi?” tanya seorang pria paruh baya, yang mana merupakan CEO dari perusahaan di negara Prancis, yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Al Zero. 


 “Sepertinya suasana hati Tuan Jefri sedan tidak baik, Tuan. Sebaiknya ikuti saja perintahnya jika Anda ingin proyek Anda diterima,” ucap Jose dengan senyum mengerikan dan membuat pria paruh baya di depanya tidak berani berkata-kata. 


Setelah mengatakan itu Jose pun mengikuti ke mana perginya Jefri. Di dalam Mobil, Jefri melihat handphone miliknya yang berdering, Saat dilihatnya ternyata itu adalah Bi Michu. Melihat itu adalah orang rumahnya membuat Jefri semakin tak tenang.  

__ADS_1


[Hallo, Bi. Ada apa?] 


[Tuan, tadi ada yang burung buatan yang menyerang nyonya dan membuat perutnya sakit.] 


setelah mendengar itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, Jefri langsung melajukan mobilnya menuju mansionnya. Saat sampai di mansion, Jefri langsung masuk dan diarahkan menuju kamarnya untuk menemui Caroline. “Sayang ….” Suara Jefri terdengar sangat khawatir saat ia membuka pintu kamarnya. 


“Zail, bagaimana keadaan Caroline?” tanya Jefri sambil mengusap dahi Caroline. 


“Caroline, hanya merasa kram di perutnya saja karena berlari,” ucap Zail meregangkan tangannya. 


Melihat itu, Jefri pun merasa ada yang tak beres dan membuatnya bertanya, “Apa kau baru saja menggendong Caroline?” 


Mendengar pertanyaan itu membuat Zail gelagapan. Karena ia sendiri tau jika tidak ada siapa pun yang boleh menyentuh Caroline kecuali dia berjenis  wanita. “Mampus, siang jantan sepertinya akan mengamuk,” batin Zail. Tanpa menjawab pertanyaan Jefri Zail langsung berlari keluar dari ruangan. 


“Zaillll …,” Teriak Jefri. 


“Sayang …,” panggilan dari Caroline membuat amarah Jefri menghilang dan berfokus pada Caroline. 


“Sayang, apa ada yang sakit? Ada yang kau rasa tidak nyaman?” tanya Jefri beruntun saat melihat sang istri mulai sadar. 


“Tidak ada, Apa kau sudah meminta orang untuk menjemput anak-anak?” tanya Caroline. 


“Sudah, Sayang … kau tidak perlu khawatir, sudah ada yang menjemput anak-anak. Sekarang aku temani kau tidur, ya.” Jefri pun naik ke atas ranjang dan tidur di samping Caroline. 


Saat sedang tidur, tiba-tiba saja terdengar notifikasi handphone Caroline dan Jefri yang masih terjaga pun membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam handphone Caroline. [Semua kebusukan dan rahasiamu akan terbongkar Caroline!] 

__ADS_1


__ADS_2