Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 27. Pengganggu nonton TV


__ADS_3

Zeon menjauhkan tubuhnya dari Zelea tanpa sepatah kata pun, dan kembali duduk di kursi kemudi dengan sempurna, tidak lama dari itu Zeon menjalankan mobilnya, pikirannya masih banyak pertanyaan dengan yang barusan terjadi.


Zelea menatap jalanan.


Aneh sekali dia, mau apa tadi dia? Benar-benar menyebalkan hari ini, batin Zelea.


Zeon fokus mengemudi menatap ke depan, tapi pikirannya tidak fokus dengan yang saat ini ia lakukan.


Sudah dua kali ini aku merasakan hal aneh saat posisiku begitu dekat dengan Zelea. Ada apa sebenernya? Perasaan apa ini? Aku benar-benar tidak tahu ini perasaan apa namanya? Batin Zeon.


Selama perjalanan menuju perusahaan mereka berdua tidak ada yang saling bicara, diam dengan pikiran masing-masing.


*


*


*


Brakk!


Zelea begitu kasar menutup pintu mobil setelah tiba di perusahaan.


"Astaga wanita itu!" geram Zeon, karena ulah Zelea sampai membuat dirinya kaget.


Zeon keluar juga dari dalam mobil, sementara itu Zelea sudah masuk ke dalam perusahaan lebih dulu, dengan raut wajah cemberut sampai-sampai ada karyawan yang menyapanya Zelea tidak merespon tetap pasang wajah ditekuk.


"Tidak biasanya sekertaris Presdir jutek."


"Iya tidak biasanya."


Suara karyawan yang sapaannya dicuekin Zelea.


"Kalian bekerjalah tidak usah ghibah!" tegas Zeon, yang ternyata mendengar bisikan-bisikan mereka berdua.


Dua karyawan itu langsung takut. "Ma-maaf Tuan." Menunduk dalam.


Zeon menghela nafas berat dan berjalan begitu saja.


"Dasar wanita giliran sudah ketahuan baru minta maaf," gerutunya sembari terus berjalan menuju lift.


Sementara itu Zelea sudah tiba di ruang kerjanya, masih dalam ke adaan kesal, marah sama Zeon.


"Ah! Nyebelin kesel! Kesel ..." makinya seraya mukul-mukul meja kerjanya.

__ADS_1


Radit yang melihat Zelea marah-marah langsung mendekati wanita itu.


"Kenapa wajahmu merah seperti kepanasan seperti itu?" Radit kaget.


Zelea mengerucutkan bibirnya.


Aku akan adukan sama Mas Radit, biar kapok Zeon dimarahin, batin Zelea yang akan menjual kesedihannya.


"Iya Mas, aku kepanasan, lihatlah di luar, hari ini matahari bersinar dengan teriknya dan Zeon tidak mau berbagi payung dengan ku." Zelea memasak wajah sedih.


"Hiks, aku sudah perawatan mahal dan sekarang apa yang aku dapat, kulit wajahku menjadi menghitam." Berakting menangis seraya memperhatikan tangannya.


Radit jadi kasihan melihat Zelea. "Aku akan bicara dengan anak itu, tenanglah," titahnya lembut.


Zelea mengangguk, wajahnya masih berakting sedih.


Zelea mengintip dari ekor matanya, Radit sudah pergi. Zelea tersenyum miring.


"Kalau aku kesal kamu harus merasakan kekesalan juga," bicaranya pada diri sendiri. Zelea tersenyum bahagia. Apa bila dirinya tidak bisa membalas perbuatan Zeon, tapi Radit akan menggantikan dirinya, Zelea senang dengan melalui Radit bisa membalas Zeon.


Zelea berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya supaya lebih seger.


Zelea melihat pantulan wajahnya di cermin, perasaannya jadi sedih saat melihat wajahnya yang masih memerah karena udara panas di luar tadi.


Setelah mengelap kering wajahnya, Zelea keluar dari sana dan kembali ke meja kerjanya.


Zelea mulai mengerjakan pekerjaannya.


Sementara itu di ruang sebelah, tampaknya sedang lagi tidak baik-baik saja, seorang ayah dan anak sedang dalam berdebat.


Radit mendatangi ruang kerja Zeon setelah keluar dari ruangannya. Di sana Radit menasehati Zeon, tapi anak itu tidak mau mendengar. Dan makin benci hatinya pada Zelea karena Radit membela wanita itu.


"Kenapa kamu membiarkan Zelea kepanasan? Harusnya kamu mau berbagi payung dengan Zelea," ucap Radit, berdiri di depan meja kerja Zeon. Radit masih berbicara dengan nada lembut, tidak mau pembicaraan ini menjadi perdebatan.


"Hahah, jadi dia mengadu sama Daddy, dasar mirip sekali dengan anak kecil, suka mengadu," cibir Zeon disertai senyum mengejek.


"Dia tidak mengadu, tapi Daddy melihat kulitnya seperti terbakar, dan Daddy yang meminta penjelasan."


Zeon berdiri dari duduknya seraya bertepuk tangan. "Wah, Daddy begitu membela wanita itu." Tersenyum mengejek.


"Jangan terlalu bersikap kasar pada ibumu."


"Dia hanya istri Daddy, bukan ibuku," kilah Zeon, sorot matanya tajam tidak suka dengan ucapan ayahnya.

__ADS_1


"Setidaknya perlakukan baik juga dia, karena dia seorang wanita, jika kamu benci dia karena dia istri Daddy."


Setelah bicara seperti itu Radit pergi dari ruang kerja Zeon, meninggalkan Zeon yang sedikit tersentak hatinya mendengar kalimat ucapan ayahnya karena dia seorang wanita.


Zeon menjatuhkan kembali tubuhnya di kursi kerjanya dengan dramatis. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu seperti sedang banyak beban pikiran.


Zeon mendongak menatap langit-langit ruangan. "Aku tidak bisa baik sama dia, aku ingat betul ucapan Nofal kala itu, dia hanya wanita licik, yang mau menikahi Daddy karena harta, aku tidak bisa baik sama dia."


Provokasi Nofal waktu itu masih Zeon ingat, membuat hatinya buta dan terus menganggap Zelea wanita tidak baik, selain Zeon juga tidak ingin memiliki ibu tiri.


Tidak mau terus ambil pusing, Zeon menyibukkan dengan pekerjaan.


Sementara itu Radit yang kini kembali ke ruang kerjanya, masih berdiri di depan pintu.


Satu bulan lagi pernikahan ini selesai, aku harus memberikan hadiah untuk Zelea, setelah dia bukan jadi istriku lagi, setidaknya dia masih bisa melanjutkan perjalanan hidupnya, batin Radit.


*


*


*


Malam hari, Zelea menonton televisi di ruang tengah sendirian, ketawa sendirian.


Suara tawa Zelea mampu di dengar oleh Zeon yang baru pulang kerja, Zeon ada lembur jadi baru bisa pulang malam, sementara itu Zelea dan Radit sudah pulang sejak sore tadi.


Zeon melepas sepatu pantofel, ia letakkan di ranjang sepatu. "Nonton apa dia? Ketawa-ketawa seperti itu." Zeon bicara sendiri.


Zeon berjalan ke ruang tengah, selain mau menuju kamar, Zeon mau lihat apa yang membuat Zelea sampai tertawa seperti itu.


Zeon seketika menggelengkan kepalanya saat tahu ternyata Zelea sedang menonton televisi, wanita itu sembari makan cemilan di dalam toples yang saat ini dipegang sambil duduk di sofa.


Enak kali hidup dia, duduk santai nonton TV, batin Zeon mencibir Zelea.


Zelea masih terus berlanjut tertawa, film pelawak yang ia tonton, sangking asyiknya sampai membuatnya kaget saat tiba-tiba melihat ada Zeon di ruangan tersebut.


Zelea menghela nafas berat saat menatap Zeon.


Huh ganggu saja, kenapa sih baru pulang sekarang, kenapa tidak usah pulang saja! batin Zelea seraya melipat tangan di depan dada. Toples wadah cemilan berpindah di sofa.


Dasar wanita aneh, batin Zeon.


Zelea berdiri mau pergi ke kamar malas bertemu Zeon, tapi secepat kilat Zeon menahan tangan Zelea. Dan menarik wanita itu kembali terduduk di sofa, Zelea berada di bawah kungkungan Zeon. "Kau mengadu dengan Daddy?" pertanyaan terdengar berat, jelas pria itu saat ini sedang marah.

__ADS_1


__ADS_2