
Di tempat yang beda, dalam waktu bersamaan, seorang pria sedang mau menyelesaikan masalahnya.
Hari ini Nofal kembali mendatangi rumah Milli, hanya seorang diri tanpa mengajak Bagas sang asisten.
Mobil yang Nofal kendarai kini sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah Milli.
Nofal mengatur nafas dalam-dalam sebelum ahirnya keluar dari dalam mobil, berjalan mendekati gerbang yang menjulang tinggi itu.
Nofal menekan bel rumah, tidak lama kemudian datanglah seorang berseragam putih, yaitu seorang satpam penjaga gerbang.
"Maaf, ingin bertemu siapa?" tanya satpam itu dengan tatapan penuh selidik, karena baru pertama kali melihat wajah Nofal.
"Saya mau bertemu ayahnya Milli," ucapnya dengan ramah.
Satpam tersebut manggut-manggut. "Tunggu sebentar," ucapnya kemudian berjalan pergi.
Nofal menunggu satpam itu dengan perasaan harap-harap cemas. Bahkan saat ini telapak tangannya sudah terasa dingin.
Mau menemui dua orang yang sebelumnya tidak ia kenal sama sekali, dan tugasnya untuk meyakinkan dua orang itu, yang sama sekali belum ia tahu akan seperti apa responnya.
"Ini Pak orangnya," ucap satpam itu pada pria di sebelahnya.
Nofal yang tadi sempat melamun langsung tersadar mendengar ucapan satpam barusan.
Nofal tersenyum ramah pada pria yang dilihatnya itu, yang masih terlihat tampan meski diusianya yang sudah tak lagi muda.
"Anda mau bertemu saya."
Kini Nofal paham bahwa pria di depannya itu adalah ayah Milli.
Nofal mengangguk. "Benar, Pak?"
"Ada urusan apa mau bertemu dengan saya?" tanya ayah Milli lagi, dengan tatapan dingin.
"Ada hal penting, Pak. Dan harus bicara serius." Nofal menegaskan.
Ayah Milli tentu tahu siapa Nofal, seorang selebriti terkenal lima tahun lalu, yang karirnya hancur setelah mendapat kasus.
Sedikit merasa bingung melihat kedatangan pria muda itu, yang ingin bicara serius dengannya, karena sebelumnya tidak saling kenal malah.
Nofal diizinkan masuk ke dalam, kini mereka berjalan mau memasuki rumah besar itu, Nofal melihat halaman rumah yang begitu luas dan bersih. Tempat yang nyaman serta banyak pepohonan juga.
Tepat di depan teras rumah, ada air mancur dari patung kuda laut. Lebih masuk ke dalam teras ada bunga-bunga di pot kecil-kecil.
Nofal melangkahkan kakinya masuk ke ruang tamu, dengan perasaan gugup dan penuh cemas.
__ADS_1
"Silahkan duduk, beginilah rumah kami, semoga nyaman."
Begitu suara yang Nofal dengar menyadarkan lamunannya, Nofal tersenyum dan menerima untuk duduk.
Bagi Nofal ini rumah bukan sekedar biasa, ia baru tahu bahwa Milli putri dari orang kaya. Dan merasa sepertinya jalan menuju Milli akan terasa sulit, andai ayah Milli tahu yang sebenarnya sudah terjadi.
"Mau bicara apa?" tanya ayah Milli.
"Em." Nofal lagi-lagi merasa gugup, bingung mau mulai pembicaraan dari mana.
Ayo Nofal mikir, kamu sudah sampai disini selesaikan semua hari ini, batin Nofal.
Pelayan datang mengantarkan minuman, Nofal merasa lega ada jeda untuk mikir, tapi begitu pelayan pergi, Nofal dilanda kecemasan lagi, benar-benar bingung mau memulai pembicaraan dari mana?
"Saya temannya Milli."
Hem. Ayah Milli menatap serius ke arah Nofal.
"Sa-saya saya ..." Nofal menghentikan ucapannya, mendadak bingung merangkai kata-kata yang pas untuk diucapkan.
Namun sepertinya takdir sudah saatnya mempertemukan mereka, tiba-tiba Nofal mendengar suara yang tidak asing berada di ruangan yang sama.
"Papa, Papa lihat ponsel aku yang satunya lagi tidak? Semalam kan Papa pinjam."
"Ada, di kamar Papa, di dalam laci," ucap ayah Milli.
"Ok, Pa." Milli mau berjalan pergi, tapi urung saat tangannya merasa di pegang oleh seseorang.
Entah miliki keberanian dari mana, Nofal tiba-tiba berdiri dan mendekati Milli, meraih tangan Milli untuk ia genggam sebelum Milli berjalan pergi.
Rasanya luar biasa Nofal Bisa menggenggam tangan Milli, sampai lupa bahwa di ruangan ini ada ayah Milli.
Milli berbalik menatap Nofal, pria yang tidak Milli kenal, bahkan lupa pernah bertemu atau tidak sebelumnya.
"Kamu sehat?"
Begitu pertanyaan yang lolos dari bibir Nofal, menatap berkaca-kaca ke arah Milli, membuat Milli mengernyit heran yang terjadi pada seseorang di depannya itu.
Tangan mereka masih saling menggenggam, Milli tidak meminta untuk dilepaskan atau menghindar, seolah sedang terhipnotis mata yang berkaca-kaca itu.
Milli mengangguk kecil, sangat kecil sampai tidak terlihat, namun Nofal masih mampu mengerti.
Kini pandangan mata Nofal beralih ke perut Milli yang sudah tampak buncit, karena saat ini Milli menggunakan dress ketat.
"Apa anakku di sini juga sehat?" Tangan Nofal mengusap perut Milli dengan pandangan mata teduh mengarah ke sana.
__ADS_1
Deg!
Tidak hanya Milli yang terkejut, ayah Milli juga makin terkejut.
Ayah Milli langsung bangkit, menarik Nofal untuk menjauh dari Milli, Ayah Milli ingin semua yang di dengarnya tadi jelas.
"Apa maksudmu!" Ayah Milli menatap tajam ke arah Nofal.
Deg!
Nofal baru sadar kesalahan beberapa menit lalu, karena sangking bahagianya bisa bertemu Milli, apa lagi Milli yang tidak menolak saat ia menggenggam tangannya, membuat Nofal tanpa sadar menyebutkan anaknya dalam perut Milli.
"Apa maksudmu bicara anak!" bentak Ayah Milli, ayah Milli menatap Milli. "Milli masuk ke dalam kamar!"
Milli menggeleng ia juga ingin tahu alasan pria yang tidak dikenalnya itu bicara anak, karena sampai detik ini Milli tidak bisa mengingat siapa pria yang tengah menghamilinya.
Nofal membawa tubuhnya meluruh ke bawah, bertekuk lutut di hadapan ayah Milli dengan kepala tertunduk. "Maafkan aku ... Aku sudah menghancurkan masa depan putri Anda."
Deg. Deg. Deg. Seketika jantung Milli terpompa cepat mendengar kalimat penjelasan dari pria yang tidak dikenalnya itu.
Bagaimana mungkin itu terjadi? bagaimana bisa pria yang tidak dikenalnya itu yang melakukan? Sungguh saat ini Milli belum bisa mengerti yang sudah terjadi.
"Kurang ajar!" amarah ayah Milli.
Bugh! Bugh!
Dua pukulan bogem mentah mendarat di wajah Nofal, sampai Nofal terjungkal ke belakang.
Ayah Milli meraih kerah baju Nofal, dan memukul wajahnya Nofal lagi dengan membabi buta.
Nofal hanya pasrah tidak melawan sama sekali, baginya ia pantas mendapat perlakukan seperti ini dari seorang ayah yang putrinya sudah ia nodai.
Tidak Nofal rasakan lagi saat bibirnya terasa perih, sudah dapat dipastikan pasti saat ini bibirnya sudah robek.
"Beraninya kau merusak putriku! Hah!"
Bugh! Bugh!
Suara pukulan demi pukulan terus Milli dengar, wanita itu hanya diam terpaku disertai lelehan air mata, Milli tidak bisa melerai ayahnya yang lagi marah saat ini.
Hingga ahirnya mamanya datang dan mengajak Milli pergi dari sana.
Bugh!
Pukulan mendarat lagi di wajah Nofal hingga wajahnya miring kini ia melihat Milli yang berjalan pergi, bibirnya tersenyum kecil, sebelum ahirnya kegelapan menutup matanya.
__ADS_1