
Ketika pagi datang, Milli merasakan perutnya sakit, tendangan baby di dalam perut begitu keras, seolah sengaja membangunkan mamanya supaya tidak melihat wajah papanya.
Aku tidak mau lihat wajah Papa! begitu mungkin andai bayi itu bisa bicara saat ini juga.
Milli mendesis saat merasakan perutnya sakit bersamaan tendangan keras baby dalam perutnya.
Usia kandungan Milli yang sudah lima bulan, baby dalam perutnya sudah mulai aktif gerak-gerak.
"Iya, iya ... mama bangun Mama akan keluar dari kamar ini, tenanglah." Milli mengusap perutnya itu, sembari bersuara lirih.
Dan seketika lega rasanya, saat merasakan baby dalam perutnya sudah mulai tenang, benar-benar sesuatu yang luar biasa, baby yang masih berada di dalam perutnya itu mampu mendengar.
Perlahan Milli turun dari ranjang, penuh kehati-hatian, karena tidak mau sampai membangunkan Nofal.
Milli juga membuka dan menutup pintu kamar dengan sangat begitu pelan, jangan sampai menimbulkan suara.
Satu jam kemudian, Nofal bangun dari tidurnya, hari ini lagi-lagi Nofal merasa tidurnya nyenyak. Setelah tidur ditemani Milli.
Meski tidak melakukan apa pun, benar-benar hanya tidur, tapi Nofal sudah bahagia, nyatanya begitu melihat Milli datang dan tidur di sebelahnya, Nofal langsung tidur nyenyak.
Sebenarnya tanpa Milli ketahui, semalam Nofal juga tidak bisa tidur, bukan tanpa alasan, karena Nofal kepikiran Milli, takut terjadi apa-apa sama istrinya itu.
Eh, gak tahunya yang dikhawatirkan tiba-tiba datang ke kamarnya, dan tanpa Nofal duga, Milli ikut tudur di sebelahnya di ranjang yang sama dengannya.
Nofal menghela nafas panjang sembari meregangkan otot-ototnya. Nofal melirik jam dinding, yang saat ini sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
Setelah menikah Nofal lebih sering bangun pukul tujuh pagi, tidak seperti sebelum waktu menikah.
Nofal turun dari ranjang, suasana di dalam kamar masih gelap karena lampu dimatikan dan gorden belum dibuka.
Nofal berjalan ke jendela, menarik gorden hingga kini terang menerangi.
Nofal segera membersihkan diri, tidak sampai lima belas menit, Nofal sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan kondisi tubuh lebih fresh.
Kebetulan baju kerjanya ada di kamarnya, Nofal terpaksa keluar kamar tamu, hanya menggunakan handuk kimono yang membalut tubuh kekarnya.
Kali ini Nofal tidak perlu mengetuk pintu, karena pintu kamarnya dibuka, tapi begitu Nofal masuk ke dalam, tidak ada Milli di sana.
Nofal yang niatnya mau memakai baju kerja, ahirnya segera menyelesaikan tujuannya itu.
Setelah rapi memakai pakaian kerja, juga sudah menyisir rambutnya, dan memakai minyak wangi, Nofal keluar dari kamarnya.
Namun begitu Nofal tiba di ruang makan, matanya melihat Milli yang kini sedang menangis.
__ADS_1
Nofal yang melihat Milli tiba-tiba menangis tanpa tahu menahu sebabnya apa langsung cemas.
"Hiks hiks hiks."
Suara Milli menangis.
"Milli kamu kenapa!" Nofal menghampiri Milli, perasaannya kini sangat panik. Namun respon Milli membuat Nofal tercengang.
"Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu!" Milli berdiri dari duduknya dan menatap tajam Nofal.
Nofal tertawa masam. "Milli ... Ini tidak mungkin jika kamu tidak akan melihat wajahku, karena kita satu rumah, apa kamu lupa?"
"Aku ingat!" teriak Milli.
Nofal mengangguk, berpikir bagus jika Milli ingat, tapi kalimat yang Milli ucapkan selanjutnya makin membuat Nofal tercengang.
"Aku ingat kau suami aku! Aku ingat kita tinggal di bawah satu atap! Tapi aku benci tiap kali melihat wajah kamu ..." teriak Milli penuh emosi.
Deg! Nofal menunjuk dadanya, dengan perasaan hampir tidak percaya.
"Aku benci tiap kali lihat wajahmu." Kali ini Milli lebih rendah suaranya, tapi penuh penekanan di setiap kata.
Nofal menyentuh bahu Milli, menatap dalam-dalam mata wanita itu. "Katakan padaku apa sebabnya kamu benci melihat wajahku? Biar aku bisa memperbaiki."
Milli menepis dengan kasar tangan Nofal yang memegangi bahunya. Milli tidak menjawab pertanyaan Nofal.
Milli lebih milih meninggalkan ruang makan dan masuk ke dalam kamarnya.
Nofal seketika memijit pangkal hidungnya, pening seketika rasanya.
Tidak lama kemudian, Milli datang kembali ke ruang makan, tapi kali ini Milli sembari membawa sesuatu.
"Pakai ini." Milli menyodorkan sesuatu ke tangan Nofal.
"Apa ini? Topeng." Nofal melihat bentuk kertas itu yang ada bolongan matanya. Tapi yang membuat Nofal makin terkejut bukan topeng hasil gambaran tangan Milli sendiri, tapi kenapa harus gambar Spongebob.
"Tiap kali kamu mau bertemu aku, harus menggunakan topeng, karena aku tidak mau melihat wajah kamu!"
Nofal yang mau tertawa jadi urung saat mendengar suara sengit Milli.
Nofal menghela nafas panjang. Menatap Milli dalam-dalam, dan entah apa kah sikap Milli kali ini harus dikatakan lucu atau malah aneh, Nofal benar-benar bingung.
Wajah Milli melengos ke arah lain, benar-benar enggan mau menatap wajah tampan Nofal.
__ADS_1
"Baiklah, aku gunakan topeng ini," putus Nofal ahirnya, tidak mau memperpanjang masalah, Nofal memperhatikan topeng dari bahan kertas yang ada gambar Spongebob hasil tangan Milli, Nofal tersenyum kecil sebelum ahirnya memakai topeng buatan Milli.
"Lihat aku," pinta Nofal pada Milli setelah ia menggunakan topeng Spongebob.
Milli melirik sebelum ahirnya benar-benar menatap Nofal, Milli tersenyum terkikik, Nofal terlihat lucu di matanya.
"Kalau aku pakai topeng seperti ini kamu tidak kesal sama aku?" Nofal memastikan lagi.
Milli langsung mengangguk cepat.
Astaga ada-ada aja dia, batin Nofal.
"Tapi topeng ini bisa sobek karena cuma kertas biasa, dan talinya juga bisa putus," jelas Nofal memberitahu Milli.
"Nanti aku ganti yang lebih awet." Milli menatap Nofal. "Tapi masih dengan gambar seperti itu, hihihi." Milli terkikik.
Oh Tuhan apa wajah ku sekarang ini lebih bagus seperti gambar Spongebob, sampai dia memintaku pakai topeng bergambar Spongebob, batin Nofal sembari geleng-geleng kepala.
Ya sudahlah ahirnya Nofal menuruti saja kemauan Milli.
Dengan susah payah pagi ini Nofal melewati sarapan pagi, karena makan tanpa melepas topeng Spongebob.
Setelah selesai sarapan, Nofal langsung meninggalkan apartemen, berangkat ke restoran.
Setibanya di restoran, Nofal menceritakan kejadian pagi bersama Milli waktu di ruang makan ke Bagas.
"Gas, Milli tidak mau lihat wajah aku."
Bagas menatap bingung ke arah Nofal.
"Setiap kali aku berada di apartemen, aku harus pakai topeng."
Bagas menahan tawa saat mendengar Nofal berkata topeng, dan tawanya langsung pecah tanpa dosa ketika mendengar kalimat lanjutan yang Nofal ucapkan.
"Dan asal kamu tahu, aku harus memakai topeng bergambar Spongebob."
Hahahaha.
Sialan! Umpat Nofal sembari melempar pena ke arah Bagas.
Untung Bagas cepat menghindar, hingga pena tidak jadi mengenai kepalanya.
Nofal seperti kena batunya, punya istri tapi istrinya tidak mau melihat wajahnya.
__ADS_1