Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
69.


__ADS_3

Sedangkan di dapur Jefri baru saja selesai membuat eskrim sesuai dengan keinginan Caroline. Namun, saat Jefri membawanya ke ruang tamu ia tidak melihat adanya Caroline di sana.


Akhirnya, Jefri mencari ke ruangan tempat anak-anak bermain, tetapi Caroline juga tidak ada di sana.


Ditengah kepanikannya handphone Jefri yang berada di dalam saku celananya bergetar. Jefri melihat layar handphonenya dan itu adalah nomor tidak dikenal, Jefri pun mengerutkan keningnya tetapi ia tetap mengangkat panggilan itu.


[Hallo, apa benar ini dengan suami ibu Caroline?] ucap seseorang dari seberang sana.


[Iya.] Jawab Jefri dengan singkat dan padat.


Dalam hati, Jefri sudah tidak tenang. Pikirannya terus tertuju pada Caroline.


[Maaf, Bapak sebelumnya. Saya tadi menemukan istri bapak pingsan di Mall bawah hotel, dan saat ini sedang dibawa menuju rumah sakit Universitas Gachon Gil Medical Center] ucap seorang pria di seberang sana.


Deg


Jantung Jefri berpacu lebih cepat dari biasanya. Dengan cepat Jefri mematikan handphonenya dan berlari menuju losmen hotel.


Jefri menaiki mobilnya dan melaju dengan cepat menuju rumah sakit Universitas Gachon Gil Medical Center.


Sedangkan di rumah sakit, Alex, Axel, Amar, Zamar dan Aulia. Kaget saat melihat Jefri yang berlari dengan cepat keluar dari ruangan mereka.


"Ada apa dengan papa, Kak?" tanya Axel dengan wajah polosnya melihat ke arah pintu.


"Entah, mungkin Mama sedang marah," jawab Alex Asala.


***


Jefri mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dahinya berkeringat, kepanikannya sudah mencapai batas maksimum.


Bahkan semua lampir merah, Jefri trobos saking paniknya.


Tidak lama kemudian, Jefri sampai di rumah sakit Universitas Gachon Gil Medical Center. Jefri langsung berlari memasuki rumah sakit dan bertanya kepada bagian informasi tentang pasien bernama Caroline.


Jefri diarahkan menuju kamar 505 di ruangan Seoul.


Jefri langsung saja berlari menuju ruangan yang dikatakan petugas di bagian informasi. Banyak orang-orang di sana yang memandangi Jefri dengan kagum. Karena ketampanannya yang paripurna.


Begitu Jefri sampai di ruangan Seoul kamar 505, Jefri tidak masuk, ia melihat dari jendela kamar dan saat melihat Caroline yang pingsan berada di atas brankar. Jefri langsung berlari masuk ke dalam.


"Sayang … apa yang terjadi?" Jefri mengambil tangan Caroline dan menempelkannya di dahi Jefri.


"Maaf tuan, sebaiknya biarkan nyonya untuk beristirahat. Tidak baik untuk bayi di dalamnya jika Nyonya tidak beristirahat," ucap seorang dokter membuka pintu kamar untuk mengecek kondisi nyonya.


"Bayi?" Gumam Jefri melongo.


"Iya, Tuan istri Anda saat ini sedang mengandung." Dokter itu tersenyum melihat reaksi Jefri.

__ADS_1


Mendengar


Jefri yang terlalu senang pun, langsung memeluk Caroline yang sedang tidur di atas ranjang.


Sampai-sampai Caroline merasa terganggu, dengan tidur nyenyaknya. Caroline mengerjapkan Matanya dan berkata dengan sedikit membentak, "Bisakah kau diam!"


Mendengar bentakan itu Jefri mendongakan kepalanya dan tersenyum


Cup


"Tidurlah … aku akan menemanimu," ucap Jefri mencium kening Caroline. Jefri mengibas-ngibaskan tangannya ke arah dokter itu, dan dokter itu pun mengerti. Dokter itu Melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat Caroline.


***


Sore harinya, Caroline sudah diperbolehkan pulang. Karena kondisinya yang sudah mulai membaik.


"Mama … Papa … kalian dari mana?" Axel berlari menuju Caroline dan Jefri.


Sedangkan Amar, Zamar, Aulia dan Alex hanya berjalan beriringan dengan santai mengikuti Axel.


Namun, Jefri dengan cepat menghalangi dengan tangannya, dan berkata, "Jangan langsung menjatuhkan pelukanmu kepada Mamamu sayang … nanti akan mengenai adik bayinya."


"Adik bayi?" tanya Axel dengan muka polos, "apa di perut mama ada adik?"


Jefri menjawab dengan menganggukan kepalanya. Keluarga itu kembali mendapatkan kebahagiaan dengan hadirnya anggota baru dalam perut Caroline.


***


Seorang wanita tinggi dengan pakaian bagian dada yang terbuka membuatnya terlihat seksi.


Wanita itu duduk di kursi kebesarannya, dengan duduk menyilang kaki kanan yang berada di atas kaki kiri.


Kedua tangannya terlipat di depan dadanya.


"Nona, wanita itu saat ini sedang hamil, apa kita tetap akan membunuhnya?" tanya seorang pria yang duduk di sofa tak jauh dari wanita itu.


Wanita itu menatap tajam ke arah pria itu, dan berkata, "Apa perlu bertanya lagi?!"


"Baik, Nona." Pria itu langsung pergi keluar ruangan.


"Bagaimana pun caranya wanita itu harus mati aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!" gumamnya dengan rasa dendamnya yang sudah membara di hatinya.


Setelah ia merasa tenang, wanita itu mengambil Handphone miliknya yang berada di atas meja.


[Hallo, Nona?] ucap bawahannya setelah sambungan telepon tersambung.


[Apa kau sudah menemukan orang yang aku inginkan?] Nada tegas terdengar dari telepon anak buahnya dan membuat anak buah wanita itu sedikit takut untuk menjawabnya.

__ADS_1


[Maaf, Nona, saya sudah mencari di rumahnya, tetapi dia tidak ada,] ucapnya dengan rasa takut yang menyelimutinya.


[Bodoh! Siapa yang menyuruhmu untuk mencari di rumahnya! dia itu sudah bangkrut apa kau tidak memiliki otak!] anak buah wanita itu gemetar saat mendengar suara gebrakan meja ang begitu keras dari telponnya.


[Ba-baik, Nona] Setelah mendengar itu, wanita itu langsung mematikan teleponnya.


***


Tiga hari telah berlalu, Jefri dan keluarganya sudah kembali ke inggris.


Caroline sedang duduk di sofa menonton TV sedang tangannya yang memegang begitu banyak cemilan. Saat melihat Jefri yang melewatinya dengan menggunakan setelan Jas, tiba-tiba saja Caroline menginginkan sesuatu yang baru.


Pluk


Caroline memeluk Jefri dari belakang dan membenamkan wajahnya di punggung Jefri.


“Ada apa, Sayang?” tanya Jefri dengan senyum indah di bibirnya.


“Aku ingin sesuatu, apa kau bisa mengabulkannya?” Caroline menunjukan wajah imut dan manisnya kepada Jefri.


“Tentu saja aku akan mengabulkan semua permintaan istriku, aku tidak akan membuat keinginan istriku tidak terpenuh.” Jefri tanpa pikir panjang langsung menyetujui keinginan Caroline.


“Janji?” Binar mata Caroline menunjukan harapan.


“Iya, Sayang.” Jefri mengusap lembut kepala Caroline.


Mendengar jawaban Jefri membuat Caroline sangat senang.


“Mami, Mami tidak masak?” tanya Axel


“Tidak sayang … kalian makan, makanan yang dimasak Bi Michu dulu y?” Jawab Caroline berusaha membuat Axel mengerti.


“Okey, tapi nanti sore, Mami harus janji akan masak untuk kita!” Axel tanpa mendengar jawaban Caroline pergi meninggalkan Caroline dengan kedua tangannya yang terlipat di dada.


Caroline merasa jika Axel marah terhadapnya dan segera menghampiri Axel. “Apa kau marah dengan Mami?” Caroline menyetarakan tinggi badannya dengan Axel.


“Aku tidak marah, Mi. Aku hanya merindukan masakan Mami, dulu saat kita belum bertemu papa, mami selalu masak untuk kita, tapi akhir-akhir aku jarang makan masakan mami.” Wajah Axel terlihat cemberut saat mengingat kenangan mereka dulu.


Caroline tersenyum dan mengusap kepala Axel dan berkata, “Baiklah … nanti, Mama akan masak makanan kesukaan Axel dan Axel okey?” Caroline mengarahkan jari kelingkingnya kepada Axel.


Mendengar itu senyum indah terbit di bibir Axel dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Caroline.


Axel berlari menuju meja makan dan bergabung dengan Alex, Aulia, Amar dan Zamar.


“Sayang, kau nanti apa hanya akan memasak makanan kesukaan mereka, bagaimana denganku?” tanya Jefri memeluk Caroline dari belakang.


“Nanti aku akan buatkan juga, setelah kau memenuhi keinginanku.” Caroline langsung menarik pergelangan tangan Jefri menuju kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2