
"Tunggu, kita tidak bisa mencari ayah begitu saja. Jika Mama tau maka dia akan marah, kau tau 'kan mama tidak suka jika kita membahas ayah?" ucap Alex mengingatkan adiknya.
"Lalu bagaimana, Kak? Aku sangat ingin bertemu ayah, aku ingin seperti anak lainnya yang ada seorang ayah," ucap Axel dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, saking rindunya kasih sayang seorang ayah.
"Tapi kita juga tidak bisa egois, kita harus memikirkan bagaimana perasaaan Mama, aku juga merindukan kasih sayang seorang ayah, aku ingin bertemu ayah, aku ingin melihat dan memeluknya, tetapi di samping itu ada mama, aku tidak ingin menyakiti perasaan mama.
"Mungkin terjadi kesalahpahaman antara mama dan papa sehingga membuat mereka berpisah, kita harus bisa berusaha menyatukan mereka supaya mereka tidak berpisah lagi," ucap Alex dengan pemikiran dewasa dan sikapnya yang dewasa mengerti apa yang dirasakan kedua orangtuanya.
"Tapi bagaimana, Kak, setidaknya kita temui ayah dulu, aku ingin melihatnya," ucap Axel dengan air matanya yang sudah keluar dengan deras dari pelupuk matanya.
Alex yang melihat itu mendekat ke arah Axel dan memeluk kembarannya itu yang sedang menangis.
"Okey, kita temui ayah dulu, tapi tidak sekarang, dan kau harus bisa menjaga rahasia ini dan tidak memberitahukan kepada mama ataupun paman," ucap Alex memberi pengertian kepada sang adik.
Axel menganggukan kepalanya dan menghapus sisa air matanya dengan tangan mungilnya.
Cabang perusahaan Al Zero
Jefri baru saja sampai di gedung pencakar langit, yang tidak lain adalah cabang perusahaan miliknya yang mana sekarang sudah berdiri kokoh.
Di negara ini tidak ada yang bisa menandingi kekuatan cabang perusahaan Al Zero group. Cabangnya saja sudah sekuat itu apalagi induk perusahaannya.
Jefri berjalan keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam gedung perusahaan dengan tatapan kosong dan aura dingin yang menyebar. Walau tidak sedingin dulu tetapi aura yang dimiliki Jefri saat ini masih mampu membuat orang-orang di dalam gedung itu gemetar ketakutan.
Semua petinggi perusahaan menunduk hormat saat Jefri melangkah masuk ke pintu perusahaan dengan sangat berwibawa, Jefri melangkah menuju lift.
"Apa yang kau lakukan! Kau membuat bajuku kotor, kau tau aku akan bertemu dengan CEO sekarang? Bagaimana aku bisa menemuinya dengan pakaian kotor seperti ini?!" Bentak seorang manajer perusahaan itu kepada wanita di depannya.
Wanita cantik dengan kulit putih mata sayu dan bulu matanya yang lentik, ditambah dengan bodynya yang sangat berisi terutama di bagian dada dan bokong.
Membuat lelaki yang melihatnya tidak akan bisa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Ma-maaf Nona, saya tidak sengaja," ucap Caroline dengan kepala yang tertunduk takut.
Ya, wanita itu tidak lain adalah Caroline, Caroline tidak sengaja menumpahkan kopi pada baju atasannya.
"Maaf, Nona saya tidak sengaja, saya akan mengganti pakaian Anda," ucap Caroline dengan kepalanya yang tertunduk ke bawah.
"Apa? Ganti rugi? Apa kau sanggup membayar harga baju ini? Baju ini 1 juta pound," ucap wanita itu, yang mana membuat Caroline tersedak air liurnya sendiri.
Jefri yang melihat pertengkaran itu, dan melihat orang yang selama ini di carinya ada di dalam gedung perusahaan miliknya tentu saja senang bukan main.
"Caroline …," gumam Jefri yang didengar oleh Miko.
Perlahan satu tetes air matanya jatuh membasahi pipinya. Ingin rasanya Jefri berlari dan memeluk Caroline tetapi Jefri harus menahan diri. Bagaimanapun ia tidak bisa merusak citranya sebagai orang yang berwibawa, dingin dan kejam.
Jefri berjalan ke arah Caroline dengan perlahan diikuti oleh Miko di belakangnya.
Wanita itu yang melihat Jefri berjalan ke arahnya tersenyum senang, mengira Jefri datang menghampirinya karena kecantikan yang ia miliki.
Wajah Jefri langsung merah padam saat melihat ada wanita yang menyentuhnya. Karena selama ini tidak pernah ada wanita yang menyentuhnya kecuali Caroline.
Brrrakkk
Jefri melempar tubuh wanita itu dengan kasar, sampai wanita itu berguling dan tangannya terkilir.
"Tuan, kenapa Anda melempar saya?" ucap wanita itu dengan wajah yang menahan sakit pada bagian tangannya.
"Siapa yang mengizinkan menyentuhku?!" Bentak Jefri dengan matanya yang menatap tajam ke arah wanita itu dan aura yang kembali lebih kuat seperti dulu.
Miko yang merasakan hal itu tersenyum lega. Miko sempat berpikir jika setelah ini Jefri tidak akan bisa tersenyum kembali. Karena hilangnya cinta yang sudah menggenggam hatinya.
"Tapi-"
__ADS_1
"Tapi apa? Hah! Selama ini yang boleh menyentuhku adalah wanitaku," ucap Jefri menarik tangan Caroline yang masih terpaku melihat kedatangan Jefri. Pria yang ia benci selama ini.
Semua orang yang ada di sana kaget. Mengetahui jika Caroline adalah wanita sang konglomerat. Siapa yang akan menyangka pegawai biasa hanya dengan body yang berisi bisa menjadi istri seorang Jefri.
Caroline memberontak saat masih dalam pelukan Jefri. Tetapi Jefri tidak melonggarkan pelukannya. Ia masih nyaman dengan posisinya seperti saat ini. "Bawa wanita itu keluar!" perintah Jefri dan wanita itu ditarik keluar oleh pengawal Jefri.
Bahkan teriakan memohon dari wanita itu tidak Jefri dengarkan. Jefri hanya menganggap suara itu adalah suara angin ribut.
Caroline masih terpaku melihat kedua pengawal Jefri yang menarik wanita itu dengan kasar sampai membuat badanya merasa merinding.
"Aarrrggghh …,"
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" teriak Caroline tetapi Jefri tidak mendengarkannya. Telinganya seakan tuli saat itu juga.
Jefri dengan langkah lebarnya membawa Caroline masuk ke dalam lift, dan masuk ke dalam ruangannya begitu sampai di lantai yang ditujunya.
"Apa yang kau lakukan, bre**sek," bentak Caroline yang mana kakinya sudah menyentuh lantai, dengan wajahnya yang sudah merah karena marah.
Tanpa memperdulikan umpatan dan makian Caroline, Jefri langsung memeluk Caroline menempelkan bibirnya seluruh bagian wajah Caroline dan juga tangannya yang menahan bokong Carolin.
Caroline yang mendapat perlakuan seperti itu langsung saja memberontak. Tetapi belitan Jefri sangat kuat sampai-sampai membuat Caroline tidak kuat untuk menahannya.
"Sayang … maafkan perilakuku di masa lalu, aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik, aku mohon kembalilah kepadaku," ucal Jefri memohon.
Tetapi Caroline masih menatapnya dengan wajah datar tak bergeming. Sudah bertahun-tahun lamanya hati Caroline terluka dan saat ini luka itu sudah akan menutup tetapi kembali Jefri membukanya lagi.
"Tidak, aku tidak bisa memaafkanmu, perilakumu itu sudah sangat kejam dan kurang ajar! Kau tau bagaimana sulit ya aku mempertahankan keperawanan ku untuk suamiku? Dan saat itu kau mengambilnya dengan begitu saja tanpa persetujuan dariku," ucap Caroline dengan air mata yang sudah tergenang di pelupuk matanya.
"Aku tau aku salah, sayang … aku mohon, maafkan aku, kau bisa menghukumku dengan cara apa pun tetapi tolong jangan tinggalkan aku lagi. Aku sudah susah payah mencarimu, dan akhirnya aku menemukanmu aku tidak tau harus bagaimana jika kau pergi aku mohon sayang," ucap Jefri memohon.
Baru kali ini seorang Jefri memohon kepada seseorang. Sebelumnya ia tidak pernah menundukan kepalanya kepada orang lain.
__ADS_1