
“Hahaahaha … Ternyata rencanamu ini sangat bagus, Dok.” Mona tertawa senang karena rencana mereka berjalan dengan lancar.
Yap, semua kejadian dari saat Caroline dan Jefri menikah, Mona selalu mengikuti mereka dan mencari kesempatan untuk bisa menculik Alex dan Axel, sampai saat ini. Mereka berhasil menculik Alex dan Axel.
Saat melihat Jefri dan Caroline terjatuh dari tebing, Mona langsung menghubungi polisi. Karena Mona tahu jika keamanan Alex dan Axel sangatlah ketat, karena itu dengan menghubungi polisi, membuat keamanan kedua bocah itu menjadi berkurang dan semua akan berfokus mencari Jefri dan Caroline.
Dokter yang bekerja sama dengan Mona itu tersenyum dengan sangat menyeramkan. Dokter itu adalah dokter Fahzan, dokter yang mana merupakan salah satu bawahan Jek yang sangat setia.
Setelah pergi dari serangan Dragon Black saat itu, Jek mengalami luka parah, dan saat ini sedang ditangani oleh Fahzan. Dan saat Fahzan menangani pasien lain, secara tidak sengaja mendengar jika pasien tersebut memiliki dendam dengan Caroline. Mendengar hal itu pun Fahza berniat untuk membantu tuannya yang sedang sekarat saat ini, untuk membalaskan dendamnya, Fahzan bisa disebut sebagai salah satu anjing setia, karena masih sangat setia kepada tuannya sampai saat ini walau sang tuan sedang dalam kondisi tidak berdaya, bahkan seluruh aset, anak buah dan properti miliknya sudah di bumi hanguskan oleh Jefri.
“Bawa kedua anak itu ke gudang!” perintah Fahzan pada orang sewaannya yang di sewa untuk menculik Alex dan Axel.
“Baik, Tuan,” ucap mereka serempak. dan menggendong Alex dan Axel menuju gudang.
“Kedua bocah ini lumayan tampan juga, jika kita jual untungnya akan sangat besar,” ucap Salah satu dari mereka yang membayangkan uang segunung yang menumpuk di depan mata mereka.
“Sudah, hentikan hayalan tak pasti itu. Bos menginginkan anak ini, dan kita tidak akan bisa menjual mereka, kecuali jika bos menyuruh kita untuk membuang mereka, maka kita bisa dengan diam-diam membawanya ke pasar gelap.” salah satu dari mereka berkata dengan mengikat kedua tangan Alex dan Axel.
“Aku akan mengompori bos untuk membuang anak ini, supaya kita lebih mudah untuk menjual mereka,” ucapnya dengan tersenyum licik.
Malam hari.
“Apa kau kedinginan, Sayang?” tanya Jefri dengan penuh rasa khawatir saat melihat Caroline yang memeluk kedua kakinya erat.
__ADS_1
Jefri berjalan ke arah Caroline dan memeluknya erat. “Apa begini sudah hangat?” tanya Jefri dengan melihat ke arah Caroline.
Cup
Caroline mencium sekilas bibir Jefri dan membenamkan wajahnya di dada bidang Jefri. Ada rasa aman dan nyaman yang dapat Caroline rasakan saat berada di dalam pelukan Jefri.
“Aaaauuu …,” teria CAroline dan langsung berdiri dengan memegang bokongnya yang terasa sakit.
“Kenapa? Kenapa kau berteriak sayang?” ucap Jefri ikut panik saat melihat Caroline kesakitan dan memegang bokongnya.
“Sakit … seperti ada yang menusuk bokongku,” ucap Caroline dengan melihat ke arah bokongnya dan menemukan duri landak yang tertancap di bokongnya.
Caroline mengerutkan dahinya dan berkata, “Kenapa bisa ada duri landak?”
Kemudian pandangan Caroline dan Jefri terarah ke tempat di mana Caroline dan Jefri duduk tadi. Dilihatnya seekor landak sedang berbaring nyenyak mengambil tempat mereka tadi.
Karena saat Jefri ingin menangkap ikan, hari sudah mulai gelap dan Caroline melarang Jefri untuk menangkap ikan di malam hari, Caroline tidak ingin mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan Jefri nantinya.
Di Mall keluarga Al Zero.
Aurel kaget saat melihat Alex dan Axel datang menghampirinya dengan membawa banyak barang dan meminta Aurel untuk membayarnya. Bukan masalah sanggup atau tidaknya Aurel membayar. Tetapi hanya tidak biasanya saja Aurel melihat Alex dan Axel sangat suka berbelanja.
Alex dan Alex biasanya hanya akan membeli secukupnya apa yang akan mereka beli dan sisanya mereka akan lebih memilih untuk membeli makanan.
__ADS_1
Aurel mengangkat sebelah Alisnya dan memberikan black cardnya kepada penjual toko.
“Tidak biasanya kalian suka berbelanja seperti ini?” Aurel memandang Alex dan Axel dengan sangat intens
“Bibi … jadi orang itu tidak boleh pelit. lagian kami adalah keponakanmu, jadi tidak ada salahnya jika kami menggunakan uangmu untuk berbelanja.” Alex dengan tidak sopannya menjawab tanpa melihat wajah Aurel dan melangkahkan kakinya menjauh dari tempat aurel berada saat ini.
“Bukan itu maksud bibi … Bibi, tidak akan masalah jika kalian menggunakan uang bibi untuk berbelanja, hanya saja bukankah kalian tidak begitu tertarik dengan shopping? Biasanya kalian akan lebih suka jika bibi mengajak kalian ke restoran.” Aurel menaikan salah satu alisnya di depan Alex dan Axel.
Dan dengan entengnya alex kembali menjawabnya, “Bisa saja keinginan kami berubah bibi …,” ucap Alex.
Aurel tidak lagi melanjutkan pembicaraan mereka dan berjalan menuju restoran makanan karena harus sudah mulai gelap dan mereka belum makan apa pun sedari tadi.
Saat mereka sampai di salah satu restoran jepang, Aurel lagi-lagi kageet melihat cara Axel makan yang sangat elegan. Ini benar-benar sepeti bukan Axel yang biasanya makan dengan rakus dan sembrono.
‘Ada apa dengan kedua anak ini? Kenapa sikap mereka rasanya seperti berbeda dari biasanya?’ Batin Aurel bingung ketika melihat cara makan Axel.
‘Apa ini adalah karena faktor depresi mereka, Ya? karna di tinggal Jefri dan kakak ipar?’ Batin aurel lagi dan menepis pikiran buruk yang ada di dalam pikirannya.
Selesai mereka makan di restoran jepang. Yang mana biasanya Alex dan Axel akn meminta untuk pulang, tetapi berbeda dengan kali ini, kali ini terlihat Alex yang mana notabenenya adalah seorang anak yang dingin dan cuek. Malah meminta untuk pergi ke pasar malam.
Seketikan dalam benaknya Aurel menjadi bertanya-tanya, ‘Ke mana perginya Sikap dingin dan cuek itu? Bukankah Alex selalu bersikap dingin? Apakah sekarang es batu yang membuatnya dingin itu sudah mulai mencair secara perlahan?’ Batin Aurel, Sampa-sampai apa yang Alex dan Axel katakan tidak didengar olehnya.
“Bibi … kenapa malah melamun? Dari tadi kami memanggil bibi!” ucap Alex dengan ekspresi wajahnya yang terlihat seperti anak kecil pada umumnya.
__ADS_1
“Baiklah … bibi akan mengikuti apa mau kalian? Ayo sekarang kita ke pasar malam.” Aurel menggenggam masing-masing pergelangan tangan Alex dan Axel di tangan kanannya.
‘Ada yang tidak beres dengan kedua anak ini, Sebaiknya setelah kakak ditemukan nanti aku akan menyuruh Zail untuk memeriksa mereka.’ Batin Aurel mulai mencurigai Alex dan Axel yang ada di sampingnya saat ini.