
Di mansion kediaman Zeon Alexa.
Cika berdiri menunggu Zelea selesai mandi, sehabis sarapan pagi tadi, Zelea langsung mandi.
Pakaian ganti sudah Cika siapkan untuk sang Nyonya kesayangan semua orang.
Sebenarnya tadi Zeon perintahkan Cika untuk membantu Zelea mandi, tapi sang Nyonya menolak saat Cika mau membantu, katanya mau mandi sendiri, malu kalau dibantuin.
Bukan tanpa alasan Zelea menolak, karena tidak mau sampai Cika melihat tubuhnya yang banyak tanda kiss mark.
Hihihi, begitu tawanya saat mengingat malam hangat bersama sang suami.
Cika sudah menunggu selama dua puluh menit, tapi belum ada tanda-tanda Zelea keluar dari dalam kamar mandi.
Cika jadi merasa khawatir.
Klek!
Hah! Cika bernafas lega saat melihat ahirnya pintu kamar mandi dibuka oleh Zelea.
Zelea keluar mengunakan handuk kimono, dan rambutnya yang basah ia gulung menggunakan handuk kecil, tersenyum manis ke arah Cika.
"Nyonya, ini pakaiannya sudah saya siapkan," ucap Cika memberitahu.
"Terimakasih." Zelea berjalan menuju meja rias, wajahnya yang masih sedikit basah, ia keringkan menggunakan tisu.
Cika masih berdiri di posisinya, memperhatikan Zelea, yang saat ini asik mengunakan pelembap di wajahnya.
Cika tersenyum malu saat melihat leher Zelea banyak tanda kiss mark. Pipinya jadi bersemu merah.
"Cika ...."
"Ah! iya." Cika tergagap saat mendengar namanya di panggil Zelea.
"Simpan lagi pakaian gantinya, aku lagi tidak ingin pakai baju."
Zelea berjalan menuju pintu keluar.
"Nyonya?"
Suara Cika menghentikan langkahnya yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu.
Zelea sedikit menoleh.
"Tuan tadi berpesan supaya Nyonya jangan ke ruangan kerja, Tuan. Hari ini lagi banyak kerjaan," lanjut ucap Cika.
Hahah. Zelea berbalik menatap Cika. "Ish! Aku tidak akan mengganggunya, sudah jangan khawatir." Zelea berbalik lagi dan segera berjalan keluar.
"Nyonya jangan!" Cika ikut berjalan keluar menyusul Zelea.
__ADS_1
Waduh, bisa-bisa aku terkena marah Tuan nanti karena tidak bisa menjaga Nyonya, batin Cika cemas.
Zelea sudah memegang handel pintu siap untuk dibuka, tapi tangannya di tahan oleh Cika.
Cika menatap penuh permohonan untuk tidak membukanya, tapi Zelea acuh dan hanya membalas dengan senyuman hangat.
"Tenang, Cika. Suami ku tidak akan marah. Jauhkan tanganmu aku mau membuka pintu," ucap Zelea dengan nada lembut.
"Aku tidak akan menggangu, Cika," ucap Zelea lagi saat Cika belum menjauhkan tangannya juga.
"Maaf, Nyonya." Cika menundukkan kepalanya sembari menjauhkan tangannya.
Cika merasa cemas dan was-was, takut sang Tuan akan marah, meski selama ini belum pernah melihat Zeon marah dengan Zelea. Tapi kalau berlaku mesra itu sering ia lihat.
"Sayang," sapa Zelea, biasa dengan suara manja, yang langsung berjalan masuk.
Cika ketir-ketir mengintip di balik pintu, sembari mendengarkan apa akah orang di dalam sana berantem atau tidak.
Tapi sesaat kemudian hati Cika merasa lega saat mendengar suara merdu sang Tuan.
"Kenapa masih menyusul kemari? Kan sudah ada Cika yang nemenin," ucap Zeon seraya mengulurkan tangannya meminta Zelea untuk duduk di pangkuannya.
"Kenapa masih mengunakan handuk kimono?" tanya Zeon setelah Zelea duduk di pangkuannya.
"Panas," jawab asal Zelea. Bibirnya tersenyum.
Hem.
Kini Zelea duduk dengan tenang di pangkuan Zeon, melihat banyak sekali berkas di atas meja, sudah ada beberapa yang Zeon kerjakan, dan sekarang Zeon sedang menandatangani.
Cika yang berdiri di luar, ahirnya memutuskan untuk pergi, sekarang sudah lega, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena ternyata sikap tuannya tidak buruk pada sang Nyonya.
Cika menuruni anak tangga, saat mau tiba di lantai satu, Cika bertemu Galang, asisten tampan tuannya.
Cika terpaku saat Galang tersenyum kearahnya, sebelum ahirnya menaiki tangga.
Cika menoleh memperhatikan punggung tegap Galang yang berjalan menaiki tangga.
Aaaaa! Kenapa dia seganteng itu sih, batin Cika seraya memegang pipi, bibirnya tersenyum.
Cika menggoyangkan kepalanya dengan mata terpejam, supaya sadar dari halusinasinya. Kemudian berbalik, dan berjalan menuju dapur.
Di lantai tiga, saat Zeon dan Zelea mendengar suara pintu di ketuk, mereka berdua bersama berucap untuk silahkan masuk.
"Eh, Asisten Galang," ucap Zelea saat melihat yang masuk adalah Galang, tadi sempat dipikir Cika yang mengetuk pintu.
"Nyonya, Tuan." Galang menunduk hormat.
"Ini file yang, Tuan. Inginkan." Galang menyerahkan map yang ia bawa ke Zeon.
__ADS_1
Zeon yang sangat membutuhkan file tersebut langsung memeriksa isi didalamnya.
Tiba-tiba Zelea berbisik, "Boleh tidak aku minta tolong Asisten Galang untuk ambilin mangga di pohon."
Zeon langsung menghentikan kegiatannya, menoleh menatap Zelea. "Kamu mau mangga?"
Zelea mengangguk. "Di kebun belakang ada pohon mangga, aku mau asisten Galang yang ambilkan mangga untuk aku."
Zeon manggut-manggut "Galang, kamu manjat pohon di kebun belakang," perintahnya.
Galang terkejut, takut salah dengar dengan apa yang tuan perintahkan, tapi ucapan sang Nyonya menyadarkannya bahwa tidak salah dengar.
"Ayo Asisten Galang ke kebun belakang ambilkan saya mangga." Zelea berjalan lebih dulu.
Galang menunduk hormat ke Zeon, barulah ia mengikuti Zelea.
Sampainya di kebun belakang, Galang melihat pohon mangga yang menjulang tinggi, hatinya cemas takut jatuh.
Karena dulu waktu masih kecil ia pernah jatuh saat manjat pohon, dan sekarang jadi fobia ketinggian.
"Ayo Asisten Galang ambilkan itu buah mangganya yang besar," suara Zelea terdengar antusias dan semangat.
Galang jadi tidak tega, ahirnya dengan mengumpulkan sepenuh keberaniannya, Galang mulai memanjat pohon.
Langkah demi langkah, tidak terasa Galang sudah sampai di atas. Sungguh saat ini Galang merasa takut, kakinya saja terasa gemetar tapi ia berusaha melawan rasa takut.
Apa lagi saat mendengar suara sorak-sorai di bawah sana, yang dilakukan oleh Zelea. Galang meyakinkan dirinya bahwa bisa. Dan ...
Bug. Bug.
Suara mangga jatuh ke tanah rerumputan.
"Wah, asisten Galang hebat!" puji Zelea saat melihat mangga berhasil di petik.
Ehem!
Zelea menoleh ke belakang. "Eh, sayang kamu ikutan ke sini?" tanya Zelea saat melihat Zeon.
"Dapet mangganya?" tanya Zeon, kini berdiri di sebelah Zelea.
"Dapet, ituh." Zelea menunjuk mangga yang berhasil Galang petik, berada di atas rerumputan.
Zeon menatap tidak suka. Apa lagi saat Zelea begitu girang melihat Galang yang turun berhasil membawa tangkai yang ada buang mangganya di sana.
"Wah, ini bagus tidak kotor, sini-sini aku yang bawa," pinta Zelea untuk diambil alih.
Galang hanya bisa tersenyum tidak enak melihat tatapan tidak suka dari sang Tuan.
"Kenapa bukan aku yang kamu suruh manjat pohon," celetuk bisik Zeon di telinga Zelea.
__ADS_1
"Ha, ah itu-," Zelea menoleh tapi Zeon sudah berjalan pergi.
"Sayang, tunggu ..." Zelea berjalan cepat mengejar Zeon.