Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 50. Merindukan omlet telur buatan Zelea.


__ADS_3

Aroma harum omlet telur yang baru saja selesai di masak, menguar keseluruh ruang dapur.


Karena akan tinggal lebih lama, Zeon memilih menyewa apartemen, selain tempatnya lebih besar, juga lebih nyaman.


Zeon memindahkan omlet telur yang sudah matang ke dalam piring, kemudian ia bawa ke meja makan.


Di meja makan juga sudah ada beberapa roti yang tadi Zeon beli.


Zeon mendudukkan diri di kursi siap untuk makan malam.


Omlet telur yang berukuran besar selebar sepiring penuh, Zeon potong menjadi empat bagian.


Zeon ambil satu bagian dan mulai menyantapnya.


Setelah potongan kecil omlet telur berhasil masuk ke dalam mulutnya, Zeon mengunyahnya dengan perlahan.


Namun tiba-tiba air matanya menetes, karena saat ini teringat Zelea, wanita yang dicintainya, dahulu sering masak omlet telur untuk dimakan bersama.


Zeon berhasil menghabiskan satu kunyahan pertama, dengan perasaan tidak menentu dan kembali menyuap lagi.


"Sungguh, aku merindukan masakan omlet buatan kamu," gumamnya sembari mengunyah. Namun hati tidak bisa bohong bahwa saat ini benar-benar merasa sedih.


Zelea nya dekat tapi terasa jauh, dan sulit dijangkau karena lupa dengannya.


"Aku juga merindukanmu." Zelea tersenyum duduk di kursi dalam meja makan yang sama dengan Zeon.


"Zelea, kamu ada di sini?" Zeon terkejut namun bibirnya tersenyum karena bahagia melihat Zelea ada di depannya.


"Sejak kapan kamu masuk?" tanyanya lagi penuh rasa ingin tahu, tapi bersamaan itu merasakan pukulan keras di bahu juga suara orang yang tidak asing.


"Tuan, Tuan!" Galang begitu keras memanggilnya.


Zeon menoleh menatap Galang yang berdiri di sampingnya. "Galang kamu." Zeon menatap ke depannya lagi."Kemana Zelea." Zeon mengucek matanya dan kembali melihat ke depannya.


Zeon menghela nafas berat, setelah menyadari ternyata dirinya tadi hanya halusinasi melihat Zelea ada di sini.


"Apa Tuan baik-baik saja?" Galang kembali memberikan pertanyaan, karena begitu khawatir dengan keadaan Zeon, hingga sampai berhalusinasi.


"Aku baik-baik saja," jawab Zeon yakin. "Kamu sudah makan belum? Jika belum temani aku makan." Zeon menatap Galang.


"Kebetulan saya belum makan, Tuan. Baiklah akan saya temani." Galang menarik kursi di sebelahnya, kemudian ikut makan seperti dirinya.


Setelah makan selesai, mereka berdua berpindah duduk di ruang tamu sembari nonton televisi.


Zeon memainkan remote tv mengganti Chanel tv sedari tadi, tidak ada yang cocok dimatanya.

__ADS_1


Ahirnya Zeon bosan dan memilih kembali mematikan televisi tersebut.


Zeon membuang nafas berat seraya menyandarkan punggungnya di kursi. "Kemarin aku sudah mengetahui tempat tinggalnya." Zeon menatap langit-langit ruangan.


Galang yang tadi sedang memainkan ponsel kini langsung menghentikan kegiatannya dan mendengarkan cerita Zeon.


"Bagian hatiku senang saat aku mengetahui kenyataan bahwa dia hidup tidak dalam kekurangan di negri orang." Zeon kembali menarik nafas panjang. Kemudian nada suaranya berubah begitu melemah, "Tapi bagian hatiku yang lain sedih karena dia lupa denganku."


Galang hanya menjadi pendengar yang setia, benar-benar tidak tahu harus membantu apa?


"Tapi setidaknya aku sudah tahu tempat tinggalnya sekarang, jadi aku bisa mengawasinya," lanjut ucap Zeon.


Galang hanya mengangguk, dan siap mendengar cerita selanjutnya dari Zeon.


Namun tiba-tiba bunyi ponsel Zeon berdering, Zeon menerima panggilan telepon tersebut. Kerena nama di layar ponsel sudah jelas yaitu Nofal.


"Kapan pulang sudah hampir mau satu bulan di sana, katanya cuma satu Minggu tapi malah lengket di sana," ucapan gerutu Nofal di sambungan telepon.


Zeon menanggapi omelan Nofal dengan santai. "Masih ada hal penting yang harus aku selesaikan di sini."


"Hal penting apa an sih sampai gak pulang-pulang," gerutu Nofal kembali.


Zeon terkekeh mendengarnya. "Aku menemukan dia."


"Dia! maksud kamu!" Di sambungan telepon sana Nofal begitu terkejut. "Zelea," lanjut ucapnya.


"Benar-benar keajaiban, kan. Karena sebelumnya sudah mencari kemana pun dan ternyata ada di sini," lanjut ucap Zeon seraya menggelengkan kepala.


"Terus sekarang kalian sudah bersama, kan?" Nofal lebih penasaran hingga membuatnya untuk segera bertanya.


Zeon menggelengkan kepala. "Belum."


"Kenapa? Kalian sudah di negara yang sama, apa masalahnya." Nofal di sana makin merasa bingung.


"Dia sedang amnesia jadi tidak bisa mengingat aku."


"Apa! Amnesia." Rasa bingung Nofal berganti terkejut. "Dia habis kecelakaan?" tanyanya dengan suara terdengar sedih.


"Ya."


Nofal menghela nafas panjang.


"Sesudah dia bertunangan dengan Rendi," lanjut ucap Zeon.


Nofal di sana ambil ambruk ke lantai mendengar kalimat yang barusan Zeon sampaikan, apa bila tidak ada asistennya yang menahan tubuh Nofal.

__ADS_1


"Kamu becanda Zeon!" suara Nofal terdengar tidak percaya.


"Ini sungguh, aku tidak bohong."


"Itulah sebabnya aku belum bisa pulang." Zeon berhenti bicara, ambil nafas sebentar. "Aku mau pulang juga harus membawa dia."


"Aku setuju." Kali ini suara Nofal terdengar begitu semangat, dan mendukung rencana Zeon.


"Doakan aku berhasil," ucap Zeon lagi.


"Pasti." Nofal menghentikan ucapannya ia sedang tampak berpikir. "Apa mau aku bantu?" tawarnya.


"Tidak perlu, sudah cukup aku melakukannya dengan Galang."


"Baiklah, semoga berhasil," ucap Nofal.


Setelah obrolan yang cukup panjang bersama Nofal melalui sambungan telepon, kini Zeon masuk di dalam kamarnya.


Di apartemen ini ada dua kamar, Galang menempati kamar yang satunya lagi.


Jiwanya yang memang lelah malam ini, hingga membuat matanya mudah terlelap. Dan tidak perlu lama sudah masuk ke alam mimpi.


Zeon sedang duduk di pinggiran danau, tempat ini sangat indah dan penuh kedamaian.


Zeon sedang memandang lurus ke depan, tiba-tiba ada yang memegang pundaknya, Zeon menoleh ternyata Zelea tengah berdiri di belakangnya.


Zeon hendak berdiri untuk menatap Zelea, namun Zelea lebih dulu berlari dan sesekali menoleh ke arahnya dengan tersenyum manis.


"Zelea tunggu kau mau kemana!" teriak Zeon, dan seketika mengejar langkah kaki Zelea yang Semaki berlari menjauh.


"Zelea jangan lari-lari, ini di rerumputan nanti kamu bisa jatuh!" teriak Zeon lagi, sembari terus berlari untuk bisa menjangkau tangan Zelea.


Mata Zeon sempat melihat Zelea berhenti berlari dan berdiri seraya menatap kearahnya dengan tersenyum di tengah-tengah kabut putih.


Namun saat Zeon ingin mendekat, sosok Zelea menghilang. membuat Zeon kebingungan.


"Zelea ... Zelea!" teriaknya namun Zelea tidak kembali lagi.


"Zelea! Zelea! Zelea ..." Zeon berteriak kencang seraya duduk di ranjang.


Nafas Zeon terengah-engah, seperti orang sehabis lomba lari, keringat dingin membasahi tubuhnya, padahal suhu AC sangat dingin di kamarnya.


Zeon mengusap wajahnya, masih berusaha menetralkan nafasnya untuk kembali normal.


"Ternyata aku cuma mimpi ... Ternyata aku cuma mimpi," ucapnya berulang kali.

__ADS_1


"Zelea, aku sangat mengkhawatirkan kamu." Zeon merasakan ketakutan. Khawatir terjadi hal buruk sama Zelea.


__ADS_2