Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 5. Mantan kekasihku ibu tiriku.


__ADS_3

Tepat pukul dua belas malam, terdengar bunyi mobil berdecit di depan gerbang utama, sekuriti penjaga malam langsung berjalan mendekat dan membuka lebar gerbang tersebut setelah menghafal mobil siapa yang datang.


Nofal Alexa, putra pertama Radit. Baru pulang dari luar negeri, habis selesai liburan panjang.


Sekuriti tadi menyusul mobil Nofal yang sudah masuk ke dalam, dan menerima kunci mobil setelah Nofal keluar, untuk dimasukkan ke dalam garansi.


Nofal berjalan masuk ke dalam mansion, sebelum berjalan ke ruang tengah, Nofal menoleh ke arah pelayan penjaga malam.


"Apa Daddy ada di rumah?"


"Benar Tuan Muda, Tuan Radit ada di rumah," jawab pelayan itu dengan kepala menunduk.


Baguslah, besok pagi aku harus bicara sama Daddy mengenai karir aku di dunia entertainment, batin Nofal.


Nofal tidak bertanya lagi mengenai ayahnya, karena saat ini sudah malam Nofal milih segera masuk ke dalam kamarnya, yang letaknya juga berada di lantai tiga, sebelum sampai di kamarnya, Nofal melewati kamar ayahnya. Nofal menoleh sebentar memandang pintu kamar ayahnya.


Nofal melihat jam tangannya.


Daddy pasti sudah tidur, hah aku tidak tega menganggu istirahatnya, batin Nofal sebelum ahirnya melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamarnya.


*


*


Keesokan paginya.


Zelea bangun lebih dulu, ini adalah hari pertamanya tinggal satu atap dengan Radit, Zelea tersenyum melihat wajah teduh suaminya yang masih tidur.


Di hari pertama ini, Zelea ingin memasak untuk Radit, setelah mencuci muka, Zelea turun ke bawah menuju dapur.


Di sana sudah ada beberapa pelayan bagian dapur yang mau memasak menyiapkan sarapan pagi.


"Nyonya Anda sudah bangun," sapa pelayan berbadan gendut. Pelayan itu heran kerena ini masih pukul setengah enam pagi.


Para pelayan di mansion ini sudah tahu apa bila Zelea istri Radit, semalam Radit sudah menjelaskan dan meminta mereka semua harus menghormati Zelea.


Zelea tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, saya ingin memasak untuk suami saya."


Pelayan gemuk itu tersenyum simpul.


Aku merasa bahagia ahirnya sang Tuan mendapat istri yang baik hati juga, batin pelayan itu.

__ADS_1


Semua pelayan yang berada di ruang dapur juga ikut tersenyum mendengar ucapan tulus Zelea, mereka membantu Zelea dalam memasak menyiapkan sarapan pagi.


Pagi ini semua menu yang masak Zelea, para pelayan dapur hanya membantu saja.


Pelayan gemuk itu meneteskan air mata, saat masak bersama Zelea jadi teringat mendiang istri Radit yang sudah meninggal.


Dahulu saat semasa masih hidup sering membantu sang Nyonya masak di dapur, jadi saat mengetahui Zelea juga suka memasak, pelayan gemuk itu jadi terharu.


Pelayan gemuk itu sudah berkerja dua puluh tahun ikut bersama Radit, jadi sudah mengenal seperti apa keluarga Radit yang sangat baik padanya. Bi Jum namanya.


"Bi Jum, semua masakan sudah selesai, tolong di pindahkan ke meja makan, saya kembali ke atas dulu."


Suara Zelea membuyarkan lamunan Bi Jum, wanita paruh baya itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Zelea berjalan meninggalkan dapur, dan para pelayan segera menyiapkan masakan itu ke meja makan.


Zelea belum tahu bahwa saat ini Nofal sudah ada di dalam mansion, saat Zelea baru masuk ke dalam kamar, dari arah kamar sebelah Nofal keluar.


Pria muda itu baru saja mandi dan saat ini mengunakan pakaian rapi. Berjalan turun ke bawah, tujuannya ruang makan.


Di dalam kamar Radit, Zelea yang baru masuk, mendapati Radit sudah bangun, tapi pria itu masih duduk di ranjang, tersenyum saat melihat Zelea datang.


"Tuan sudah bangun? Maaf tadi saya di dapur."


"Kenapa harus memasak, di mansion ini ada banyak pelayan. Saya menikahi kamu bukan untuk aku suruh memasak."


Suara Radit terdengar tidak suka.


Zelea tersenyum dan duduk di pinggiran ranjang, menatap Radit. "Saya senang melakukannya, tidak masalah."


Radit terdiam, menatap dalam bola mata Zelea. Kemudian mengangguk. "Baiklah jika kamu senang, tapi ingat saat kamu lelah jangan melakukannya."


Zelea tersenyum. "Baik Tuan."


Setelah bicara Zelea tampak bingung harus ngapain lagi, tiba-tiba terbesit sesuatu dalam pikirannya.


"Apa Tuan mau mandi, jika begitu akan saya siapkan air hangat." Zelea bangkit dari duduknya sebelum mendengar Radit bicara, wanita itu segera masuk ke dalam kamar mandi menyiapkan air hangat.


*


*

__ADS_1


Zelea dan Radit sama-sama turun ke lantai satu menuju ruang makan, Zelea berjalan di belakang Radit, saat baru masuk ke ruang makan, Radit terkejut melihat seseorang yang sudah duduk di sana.


Radit melebarkan senyumnya, sudah lama tidak bertemu sang putra, tentu hatinya merindu.


"Halo Boy, kamu pulang kapan? Daddy baru melihatmu," sapa Radit setelah berdiri di samping Nofal yang sedang duduk.


Nofal berdiri dan langsung memeluk sang ayah.


"Semalam Dad," ucap Nofal, senyumnya juga tidak kalah merekah dengan senyum Radit, namun perlahan senyum itu meredup saat melihat wanita yang saat ini berdiri di ambang pintu.


Zelea, batin Nofal. Perlahan melepas pelukannya, matanya masih menatap Zelea. Wanita itu saat ini diam tanpa ekspresi. Tatapan dingin campur benci melihat Nofal.


Radit mengikuti arah mata Nofal, yang ternyata melihat Zelea. Radit menghela nafas panjang.


*Aku harus meluruskan masalah ini, Nofal belum tahu apa bila aku sudah menikah*, batin Radit.


"Ze, kemari lah," titah Radit, meminta Zelea duduk di kursi sebelahnya. Wanita itu menurut, tanpa menolak langsung duduk di sebelah Radit.


Nofal saat ini sudah kembali duduk, tapi hatinya penuh pertanyaan-pertanyaan yang ingin segera mendapat jawaban.


"Dad-,"


"Dia adalah ibu tirimu, Daddy sudah menikah dengannya," jelas Radit memotong ucapan Nofal yang saat itu ingin bertanya.


Mata Nofal langsung terbelalak lebar.


Apa! Ibu tiri? Daddy menikah dengan wanita itu, mantan kekasih aku! Hah bagaimana bisa, batin Nofal tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Daddy becanda, iya kan?" Nofal tertawa, menolak kebenaran ini, tapi saat ini tangannya sudah terkepal. Hatinya marah ayahnya menikah lagi. Nofal tidak mau memiliki ibu tiri.


"Ini serius, maafkan Daddy yang tidak mengabarimu. Dan baru sekarang memberitahumu," ucap Radit merasa bersalah.


Zelea tersenyum memulai menjalankan rencananya.


"Mas ... Pagi ini kita akan ada meeting bersama klien, mari kita segera sarapan dan berangkat kerja." Zelea bicara manja seraya menyentuh tangan Radit.


Radit mengangguk, dan tidak lagi mempedulikan Nofal, pikirannya saat ini untuk segara berangkat kerja.


Nofal dan Zelea saling tatap dengan pandangan yang berbeda.


Ibu tiri? Batin Nofal.

__ADS_1


Ini baru permulaan Nofal, hari esok akan banyak kejutan untuk mu, yang akan membuat kamu menggila, batin Zelea tersenyum miring.


__ADS_2