
Setelah sarapan pagi, dan semua orang sudah berangkat kerja, Zelea kembali masuk ke dalam kamar.
Mulai hari ini sudah tidak bekerja lagi di Alexa Group.
Kamar yang selama tiga bulan ini menjadi tempat ternyaman nya saat istirahat, karena sebelumnya hanya anak kost mendadak menjadi Nyonya.
Tapi, semua ini harus berakhir. Kenyamanan yang ia dapat harus segera dilepaskan. Mendadak matanya menjadi panas yang kini sudah menggenang air.
Zelea diam terpaku setelah membuka pintu, matanya mengedar keseluruh ruangan yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.
Zelea tersenyum getir dengan perlahan membawa langkah kakinya menuju ranjang, duduk pinggir ranjang dengan kepala menunduk.
"Mas Radit terlalu baik, aku tidak tega menyakitinya lebih dari ini ... Tidak aku tidak tega." Zelea menggelengkan kepalanya, air matanya sudah jatuh menetesi seprai.
Dan ahirnya membuat Zelea menangis tersedu-sedu untuk beberapa saat.
Dan entah di menit ke berapa Zelea kembali bergumam diiringi Isak tangisnya. "Perasaan ini harusnya tidak boleh ada," ucapannya tercekat di tenggorokan, tangisnya makin pilu tak mampu Zelea lanjutkan berkata.
Dan setelah lebih tenang, Zelea membawa tubuhnya berbaring di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamar.
Dengan pandangan yang seolah mampu menerobos kejadian hari kemarin, mengingat kembali kejadian-kejadian yang udah lalu.
Saat hari Zelea ingin kabur, namun malah gagal karena datangnya seseorang yang tidak Zelea kenal, dan orang itu menahannya sampai Zelea masih bertahan sampai saat ini di mansion.
"Zeon," gumamnya lirih.
Masih terus mengingat kejadian, semenjak hari itu selalu saja dikerjain dan selalu saja mendapat ancaman dari orang yang baru datang itu.
Ikuti mauku atau aku akan katakan semua rahasiamu ke Daddy.
Tiap kali orang itu mengatakan kalimat tersebut, ketakutannya selalu kembali datang, tidak sempat berpikir dari mana orang itu tahu rahasianya.
Dan sejak itu Zelea merasa menjadi orang bodoh, yang selalu nurut apa pun perintah orang itu.
Kesal? Tentu saja iya, tapi entah kenapa hatinya merasa bahagia tiap kali didekat orang itu.
__ADS_1
Sungguh aneh bukan? Bahkan Zelea juga menyadari keanehan itu, dan selalu menutupinya dengan ucapan kasar yang suka membantah yang diucapkan orang itu.
Kejahilan dalam diri untuk balas mengerjai orang itu tentu ada, dan saat kejadian liburan di negara D saat orang itu menemani Zelea seharian untuk jalan-jalan, Zelea sengaja mengerjai orang itu supaya kelelahan.
Dan rencananya itu berhasil, saat orang itu ahirnya berhenti mengikuti lebih milih duduk, sampai tiba pada kejadian yang sangat menakutkan bagi Zelea.
Saat ingin mau berfoto lagi di tempat yang indah, saat itu sudah tiba malam hari, padahal banyak orang di sana, tapi entah darimana asalnya ada pria jahat yang tiba-tiba datang mau menggodanya.
Membuat Zelea saat itu menjerit, dan Zeon orang yang sangat cuek terhadapnya tidak menyangka saat itu datang menolongnya.
"Penjahat itu sudah pergi."
Zelea yang saat itu ketakutan, begitu mendengar suara yang begitu ia kenal, langsung menatap orang yang bicara itu.
Dan sangat tidak menyangka apa bila saat itu Zeon akan memeluknya untuk menenangkan dirinya yang saat itu benar-benar ketakutan.
Bahkan pelukan yang ia rasakan begitu terasa nyaman, serta mencium aroma parfum yang menenangkan.
Ketenangan dan kenyamanan yang dapat semua orang rasakan ketika memiliki perasaan lebih.
Namun perasaan kecil yang mulai tumbuh itu, harus ia kubur dan harus ia basmi untuk tidak meluas dan semakin bertambah.
Setiap kali ada jadwal kerja harus bersama Zeon, atau hanya sekedar mengantar berkas yang harus Zeon tanda tangani, ia lebih sering berwajah masam jutek dan berkata kasar.
Semua itu tentu ia lakukan karena supaya tidak terlihat bahwa dirinya menaruh rasa sama pria tampan yang dalam status anak tirinya sendiri.
Sampai tiba di kejadian saat ia dan Zeon mendatangi proyek pembangunan pabrik baru, cuaca panas saat itu, dan ia harus memayungi Zeon tanpa boleh ikutan berteduh di bawah payung yang sama.
Tentu sangat menyebalkan sikap Zeon saat itu, dan ahirnya mengundang amarahnya yang tinggi hingga membentak Zeon.
"Kau mau membunuhku!" Zelea menatap tajam Zeon, yang saat ini tersenyum miring.
"Jaga ucapanmu! Dasar lemah kepanasan gitu saja sudah mengeluh," cibir Zeon, Zelea seketika tidak terima.
"Kau! Kau tidak merasakan jadi aku! Karena kau tidak kepanasan, sedangkan aku kepanasan karena harus memayungimu!" Zelea bicara berapi-api, tidak takut lagi sama Zeon, padahal biasanya nyalinya menciut bila berhadapan dengan Zeon.
__ADS_1
"Lain kali aku tidak sudi ikut di lapangan bersama kamu!" sentaknya lagi.
Dan Zelea baru menyadari bahwa kalimat yang ia ucapkan itu tidak menyangka mancing amarah Zeon.
Entah gimana caranya tiba-tiba ia sudah di dorong Zeon sampai bersandar di sandaran kursi.
Hatinya menyesal sudah berkata kasar sama Zeon, dan melihat amarah di mata Zeon, makin membuat Zelea menyesal.
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Zelea berkata Aku mencintaimu.
Dan rasa cinta itu semakin Zelea rasakan bahwa dirinya benar-benar mencintai Zeon, saat Zelea harus kembali ke mansion untuk mengambil berkas yang tertinggal.
Tiba-tiba mendengar suara seseorang yang minta tolong dari arah kolam renang, dan saat pelayan bertanya dimana Zeon serta dirinya melihat jam tangan Zeon.
Rasa takut langsung menyerangnya dan tanpa pikir panjang saat itu Zelea langsung nyebur ke kolam renang untuk menyelamatkan Zeon.
Meski saat itu Zelea berkata kasar setelah Zeon sadar dari pingsan, lagi-lagi hal itu ia lakukan untuk menutupi rasa perhatiannya.
"Kau berhutang hidup dengan ku."
Begitulah kalimat yang Zelea ucapkan saat itu, begitu sadis bukan? seolah ia tidak ikhlas menolongnya dan meminta imbalan besar.
Hingga tibalah hal yang paling mengejutkan bagi Zelea, saat dirinya menghadiri pesta dan di sana malah bertemu musuh wanita yang begitu ia benci.
Bagai ada bunga-bunga yang jatuh bertebaran di atas tubuhnya, saat entah dari mana asalnya Zeon datang merengkuh tubuhnya dan melingkarkan tangannya ke lehernya lalu mengangkatnya.
Zelea sengaja tidak menolak, karena merasa begitu bahagia, pria yang diam-diam dicintainya datang menolongnya bak malaikat.
Aku mencintaimu, batinnya lagi seraya terus memandangi wajah tampan Zeon.
"Aku mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu, tapi aku hanya berani berkata di belakang kamu, karena aku tidak punya keberanian untuk jujur terhadapmu." Zelea menyeka air matanya yang terus berlinang, matanya sampai buram melihat foto Zeon di galeri ponselnya.
"Dan aku tidak bisa menyakiti mas Radit lebih dari ini." Zelea berhenti berkata, ambil nafas lebih dulu.
"Meski aku tahu melupakanmu sama saja membunuhku." Zelea kembali terisak, suaranya terasa tercekat, dadanya terasa panas. "Sulit Zeon."
__ADS_1