
Enam bulan kemudian.
Di sebuah rumah sakit, seorang pasangan muda sedang memasuki ruang dokter kandungan, untuk memeriksakan kehamilannya, yang rutin ia lakukan setiap satu bulan sekali.
"Silahkan masuk, Nyonya Zelea dan Tuan Zeon," sapaan dokter cantik bernama Karmila dengan ramah.
"Wah ... Pasti ingin ketemu sama adeknya ya?" ucap dokter Karmila lagi, "Mari Nyonya berbaring di sini." Dokter Karmila membantu Zelea berbaring di ranjang pasien.
"Terimakasih, Dokter," ucap Zelea tersenyum.
"Sama-sama," ucap dokter Karmila dengan suara lembutnya.
Dengan di bantu salah satu susternya, Dokter Karmila mulai memeriksa Zelea.
Semua bagus, tekanan darah juga bagus, bayi dan ibunya sehat.
"Semua bagus ya, Tuan ... Nyonya," ucap Dokter Karmila menyampaikan hasil pemeriksaannya.
Zeon berdiri di samping Zelea, menggenggam tangan Zelea, tersenyum penuh kelegaan saat mendengar penjelasan dokter Karmila.
"Sekarang kita sapa adek dulu ya?" Dokter Karmila ambil posisi duduk di depan layar USG.
Suster yang membantu dokter Karmila mengolesi gel di perut Zelea, kemudian meletakkan alat di atas perut Zelea.
"Ayo kita sapa bersama," ucap dokter Karmila," halo adek ... Ini ada Mommy dan Daddy."
Zelea dan Zeon tersenyum bahagia melihat bayinya di layar USG.
"Sekarang aku sudah besar Mommy ... Aku sudah bisa gerakin kaki dan tangan juga menyesap ibu jari," ucap dokter Karmila menirukan gaya bicara anak kecil.
Zeon dan Zelea tertawa, karena terdengar lucu dan gemas, jadi ingin segera mendengar suara anak kecil yang sungguhan.
"Wah ... Adek pindah posisi nih, senang ya, bertemu Mommy dan Daddy," seloroh dokter Karmila.
Dokter Karmila menatap Zeon dan Zelea bergantian. "Bayinya sehat ya, Tuan. Nyonya ... Posisinya juga bagus, adek juga sangat aktif."
"Iya dokter, adek sering nendang-nendang perut," ucap Zelea ikut menimpali.
"Gak apa-apa? Itu bagus, Nyonya," jawab dokter Karmila menenangkan,"Tidak ada yang perlu di khawatirkan ya, Tuan. Nyonya sampai bertemu bulan depan."
"Kita sapa lagi yuk adeknya sebelum pamit," ucap dokter Karmila, "Halo adek, Daddy sama Mommy pulang dulu ya? Sampai bertemu lagi, Adek?" dokter Karmila melambaikan tangan, Zeon dan Zelea juga ikutan melambaikan tangan.
Setelah selesai pemeriksaan, Zeon dan Zelea menuju kasir, untuk menebus obat dan vitamin untuk Zelea.
"Setelah ini mau kemana? Mau jalan-jalan atau langsung pulang?" tanya Zeon seraya merengkuh pinggang Zelea.
"Langsung pulang," jawab Zelea, semakin erat memeluk erat pinggang Zeon.
"Ini, Tuan. Obat dan vitaminnya," ucap suster seraya memberikan kantung plastik berisi obat dan vitamin Zelea.
__ADS_1
Setelah dari sana, mereka berdua langsung berjalan menuju parkiran mobil.
Cit. Cit.
Suara remote mobil untuk membuka pintu mobil, Zeon membantu Zelea untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu. Kemudian di susul Zeon masuk lewat pintu sebelah.
Zeon melihat Zelea memasang sabuk pengaman, setelah sudah siap Zeon menjalankan mobilnya menuju mansion.
Zelea menoleh ke arah Zeon yang sedang mengemudikan mobilnya. "Sayang, kenapa kamu tidak ingin tahu jenis kelaminnya sekarang?"
"Karena?" Zeon menoleh menatap Zelea. "Supaya nanti spesial." Zeon fokus ke depan lagi.
Zelea manggut-manggut. "Memangnya kalau sekarang gak spesial?"
"Gak suprise aja," jawab Zeon, menyalip mobil di depannya. "Mau laki-laki atau perempuan aku terima kok" lanjut ucapnya, mobil berhenti sebentar membayar E-toll. Kemudian melaju kembali.
Zeon menoleh ke arah Zelea lagi. "Jangan khawatir aku mencintaimu dan dia." Tangan Zeon mengusap perut buncit Zelea.
Zelea tersenyum bahagia ke arah Zeon.
Mobil terus melaju sampai tiba di mansion.
Zeon membukakan pintu mobil untuk Zelea, kemudian berjalan bersama-sama menuju pintu masuk.
Baru saja melangkah masuk ke dalam mansion, Zelea mendengar namanya di panggil pelayan pribadinya.
Cika berjalan tergesa-gesa ke arah Zelea. "Nyonya ... Nyonya ..." Nafas Cika terengah-engah.
"Itu ... Itu ada makanan dari tetangga," ucap Cika penuh kelegaan saat menyampaikan.
Hah, Zeon dan Zelea pikir ada apa?
"Iya nanti aku makan, sekarang aku masih kenyang," jawab Zelea. Kemudian berjalan meninggalkan Cika, menuju kamar bersama Zeon yang merengkuh pundaknya.
Nyonya dan Tuan selalu mesra, ingin sekali aku di sisain satu orang saja yang seperti Tuan Zeon yang perhatian, batin Cika seraya menepuk-nepuk pipinya.
"Huh, Cika jangan menghayal," ucapnya pada diri sendiri.
Cika berbalik mau menyelesaikan pekerjaannya, namun terkejut saat melihat Udin tiba-tiba berdiri di depannya.
"Astaga, Udin! kamu ngagetin aku!" maki Cika kesal sembari memegangi dadanya. Mata Cika bahkan sampai melototi Udin.
Tapi Udin hanya tersenyum simpul, tidak marah sama sekali mendapat makian Cika.
"Huh!" Cika membuang nafas berat, dan berjalan pergi begitu saja.
Udin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Cika.
Di mansion ini pekerjaan Udin sebagai tukang kebun.
__ADS_1
Cika berjalan tergesa-gesa sampai menabrak pelayan yang lain.
"Cika!"
"Eh, sorry." Cika menunjukan wajah menyesal.
Udin tersenyum lagi mendengar keributan tersebut, kemudian berjalan pergi dari sana.
"Eh, tuh si Udin senyum-senyum lihatin kamu," ucap pelayan yang Cika tabrak, ternyata sempat melihat Udin tersenyum.
"Ih, apa an sih gak lah ya?" Cika mengelak, lagian saat Cika menoleh Udin sudah pergi jadi memang tidak melihat Udin tersenyum.
"Hei! Kalian ngapain di sini! Buruan kerja-kerja," suara Bi Jum memarahi mereka berdua.
Sementara itu di dalam kamar.
Zelea hanya sendirian, menonton televisi ia merasa bosan, ahirnya menyusul Zeon di ruang kerjanya.
Zeon saat ini sedang menyelesaikan banyak kerjaan, saat pintu terbuka dan menampakkan sosok cantik bidadarinya, Zeon tersenyum.
Zelea berjalan lenggak-lenggok sengaja menggoda Zeon. "Sayang, masih sibuk ya?" sapaannya penuh menggoda.
Hem.
Jawab Zeon hanya melihat Zelea sekilas kemudian fokus lagi di depan layar laptop.
Seperti biasa Zelea datang dan langsung meminta duduk di pangkuan Zeon.
Tapi Zeon sabar banget, menghadapi Zelea, tidak ia usir supaya duduk sendiri, dibiarkan saja Zelea duduk di pangkuannya, meski sedikit mengganggu pekerjaannya.
"Kenapa grafisnya turun, Sayang?" tanya Zelea saat melihat layar laptop.
Hem.
"Apa perusahaan ada masalah?" tanya Zelea lagi, jadi penasaran.
Hem.
Zeon menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuh Zelea.
"Mau aku bantu, Sayang?"
"Jangan, aku bisa," jawab cepat Zeon.
"Kan, dari pada aku diam saja." Kekeh Zelea.
"Aku bisa," jawab Zeon dengan suara malas, karena matanya masih fokus dengan laptopnya.
"Aku mau bangkit, Yang?"
__ADS_1
Zeon membiarkan Zelea berdiri, wanita itu kini berjalan melihat keseluruh ruangan tersebut, meski di ruangan ini tidak ada gambar atau pemandangan indah, tapi Zelea merasa bahagia berada di ruangan ini, mungkin karena bersama Zeon.