
Di tempat yang berbeda, di sebuah mansion, dua pasangan muda yang selalu berlaku romantis.
Nanti malam Zelea dan Zeon berencana akan makan malam di luar, tentu hal ini membuat Zelea senang.
Apa lagi makan malam bersama suami tercinta, membuat bumil muda itu makin semangat.
Seperti saat ini Zelea sedang bersemangat memilih baju yang bagus untuk digunakannya nanti malam.
Beberapa bajunya, Zelea keluarkan dari dalam almari. Zeon yang saat ini bersandar di sandaran ranjang geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang sibuk mau memilih baju.
Zelea mengambil dress warna kuning, ia tempelkan ke badan sembari bercermin. "Sayang, ini cocok tidak?" menggerakkan tubuh ke samping kiri dan kanan. Merasa belum cocok, Zelea ganti lagi.
Sekarang Zelea ambil warna merah, melakukan sama seperti tadi di depan cermin, merasa terlalu mencolok warnanya, tidak suka lagi. Zelea berganti lagi.
Kini ambil yang warnanya biru, lagi-lagi saat bercermin merasa tidak cocok, Zelea menggelengkan kepalanya, tidak jadi warna biru, kini ganti lagi.
Zelea mengambil dress warna peach, yang kali ini bibirnya tersenyum saat melihat pantulan dirinya di dalam cermin.
Warna yang kalem terlihat keibuan, Zelea menyukai warna ini, dan ahirnya pilihannya jatuh ke warna peach.
Tanpa Zelea sadari, sejak tadi Zeon terus saja geleng-geleng kepala melihat ke arah Zelea, baginya istrinya itu makin hari makin menggemaskan.
Tiba-tiba ponsel Zeon bunyi, ada nomor masuk yang tidak ia kenal, namun saat Zeon angkat ia langsung terkejut mendengar penjelasan seseorang di seberang telepon sana.
"Apa kah benar ini saudara dari pasien bernama Nofal Alexa? Beliau saat ini sedang di rawat di rumah sakit xx. Terimakasih?"
Begitu kalimat yang Zeon dengar, dan seketika ponsel yang tadi menempel di telinganya jatuh kebawah tanpa sadar.
"Ada apa? Kenapa kamu terkejut?" Zelea mendekat, duduk di pinggiran ranjang, seolah sesuatu sedang terjadi, melihat wajah Zeon yang begitu terkejut.
"Nofal di rumah sakit."
"Apa!" Zelea terkejut. "Dia kecelakaan?"
Zeon menggeleng. "Belum tahu, sekarang kita ke sana."
__ADS_1
Zeon bangkit dari atas ranjang, meraih jaket dan ia gunakan, meraih kunci mobil, berjalan keluar kamar bersama Zelea.
Sampainya di parkiran mobil, Zelea dan Zeon langsung masuk ke dalam, dan melajukan mobilnya keluar.
Zeon begitu serius dalam mengemudikan mobilnya, Zelea tidak berani untuk bertanya milih menyimpan pertanyaannya dan akan bertanya nanti setelah kondisi sudah aman.
Di dalam sambungan telepon tadi, pihak rumah sakit yang menghubunginya tidak menceritakan Nofal kecelakaan.
Jadi Zeon masih bertanya-tanya apa penyebab Nofal masuk rumah sakit.
Tiga puluh menit, mobil sudah sampai di rumah sakit.
Zeon dan Zelea berjalan cepat memasuki rumah sakit, bertanya kepada receptionist pasien bernama Nofal Alexa.
setelah mendapat nomor ruang UGD tempat Nofal, Zeon dan Zelea segara menuju ke sana.
Begitu sampai di sana, Zelea dan Zeon langsung terkejut melihat wajah Nofal yang babak belur.
Luka lebam banyak di wajah Nofal, bahkan wajah tampannya yang selama ini mendadak tidak terlihat.
Tangan Zeon mengepal geram, berpikir siapa yang berani melakukan ini sama Nofal.
jelas luka yang Nofal dapatkan itu hasil pukulan keroyokan, bukan luka kecelakaan.
Namun saat ini mau bertanya siapa pelakunya juga tidak tahu pada siapa? Nofal belum sadar.
Dokter yang menangani Nofal mendekati Zeon dan Zelea. "Pasien cukup parah mendapat luka pukulan, tidak hanya di wajah tapi juga di tubuhnya, membuat pasien harus di rawat lebih lanjut."
"Lakukan yang terbaik, Dok?" perintah Zeon.
Zeon dan Zelea keluar dari ruang UGD, saat ini Nofal akan di pindahkan ke ruang rawat.
Ya, tadi setelah Milli pergi, ayah Milli memerintah anak buahnya untuk menghajar Nofal, sampai Nofal sama sekali tidak berdaya.
"Sayang, siapa ya kira-kira pelakunya?" tanya Zelea, ia begitu cemas. kini keduanya sudah duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Zeon membuat gerakan jari telunjuk di depan bibir, bertanda untuk diam, saat ini ia sedang menelpon Bagas.
"Gas, kamu dimana?"
Begitu pertanyaan Zeon setelah sambungan telepon diangkat oleh Bagas.
"Di restoran, Tuan?"
"Kamu hari ini tidak bersama Nofal?" tanya Zeon lagi.
"Tidak, Tuan. Tadi pagi Bos Nofal mau pergi sendiri ke rumah pujaan hatinya," ucap Bagas, di seberang sana Bagas tertawa kecil saat menyebut pujaan hati.
Zeon menghela nafas berat mendengar penuturan Bagas. "Sekarang Nofal di rumah sakit, aku juga belum tahu apa sebabnya? Yang pasti Nofal dalam keadaan dipukuli."
"Apa! Tuan saya ke sana sekarang, rumah sakit mana!" Bagas panik juga terkejut.
"Rumah sakit xx."
Sambungan telepon terputus, Zeon kembali menyimpan ponselnya di dalam saku celana.
Zeon meraih Zelea untuk bersandar di bahunya, tangannya mengusap punggung Zelea, seolah berkata jangan khawatir.
Kriuk-kriuk. Suara bunyi perut Zelea.
Hehehe, Zelea tertawa.
"Kamu lapar?" tanya lembut Zeon sembari mencium puncak kepala Zelea.
"Iya, hem."
"Ayo kita cari makan di kantin rumah sakit ini." Zeon mengajak Zelea berdiri, mereka berjalan menuju kantin rumah sakit.
Sampai di sana, Zeon dan Zelea memesan makan dan minuman, kemudian menunggu di kursi pembeli.
Suasana siang hampir sore ini membuat udara yang masuk terasa semilir, kantin rumah sakit yang sedikit terbuka, kini bisa melihat sekeliling di luar sana.
__ADS_1