Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 52. Kabur.


__ADS_3

Malam hari Zeon sedang menikmati secangkir kopi di temani Galang sang asisten.


Mereka berdua sedang bermain catur, untuk mengisi malam yang tanpa kesibukan.


Saat giliran Zeon waktunya bermain, tiba-tiba mendengar suara bunyi ponselnya, Zeon mengambil ponsel tersebut dan ternyata yang nelpon Rendi, Zeon segera mengangkatnya.


"Halo," ucap Zeon seraya membuat gerakan tangan mengisyaratkan Galang untuk diam.


"Besok pukul sembilan pagi tolong datang ke kantor." Begitu ucapan Rendi di sambungan telepon yang Zeon dengar.


Tapi Zeon masih belum paham tujuan Rendi. "Apa ada hal penting?"


"Ya, besok aku akan mengajak kamu datang ke rumah ... Besok kita bersama," jelas Rendi.


"Ok," jawab Zeon.


Kemudian sambungan telepon dimatikan.


Wajah Zeon mendadak berubah ceria, terlihat sangat bahagia, membuat Galang tidak bisa bila tidak bertanya.


"Ada hal baik, Tuan?"


Zeon menatap Galang. "Ya, besok aku akan bertemu Zelea."


"Baguslah jika begitu, Tuan." Galang ikut merasa senang.


Dan ahirnya mereka berdua kembali melanjutkan bermain catur, sampai mengulang lagi begitu seterusnya sampai pukul sebelas malam barulah mereka mutuskan untuk tidur.


*


*


*


Seperti yang diminta Rendi semalam di sambungan telepon, bahwa pukul sembilan pagi ini, Zeon langsung melajukan mobilnya menuju Tin Group.


Kedatangan Zeon di Tin Group di sambut dengan baik oleh bawahan Rendi, Zeon di kawal sampai tiba di depan pintu ruang kerja Rendi.


"Silahkan masuk, Tuan." Begitu ucap pengawal Rendi yang menemani Zeon.


Zeon melangkah masuk, di dalam sana Zeon mendapati Rendi sedang berdiri di depan jendela dengan tatapan mengarah keluar.


"Kamu sudah datang?" sapaan Rendi pada Zeon tanpa menoleh ke belakang tempat Zeon berada.


"Hem," jawab Zeon singkat.


"Sebelum kita datang ke rumah, aku mau bicara sebentar sama kamu," ucap Rendi lagi, masih setia menatap ke arah luar jendela, melihat bangunan tinggi juga, dan ramainya kota pagi ini.

__ADS_1


Zeon berdiri di belakang Rendi, siap mendengarkan apa yang akan Rendi ucapkan.


Sesaat memang hening, karena Rendi tidak kunjung bicara. Zeon hanya mendengar helaan nafas berat Rendi yang berulang kali pria itu hembuskan.


Setelah lama hanya diam, ahirnya Zeon mendengar kalimat yang begitu mengejutkan.


"Aku kembalikan Zelea untuk kamu."


Begitulah kalimat yang Zeon dengar dari bibir Rendi, maksud bahwa Zelea tidak akan bersama Rendi lagi. Zeon pikir semudah itukah Rendi melepas Zelea, namun ternyata Rendi masih melanjutkan ucapannya.


"Tapi aku tidak akan segan-segan untuk merebut Zelea kembali dari tanganmu andai kau menyakiti Zelea." Rendi memejamkan matanya setelah bicara. "Aku juga sangat mencintai dia," lanjut ucapnya.


"Juga berat seperti kamu untuk kehilangan dia." Kali ini Rendi membalas tatapan Zeon. "Jadi tolong jangan sia-siakan dia," ucapnya dengan penuh penekanan di Ahir kata.


Zeon mengangguk. "Sudah lama aku mencari dia, tentu aku tidak akan menyakiti dia tanpa kamu minta."


"Aku maunya begitu." Rendi melangkah mendekatinya. "Kita ke rumah sekarang," lanjut ucapnya seraya berjalan lebih dulu.


*


*


*


Langkah kaki Zeon terasa gemetar saat pertama kali menginjak lantai rumah Rendi, karena di rumah megah ini ada wanita yang begitu Zeon cintai.


Saat tiba di ruang tengah, ruangan yang begitu luas, bertemu pelayan yang baru saja turun dari tangga.


"Permisi Tuan," ucap pelayan itu pada Rendi.


Dan Rendi hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan terus mengarahkan Zeon untuk tetap berjalan sampai kini mereka menapaki anak tangga.


Tidak lama kemudian sampailah di lantai paling atas, Zeon masih mengikuti langkah Rendi yang berjalan di depannya itu, di lantai ini ada banyak kamar, dan sepertinya Rendi sedang mengajaknya untuk menuju kamar Zelea.


Dan benar saja setelah berhenti di depan salah satu pintu, Rendi mengetuk pintu kamar itu seraya memanggil nama Zelea.


"Zelea ... Zelea!"


Perasaan Zeon makin terasa tidak karuan, gugup campur gelisah, karena detik-detik akan bertemu Zelea.


Namun sayangnya Zelea tidak kunjung membuka pintu, ahirnya Rendi mencoba memutar handle pintu yang ternyata tidak di kunci.


"Zelea." Rendi masih berusaha memanggil namanya, sembari melangkah masuk.


Dan saat ini lah Zeon bisa melihat ruang kamar Zelea yang ternyata terdapat lukisan wajahnya.


"Zelea." Rendi masih sibuk mencari Zelea, berjalan menuju balkon di carinya Zelea tidak ada, kemudian berjalan ke kamar mandi dan saat dibuka juga tidak ada Zelea di dalam sana.

__ADS_1


"Dimana Zelea," gumamnya lirih seraya menutup kembali pintu kamar mandi.


Namun Zeon sudah tidak peduli apa yang Rendi lakukan saat ini, Zeon berdiri memandangi lukisan wajahnya dengan hati penuh sesak.


Karena sekarang tahu bahwa Zelea-nya begitu mengingat dirinya.


"Dia begitu mencintaimu."


Suara Rendi mengejutkan Zeon yang mau menyentuh lukisan tersebut.


"Sekarang kamu makin percaya, kan. Kalau dia benar-benar mencintaimu." Rendi menepuk bahu Zeon. "Aku ke bawah sebentar mau mencari Zelea."


Rendi langsung pergi begitu saja meninggalkan Zeon sendiri di ruang kamar ini.


"Zelea, ini sangat mirip dengan aku," gumam Zeon, kini air matanya sudah menetes tanpa permisi.


Zeon masih terus mengagumi lukisan hasil karya Zelea, di sana juga ada lukisan mirip seperti kartun, tapi dua orang pria dan wanita, dalam menggunakan busana pernikahan.


Zeon makin sedih saat ada tulisan nama Zeon dan Zelea di setiap lukisan kartun itu. Seolah saat ini Zeon tahu apa yang Zelea inginkan dari lukisan itu. Sebuah pernikahan yang bisa menjadi nyata.


"Maaf ... Maafkan aku," gumam Zeon seraya mengusap lukisan sepasang kartun itu.


Sementara itu Rendi di bawah sana sama sekali tidak menemukan Zelea, dan kebetulan saat ini bertemu pelayan yang biasa mendampingi Zelea.


"Bibi, apa melihat Nona Zelea ada dimana?" tanya Rendi.


"Tahu Tuan, tadi Nona Zelea keluar rumah membawa koper, katanya mau ke bandara."


"Apa!" Rendi begitu terkejut mendengar penjelasan pelayan itu, ini sudah dipastikan bahwa Zelea kabur.


Rendi segera naik ke lantai atas untuk memanggil Zeon.


"Zelea kabur," ucap Rendi begitu sampai di kamar Zelea dan melihat Zeon yang masih berdiri di depan lukisan.


Zeon segera berbalik menatap tajam Rendi. "Maksudmu apa!"


"Kita tidak punya banyak waktu, ayo sekarang kita susul Zelea di bandara," ajak Rendi dan langsung berlari begitu saja.


Zeon menyusul langkah cepat Rendi, hingga kini mereka sudah sama-sama berada di dalam satu mobil.


Rendi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. "Aku harus cepat khawatir pesawatnya segera terbang," ucap Rendi tanpa menoleh ke arah Zeon.


Zeon hanya diam, ia masih bingung dengan keadaan yang tiba-tiba mendapat kabar Zelea kabur.


"Zelea selama ini tidak amnesia."


Zeon langsung menoleh ke arah Rendi seraya menatap tajam.

__ADS_1


"Aku terpaksa bohong karena permintaan Zelea." Terangnya lagi.


__ADS_2