Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 53. Kucing manis yang minta di sayang.


__ADS_3

Mobil memasuki area bandara, setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Zeon dan Rendi segera berlari masuk ke bandara berteriak terus memanggil nama Zelea.


Mata mereka berdua menajam memperhatikan setiap orang yang lalu lalang di bandara, sembari terus melangkah mencari Zelea.


Namun zonk tidak menemukan sosok yang mereka cari. Karena banyaknya orang membaut pencarian begitu sulit.


Apa lagi tidak tahu Zelea menggunakan kostum seperti apa? Zeon merasa frustasi, tapi tidak membuatnya menyerah.


Salah satu pesawat saat ini jadwal penerbangan, Zeon berinsiatif untuk masuk ke dalam pesawat ingin melihat Zelea.


Tapi ditahan oleh petugas keamanan, karena Zeon bukan bagian orang yang akan ikut penerbangan dengan pesawat itu.


"Tolong Pak mohon ..." Zeon masih berusaha seraya menunjukan wajah memelas.


"Tidak bisa ... tidak bisa!" tolak keras petugas tersebut.


Ahirnya Zeon mundur, melawan pun tidak guna, kini Zeon berinisiatif untuk mendatangi Boarding Gate Staff, guna menanyakan nama Zelea.


Nafas Zeon nampak memburu karena sejak tadi terus berlari, dan tanpa menunggu Zeon langsung bertanya.


"Maaf, apa kah atas nama Zelea Anggraini sudah masuk ke dalam pesawat penerbangan atau belum?"


"Sebentar saya periksa lebih dulu," jawab wanita penjaga boarding gate staff." Atas nama Zelea Anggraini baru saja memasuki pesawat yang akan mengikuti penerbangan sebentar lagi," terang wanita itu setelah membaca data Zelea.


Tanpa mengucapkan terimakasih Zeon langsung berlari meninggalkan tempat tersebut dan menuju tempat yang tadi.


Sampai di sana Zeon kembali di hadang namun kali ini ia memberontak hingga berhasil lolos masuk ke dalam untuk mencari Zelea di dalam pesawat.


Petugas tadi tampak mengejar Zeon, berniat mau menghalangi Zeon, tapi Zeon terus saja bisa menghindar.


Zeon melihat dan memperhatikan setiap orang yang duduk di dalam pesawat, namun sayang wajah mereka tidak ada seperti orang yang ia cari.


"Zelea kamu dimana," gumam Zeon yang makin terasa panik belum menemukan Zelea, apa lagi pesawat sebentar lagi akan waktunya penerbangan.


"Maaf."


Zeon menoleh saat mendengar suara wanita seorang pramugari.


"Tidak apa-apa saya yang salah," ucap wanita lawan bicara yang suaranya tidak asing bagi Zeon.


Zeon tentu segera berjalan mendekat untuk memastikan benar atau salah. Dan setelah berdiri di samping wanita itu bertepatan wanita itu menoleh hingga mereka berdua saling pandang.


Deg!

__ADS_1


*


*


*


Zelea tidak menyangka apa bila Zeon akan menyusulnya sampai masuk ke dalam pesawat.


Apa lagi tidak tahu tentang keberangkatannya ini, bahkan Rendi juga tidak tahu, jadi Zelea malah terkejut melihat ke datangan Zeon.


Dan saat ini Zelea hanya bisa mematung seraya memejamkan matanya, karena Zeon masih saja memeluknya, yang kini sudah keluar dari dalam pesawat.


"Syukurlah jika kalian ahirnya bertemu."


Suara seseorang menyadarkan Zeon, yang kini langsung melepas pelukannya pada Zelea, dan menoleh sumber suara yang ternyata Rendi.


"Re-rendi," ucap Zelea gugup.


"Bicaralah apa yang menjadi masalah kalian, aku pergi dulu," ucap Rendi begitu tenang.


Zelea hanya bisa menatap nanar punggung Rendi yang berjalan menjauh.


"Kita harus bicara, aku sudah tahu semuanya, tentang amnesia kamu aku juga sudah tahu kalau itu semua bohongan."


Suara Zeon mengalihkan pandangan mata Zelea, yang tadi menatap lurus ke arah punggung Rendi yang berjalan menjauh, kini berganti menoleh menatap Zeon.


Namun Zeon segera menghalangi, berdiri di depan Zelea menghadang langkahnya, Zeon menggelengkan kepala. "Plis ... Ikut denganku sebentar saja akan aku ceritakan semua ... Semua tanpa kecuali." Zeon menatap serius.


*


*


*


Kini Zeon dan Zelea sudah duduk di restoran terdekat bandara, setelah membujuk Zelea ahirnya wanita itu mau mengikuti Zeon dan hanya akan memberikan waktu sebentar.


Tapi bukan Zeon kalau tidak ingin menambah waktu, lagian sudah lama tidak ketemu, dan setelah banyak perjuangan hingga kini bisa bertemu tidak akan Zeon sia-siakan.


Meski saat ini melihat wajah cemberut Zelea, Zeon tidak peduli, baginya wajah cemberut Zelea terlihat menggemaskan seperti kucing manis yang minta di sayang.


Zeon masih asyik memandangi wajah Zelea hingga tidak kunjung bicara, membuat telinganya kini mendengar suara omelan.


"Buruan bicara ih!"

__ADS_1


Zeon mengulum senyum.


Namun tanpa ijin Zelea, Zeon menggenggam tangan Zelea, wanita itu mau berusaha melepaskan tapi Zeon semakin menggenggamnya. "Aku mencintaimu."


Zelea menangkap pancaran teduh di mata Zeon, membuatnya diam tidak lagi menggerakkan tangan minta di lepaskan.


"Tenanglah ... Tentang kita, tentang Daddy juga akan aku ceritakan sekarang ... Tenang dengarkan aku," ucap Zeon lembut.


"Dua tahun lalu Daddy sakit." Kini mata Zeon sudah berkaca-kaca, mengingat kejadian dua tahun lalu.


Saat itu Radit yang jatuh sakit paru-paru, semkin hari semkin parah, bahkan sudah dibawa ke rumah sakit luar negeri, rumah sakit terbaik, tapi sakit yang di derita Radit tidak juga kunjung sembuh.


Zeon dan Nofal sudah frustasi untuk mencari obat supaya ayahnya bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala.


Karena sakit yang diderita Radit sudah parah, dan baru diketahui saat sudah parah, hingga mendapatkan kesembuhan itu sulit.


Sejak itu Zeon terus menemani Radit, prioritasnya hanya untuk ayahnya, bahkan pekerjaan Zeon lakukan sembari menemani Radit di rumah sakit.


Zeon tidak mau kehilangan momen sedikit pun bersama ayahnya.


Hingga suatu malam sebelum Radit tidur, memanggil Zeon untuk mendekat setelah Zeon baru saja selesai dengan pekerjaannya di depan laptop.


"Ada apa Daddy?" tanya Zeon setelah berdiri di samping ranjang pasien, tangannya menggenggam tangan ayahnya.


Radit belum bicara, tapi air matanya malah menetes, Zeon segera menghapus air mata ayahnya itu. "Jangan menangis, Dad. Zeon ada di sini selalu bersama Daddy."


Namun ternyata Radit semakin menangis. "Maafkan Daddy," gumanan Radit tidak begitu jelas karena campur isak tangis.


Zeon terus berusaha menenangkan ayahnya. "Daddy tidak salah, dan jangan berkata maaf yang bukan kesalahan yang Daddy perbuat."


Namun ternyata Radit tidak peduli dengan ucapan Zeon, Radit terus berucap yang menurutnya benar.


"Maafkan Daddy karena sudah membuat hatimu terluka ..." Radit tidak mampu melanjutkan ucapannya, tubuhnya makin bergetar hebat.


"Daddy plis." Zeon mulai kesulitan menenangkan ayahnya.


Dan Radit tidak hiraukan Zeon.


"Sekarang Daddy sudah lelah ... Daddy restui hubungan kamu dengan Zelea ... Dia anak baik, selama menjadi istri Daddy tidak pernah Daddy menyentuhnya ... Daddy menjaga dia karena dia anak baik-," ucapan Radit terhenti, mendadak nafasnya tersengal-sengal.


"Dad, Daddy ..." Zeon tampak khawatir. "Dad tidak usah berpikir yang berat, Dad!" Zeon menenangkan.


Namun diantara nafas Radit yang sudah tampak sulit masih mampu melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Pergilah temukan dia ... bahagiakan dia ..." ucap Radit sebelum ahirnya hembusan nafas panjang yang terakhir.


"Daddy ...."


__ADS_2