Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 42. Butuh bahagia.


__ADS_3

TIGA TAHUN KEMUDIAN.


Setiap kali melihat air hujan, selalu mengingatkan kejadian dimalam perpisahan terakhirnya dengan Zelea.


Selama ini sudah berusaha bahkan saat ini masih terus mencari keberadaan Zelea, tapi belum juga ia temukan.


Laki-laki yang terlihat tegas dan ditakuti banyak orang di luarnya itu, ternyata setiap malam selalu menangis merasa rindu juga merasa cemas dengan keadaan wanita yang dicintainya di kejauhan sana.


"Zelea Anggraini aku merindukanmu."


"Maksudnya apa ya? Kenapa Zelea Angraeni yang kamu ucapkan, sedangkan nama saya Riska Herlino," ucap wanita cantik yang duduk di depan Zeon saat ini.


Malam ini Zeon sedang berada di restoran makan malam bersama wanita yang dijodohkan dengannya. Putri teman kolega bisnis Radit.


Dengan santainya Zeon menjawab, tanpa merubah ekspresinya yang datar. "Dia wanita yang aku cintai, dan sebelum hubungan ini lanjut ke pernikahan aku mau memberitahumu bahwa sampai kapan pun aku tidak akan mencintaimu."


Deg! Riska mengepalkan tangannya di bawah meja.


Kalau aja aku tidak menyukai pria ini aku juga tidak sudi dijodohkan denganmu! Paras tampanmu rasanya sayang untuk di tolak, batin Riska.


"Lalu kenapa kau mau menerima perjodohan ini?" Riska ingin tahu lebih dalam alasan Zeon.


Zeon tidak langsung menjawab, ia meminum jus lebih dulu, setelah gelas diletakkan kembali di atas meja, ia tersenyum miring ke arah Riska. "Kalau aku menolak memang ayah kamu masih mau membantu perusahaan Daddy aku?"


"Tidak, kan?"


"Tidak ada pilihan," lanjut ucap Zeon.


Riska terdiam tidak bisa melontarkan pertanyaan lagi pada Zeon, karena tanpa Zeon ketahui ini adalah salah satu permintaannya pada ayahnya, karena ingin menikah dengan Zeon.


"Belum menemukan sih, siapa orang yang berani main-main dengan perusahaan aku ... Ada penyusup yang menghancurkan dari dalam." Zeon menghela nafas panjang, wajahnya terlihat begitu banyak beban.


"Tapi aku terus akan mencari dan setelah ketemu tidak akan aku kasih maaf."


Deg!


Ucapan Zeon barusan bagai sebuah ancaman bagi Riska, demi menutupi rasa gugup wanita itu tersenyum manis.


Dan setelahnya tidak ada yang bicara lagi, mereka berdua hanya menghabiskan makan malam, kemudian setelahnya pulang ke rumah masing-masing.


*


*


*


Brakk!

__ADS_1


"Ayah ...."


Bersamaan terbanting nya suara pintu yang begitu keras, suara Riska terdengar melengking memanggil ayahnya.


Sampainya di ruang tengah tidak ada sosok pria yang ia cari, Riska kembali melangkah menuju ruang kerja ayahnya.


Dan lagi-lagi membuka pintu dengan kasar.


Ayah Riska langsung menatap ke arah pintu setelah Riska buka.


"Ada apa Riska?" suara ayahnya terdengar melembut.


Tapi tidak bisa menghilangkan rasa amarah dalam hati Riska, ia begitu kecewa setelah mendengar ucapan Zeon yang tidak bisa mencintainya, dan ditambah saat pulang Zeon tidak mau mengantar, membuat Riska harus pulang menggunakan taksi.


Dan hal itu membuat Riska berkali-kali merasa marah.


"Riska ... Ada apa? Baru pulang bertemu calon suami kok malah murung wajahnya." Ayahnya berjalan mendekati Riska yang masih berdiri mematung di ambang pintu.


"Ada apa ayo katakan," ucap ayahnya lagi kini sudah berdiri di depan Riska.


"Ayah!" Riska malah menangis terisak dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Duduk di sofa kita bicara baik-baik." Ayahnya menarik tangan Riska, namun belum sempat berjalan menuju sofa, suara protes Riska lebih dulu ayahnya dengar.


"Zeon jahat dia bilang tidak bisa mencintai aku karena sudah ada wanita yang dia cintai!"


"Apa aku kurang cantik sampai Zeon tega bicara seperti itu padaku Ayah!"


Riska bicara berapi-api setiap kalimat yang ia ucapkan.


Ayahnya menggeleng dan langsung memeluk Riska. "Riska putri Ayah yang cantik, Riska pantas untuk dicintai, Riska jangan bicara seperti ini."


"Zeon jahat Ayah ... Zeon jahat," gumam Riska dalam Isak tangisnya masih dalam pelukan ayahnya.


"Tenanglah ... Tenanglah Riska." Ayahnya mengusap punggung Riska.


"Nanti Ayah akan bicara dengan Tuan Radit, jadi kamu harus tenang. Pasti semua akan baik-baik saja." Sekarang ayahnya merasa punggung Riska mulai tenang tidak bergetar seperti tadi saat masih menangis.


"Ayah janji ya bisa bantuin Riska," ucapnya setelah melepas pelukannya, dan menatap wajah ayahnya.


"Ayah usahakan," ucap ayahnya dengan yakin.


Riska tersenyum dan kembali memeluk ayahnya. "Makasih Ayah."


Ayahnya tersenyum lega ahirnya Riska bisa kembali tenang.


Apa pun akan aku lakukan demi putriku bahagia, batin ayahnya Riska.

__ADS_1


Setelah berhasil mendapat dukungan dari ayahnya, Riska masuk ke dalam kamar untuk istirahat malam.


*


*


*


Dengan rasa malas Zeon mendatangi ruang kerja ayahnya, baru saja Radit menelpon Zeon untuk menemuinya.


Mulai sejak kepergian Zelea, Zeon tidak lagi tinggal di mansion, pria itu selama tiga tahun ini tinggal sendiri di Apartemen.


Jadi jika tidak di Perusahaan, Zeon tidak akan bertemu dengan Radit, dan pagi ini baru saja Zeon tiba di ruang kerjanya, sudah diminta untuk menghadap ayahnya.


Setelah membuka pintu, Zeon masuk begitu saja tidak mengucapkan selamat pagi pada ayahnya.


Mungkin karena rasa kecewa terhadap ayahnya, membuat Zeon tidak punya sopan santun lagi. Malas? begitulah yang Zeon rasakan.


Ditambah ayahnya berusaha menjodohkan Zeon dengan wanita yang tidak dicintai. Makin bertambah lah rasa kecewa Zeon pada ayahnya.


"Duduk!" titah Radit dengan tegas.


Zeon menurut dan langsung duduk di kursi sofa panjang. Melihat raut wajah ayahnya yang muram tidak bersahabat sama sekali, Zeon sudah bisa menebak bahwa ayahnya saat ini sedang marah padanya, tapi tidak tahu apa kesalahannya.


"Kamu tahu alasan Daddy meminta kamu datang kemari!" suara Radit masih terdengar tegas.


"Tidak tahu," jawab cepat Zeon.


"Tuan Herlino menelpon Daddy dan mengatakan bahwa kamu bilang ke Riska bahwa tidak bisa mencintai Riska!"


"Apa kamu tidak mikir dengan ucapan kamu itu!"


"Apa kamu mau membuat perusahaan ini gulung tikar hanya karena ulahmu itu!" bentak Radit yang sudah tidak bisa mengontrol emosi lagi.


"Jangan lupa, Dad. Aku juga masih butuh bahagia," jawab Zeon seraya berlalu dari ruang kerjanya, meninggalkan Radit yang semakin marah.


"Zeon apa yang kamu ucapkan!" teriak Radit, namun Zeon sudah hilang dibalik pintu.


Zeon terus berjalan tidak mau mendengar ucapan ayahnya yang menurutnya tidak bermutu.


Dan hari ini Zeon mutusin untuk pergi dari perusahaan, karena mood kerjanya sudah hilang begitu mendengar ocehan ayahnya.


"Ah! wanita itu lagi ... Wanita itu lagi! Daddy benar-benar tidak memikirkan perasaan aku!" Zeon memukul setir mobil melampiaskan rasa amarahnya.


Dan selanjutnya Zeon langsung menjalankan mobil dan membawa mobil begitu ugal-ugalan di jalan raya.


Hatinya sudah mati begitu juga dengan hidupnya setelah kepergian Zelea, dan belum bisa menemukan wanita itu.

__ADS_1


Zeon merasa tidak ada guna hidup seperti ini, dan makin membuat pria itu tidak peduli dengan nyawanya saat mengemudi di jalan raya.


__ADS_2