Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 98. Dari yang mudah-mudah dulu


__ADS_3

Keesokan harinya.


Milli yang lagi sibuk merangkai bunga kertas di ruang kerjanya, tiba-tiba ada pelayan datang memberikan informasi yang langsung membuat Milli bahagia.


"Nyonya, ada kedua orang tua Nyonya di depan."


Begitu mendengar kalimat yang diucapkan pelayannya itu, Milli yang sedari tadi duduk langsung berdiri dan berjalan keluar dari tempat tersebut untuk menemui kedua orang tuanya.


Pelayan yang melihat Milli sampai berjalan cepat-cepat, hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya itu.


"Mama ... Papa!" teriak Milli begitu sampai di teras rumah.


Ya, kedua orang tua Milli menunggu Milli di teras rumah, tadi sebenarnya sudah di persilahkan untuk masuk oleh pelayan, tapi kedua orang tua Milli menolak dan lebih milih menunggu di teras.


"Mama ... Milli kangen." Milli memeluk ibunya, dua wanita beda generasi itu saling memeluk melepas rindu.


Pasalnya semenjak Milli diboyong Nofal untuk tinggal bersama Nofal, ini baru pertama kalinya mereka bertemu kembali.


Sebenarnya ibunya Milli sudah dari kemarin-kemarin ingin bertemu putrinya, tapi ayah Milli yang belum mau, masih menolak, ahirnya tidak ada pilihan ibunya Milli mengikuti suaminya. Dan baru sekarang bisa berkunjung ke rumah putrinya.


"Papa tidak di peluk juga nih." Ayah Milli menunjukan wajah masam.


"Papa," suara manja Milli begitu mendengar ucapan ayahnya, Milli melepas pelukannya pada ibunya, kini berganti memeluk ayahnya.


"Milli kangen banget sama Papa dan Mama ... Papa dan Mama kemana aja selama ini? Sampai baru bisa jengukin Milli sekarang."


Deg!


Ayah Milli dan Ibu Milli sama-sama terkejut mendengar ucapan Milli barusan, Ayah Milli milih tidak menjawab pertanyaan putrinya yang saat ini dalam pelukannya, ayah Milli hanya memberi belaian lembut di rambut panjang Milli.


"Hah, Papa ... Mama." Milli melerai pelukannya, kini menatap bergantian ke arah ayah dan ibunya.


Ayah dan ibu Milli saling pandang saat di tatap menyelidik oleh putrinya.


Milli yang melihat ketegangan di wajah kedua orang tuanya langsung mendengus.


"Ih, Papa dan Mama kenapa masih di sini, ayo masuk? tadi si bibi masak enak, kita makan sekarang." Milli langsung melingkarkan tangannya di lengan sang ibu dan mengajaknya masuk ke dalam, di susul ayahnya yang berjalan di belakang mereka.


Setibanya di meja makan, Milli meminta kedua orang tuanya untuk makan, tapi tidak dengannya karena masih kenyang.

__ADS_1


"Papa dan Mama juga sudah sarapan, sayang." Ibu nya Milli bicara menjelaskan, bisa dibilang saat ini juga masih kenyang.


Milli menghela nafas panjang. "Ya sudah deh, kalau Mama dan Papa masih kenyang, Milli tidak maksa." Bibir Milli mayun.


"Malam ini, Mama dan Papa akan menginap di sini."


"Benarkah, Ma!" Milli begitu senang mendengarnya.


"Iya, sayang," jawab ibunya, Milli kembali memeluk ibunya. "Terimakasih, Ma. Terimakasih sudah mau menginap di sini," ucap Milli masih sembari memeluk ibunya.


"Dimana suami kamu? Sedari tadi Papa tidak melihatnya."


Mendengar suara ayahnya, Milli melerai pelukannya dengan sang ibu, dan berganti menatap ayahnya.


"Suami aku lagi kerja, Pa," jawab Milli apa adanya.


Nofal memang selalu kerja setiap harinya, tidak pernah ada hari libur bagi pria itu, bahkan hari sabtu dan Minggu yang biasanya digunakan untuk bersantai bersama keluarga, tidak dengan Nofal yang tetap bekerja.


Ayah Milli manggut-manggut. "Baguslah jika begitu, berarti dia pria yang bertanggung jawab."


Milli dan ibunya menghela nafas panjang bersamaan mendengar ucapan ayah Milli barusan.


Milli dan ibunya sama-sama tidak habis pikir dengan ayah Milli itu.


"Oh ya, Mama dan Papa mau melihat rangkaian bunga kertas yang Milli buat tidak?" ajak Milli untuk mengalihkan pembicaraan ayahnya yang membahas Nofal. Milli tidak mau berlanjut.


"Boleh." Ibu Milli menjawab. Milli segera mengajak Ibu dan Ayahnya menuju ruang kerjanya, yang selama ini Milli gunakan untuk menghabiskan waktu.


"Ini nih Ma bunga-bunga rangkaian yang Milli buat," tunjuk Milli pada ke dua orang tuanya, begitu sampai di ruang kerjanya.


Ibu dan ayah Milli menatap takjub bunga hasil rangkaian Milli, sebuah bunga kertas yang terlihat bagus, dan banyak macam.


"Ini kamu yang buat sendiri, Sayang?" tanya Ibu Milli ingin tahu, siapa tahu Milli dibantu salah satu pelayannya.


"Iya dong, Ma. Milli sendiri yang mengerjakan semua ini," ucapnya dengan bangga.


"Bagus sekali ya, Ma. Papa tidak menyangka Milli bisa membuat karya seperti ini." Ayah Milli berbicara dengan ibunya.


"Benar, Pa. Ini bagus banget," jawab Ibu Milli.

__ADS_1


Milli merasa senang saat melihat kedua orang tuanya menyukai hasil karya yang dibuatnya itu.


"Nanti, Papa dan Mama. Aku kasih yang ini nih, untuk diletakkan di meja ruang tamu," ucap Milli sembari mengangkat bunga dalam pot kecil yang terlihat lucu dan bagus.


"Terimakasih, Sayang." Ibu Milli memeluk putrinya.


Setelah dari ruang kerja Milli, mereka berganti melihat ke tempat kamar calon bayinya nanti.


Tara....


Suara Milli berteriak begitu membuka pintu kamar calon bayinya nanti.


Seketika ruangan bernuansa warna pink menyambut pandangan mata ibu dan ayah Milli.


Ruang kamar yang sudah hampir selesai persiapannya ini, menggambarkan calon kamar cewek.


"Sayang, apa kah anakmu nanti adalah perempuan?" Tangan ibu Milli mengusap perut buncit Milli.


Milli mengangguk. "Iya, Ma."


Ibu Milli seketika memeluk kembali putrinya, rasanya bahagia sekali bentar lagi akan memiliki seorang cucu.


Milli mendengar ibunya malah menangis terisak, mengusap punggung ibunya.


Ibu Milli melerai pelukannya, dan kini berganti menangkap wajah Milli. "Sayang, kamu harus jaga diri baik-baik, jangan sampai kecapaian dan juga makan yang banyak."


Mendengar nasehat ibunya entah kenapa terasa dalam Milli dengar, tanpa menahu Milli malah menangis.


"Sudah, jangan menangis, kenapa malah menangis?" Ibu Milli mengusap air mata yang berlinang di pipi Milli.


"Mama pakek bicara dengan kata-kata sedalam itu," protes Milli, yang membuatnya sampai menangis haru.


"Sudah-sudah, maafkan Mama."


Setelah keduanya sama-sama lebih tenang, mereka keluar dari kamar calon bayi.


Saat tiba siang hari, Ibu Milli mengajak Milli untuk memasak bersama, ibu Milli memberi petuah bahwa seorang istri tidak hanya pintar dandan tapi juga harus pintar memasak.


Karena seorang suami akan lebih suka jika makan dari masakan istrinya, meski di rumah ini sudah ada pelayan, dan bahkan suami juga tidak akan menyuruh istrinya masak, tapi jika seorang istri berinsiatif memasak untuk suami maka suami akan merasa senang.

__ADS_1


Milli memang tidak bisa memasak sama sekali, hal ini wajar karena dia anak manja sebelumnya, tapi sekarang dia sudah menikah, ibu Milli ingin Milli bisa memasak dari yang mudah-mudah dulu.


__ADS_2