Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 9. Aku tidak mungkin cemburu.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Gedung Alexa Group.


Zelea hari ini menggunakan kemeja motif bunga di padu dengan rok sepan panjang selutut. Bibirnya tersenyum saat melihat pantulan dirinya di depan cermin, saat ini Zelea berada di kamar mandi yang ada di Alexa Group. Di sana sedang memperbaiki penampilannya.


Menggerakkannya wajahnya ke kiri dan ke kanan, Zelea memuji kecantikannya sekarang.


Aku tidak menyangka akan bisa berubah secantik ini, aku yakin Retno pasti tidak mengenali aku, batin Zelea tersenyum bahagia.


Zelea kemudian keluar dari sana setelah merasa cukup memperbaiki penampilannya, sembari berjalan menuju ruang kerjanya, Zelea mengirim pesan ke Retno.


Saat ini sudah pukul siang hari, dan Zelea berniat siang hari ini mau bertemu Retno, setelah masuk ke ruang kerjanya yang pertama Zelea cari adalah Radit.


Sebelum ia pergi harus berpamitan lebih dulu dengan pria itu. Namun ternyata Radit tidak sedang di ruangannya.


Dimana dia? Batin Zelea seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari Radit.


Karena Radit tidak ada, Zelea milih duduk di tempat kerjanya, mengerjakan pekerjaannya sembari menunggu Radit datang.


Zelea mendengar suara pintu di buka, di lihatnya adalah Radit yang masuk, baru saja Zelea membuka map ternyata pria itu sudah kembali.


"Ze, kamu sudah kembali. Mau makan siang bareng?" Radit berjalan menuju tempat Zelea bekerja.


Zelea berdiri dari duduknya dan tersenyum.


Bagaimana ini? Aku kan mau makan siang bareng Retno, hah kita kan memang selalu makan siang bersama, aku rasa kali ini menolak tidak akan membuat Tuan Radit kecewa, batin Zelea gamang.


"Hei, kenapa kamu malah diam?"


Mendengar pertanyaan dua kali dari Radit, Zelea tersenyum. Baru saja dirinya malah melamun.


"Em, Mas saya boleh minta ijin makan siang bareng teman saya, Retno namanya."


Hahah!


Zelea bingung saat malah tawa Radit yang ia dapat.


Apa ada yang salah dengan kalimatku? Mengapa dia tertawa, batin Zelea.


"Ze ... Mengapa kamu gugup seperti itu cuma mau minta ijin makan siang bareng teman, pergilah aku ijinkan," ucap Radit, Zelea masih mendengar gelak tawanya.

__ADS_1


Zelea tersenyum. "Terimakasih Mas."


Radit melenggang pergi, namun Zelea masih sedikit mendengar tawa pria itu di balik punggung tegapnya yang berjalan semakin menjauh.


Zelea segera bersiap untuk pergi makan siang bersama Retno. tidak butuh waktu lama Zelea segera pergi meninggalkan perusahaan tersebut.


*


*


Seorang wanita cantik berambut merah, yang sepertinya baru diwarnai, karena kemarin rambut wanita itu masih bewarna hitam. Gadis itu adalah Retno. Matanya sedang mencari seseorang yang saat ini katanya sedang menunggunya di restoran tersebut.


Zelea yang duduk di ujung sana, langsung melambaikan tangan ke arah Retno, setelah melihat kedatangan gadis itu.


Dari jarak yang rumayan jauh, Retno melihat gadis yang melambaikan tangan ke arahnya, namun tidak mengenali wanita itu, tapi Retno tetap mendekati ke arahnya.


"Aku sudah menunggumu sejak tadi, tapi kau lama sekali."


Deg! Retno membeku mendengar suara itu, ia begitu mengenali suara itu, tapi pemilik suaranya begitu beda dengan orang yang Retno kenal.


Seperti suara Zelea? batin Retno, dan matanya semakin menatap wanita di depannya itu, dan setelah di cermati dia adalah Zelea yang saat ini berubah penampilan.


"Amazing! Kau begitu cantik." Retno menggelengkan kepalanya hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Mereka berdua lanjut makan siang bersama, dan setelah makan siang selesai Zelea mengatakan sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Retno sampai mengajak gadis itu makan siang bersama.


Zelea menatap intens ke arah Retno. "Bantu aku untuk memikat Nofal."


"Bantuan yang seperti apa? Karena menurut aku kau sudah cantik dan tubuhmu saat ini nampak seksi."


Zelea menghela nafas berat, apa yang dikatakan Retno memang benar, tapi entah kenapa Zelea ingin melakukan lebih, pokoknya kalau bisa saat dendamnya terbalaskan Nofal akan hancur sehancur-hancurnya.


"Aku tidak miliki waktu lama, karena aku bosan berakting seperti ini," ucap Zelea. Matanya memancarkan aura dingin.


"Aku begitu mengenal Nofal, pancing dia dengan cara kau bermanja dengan Radit di depan matanya, aku yakin jiwa casavano nya akan bangkit. Percayalah."


Zelea merenungkan apa yang Retno bicarakan barusan, seperti mendapat pencerahan, dan Zelea akan mencoba malam ini. Untuk membuat Nofal cemburu.


Hah aku sudah berkorban sejauh ini dan aku tidak mau gagal, setelah aku berhasil membuat Nofal takluk padaku, rasanya sudah tidak sabar membuat pria itu akan hidup tidak berdaya. Hah aku menantikan hari itu tiba, batin Zelea tersenyum miring.


Zelea melihat jam tangannya, waktu jam makan siang sudah habis, ia harus segera kembali ke kantor.

__ADS_1


Siang itu mereka berdua kembali terpisah, Retno juga harus kembali ke tempat kerjanya.


Setelah sampai di kantor, Zelea segera menyelesaikan pekerjaannya, pikirannya sudah tidak sabar menunggu waktu malam untuk melakukan rencananya.


Setelah sore hari tiba dan jam kantor selesai, seperti biasa Zelea dan Radit pulang bersama.


*


*


Malam hari.


Sehabis mandi tadi, Zelea sengaja mengunakan baju rumahan yang bagian dadanya rendah, Radit yang melihat pakaian yang di pakai Zelea tidak mempermasalahkan, karena tadi Zelea beralasan gerah.


Saat ini mereka sama-sama turun ke lantai satu menuju ruang makan untuk makan malam bersama.


Sampai di sana, sudah ada Nofal di ruangan tersebut, pria itu sedang minum kopi hangat.


Saat melihat siapa yang datang, mata Nofal terkunci melihat wanita yang datang bersama ayahnya.


Malam ini di mata Nofal Zelea terlihat sangat cantik dan makin seksi menggunakan pakaian seperti itu.


Sampai Zelea duduk di kursi, mata Nofal terus menatap gadis itu.


Zelea yang dilihatin tidak peduli, dan sekarang akan melakukan perannya untuk memanas-manasi Nofal dengan memperhatikan Radit.


Saat Radit mau mengambil nasi, Zelea menahan. Dan setiap gerakan Zelea yang melayani Radit terus Nofal perhatikan.


Sampai gadis itu menyuapi Radit karena alasan ingin Radit mencicipi makanan di piringnya.


Tangan Nofal terkepal di bawah meja.


Cih mereka berdua lagi-lagi pamer kemesraan, batin Nofal membuang muka.


Ingin tidak peduli tapi hati kecilnya tidak terima, melihat Zelea perhatian pada pria lain.


Alhasil Nofal segera menyelesaikan makan malamnya dan pergi dari sana lebih dulu.


Zelea tersenyum penuh kemenangan, tadi ia bukan tidak lihat wajah kesal Nofal, tapi memang pura-pura tidak melihat.


Dengan tersenyum Zelea lanjut makan malam bersama Radit.

__ADS_1


Sementara itu yang saat ini berada di dalam kamar, langsung melempar bantal ke lantai, rasa aneh yang Nofal rasakan saat ini, pria itu kesal dengan dirinya sendiri.


"Tidak ... Aku tidak mungkin cemburu!" berteriak keras seraya menjambak rambutnya sendiri frustasi.


__ADS_2