
"Baru pulang?" sapa Zelea tanpa tersenyum.
Zeon hanya diam dan kembali berjalan setelah Zelea sedikit menggeser tubuhnya memberi akses ruang untuk Zeon berjalan.
Zelea menoleh ke belakang, dilihatnya Zeon sedang mengambil air minum di dalam lemari pendingin.
"Aku mau bicara sebentar," ucap Zelea setelah beberapa saat mencoba menimbang-nimbang.
Zeon masih menghabiskan air dingin, Zelea harus menunggu demi mendapat jawaban.
Kemasan Aqua itu Zeon buang ke tong sampah kemudian berjalan lagi melewatinya. "Mau bicara apa."
Zelea mengikuti langkah kaki Zeon yang terus berjalan. "Sesuatu yang penting.
Zeon mendudukkan diri di sofa ruang tengah. Tidak memberi respon, itu artinya Zelea harus bicara lagi.
"Jangan halangi aku." Zelea menghentikan ucapannya, saat tiba-tiba Zeon menatapnya dengan tatapan tajam.
"Aku dan Mas Radit akan bercerai, sesuai kesepakatan kita, jadi kamu tidak ada alasan untuk menahan aku," tegasnya.
"Cuma itu saja yang mau aku sampaikan, aku pergi." Setelah bicara Zelea bangkit dari duduknya, berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya berada.
Sepeninggalan Zelea, Zeon melamun. Bertanya pada diri sendiri, apa kah harus bahagia? Atau apakah malah sedih?
Satu yang pasti, selepas Zelea bukan lagi bagian dari keluarganya, belum tentu ayahnya akan merestui.
Dan hal ini tetap saja akan menjadi batu besar baginya yang sulit untuk disingkirkan.
"Aku harus apa? setelah dia pergi aku tidak akan bisa bertemu dengan dia, jika aku menahannya apa alasan aku?" Zeon mengusap wajahnya dengan kasar.
Merasa frustasi tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Ahirnya Zeon memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Zeon hanya membolak-balikkan hp di tangannya, dalam hati ingin menahan Zelea, tapi khawatir langkahnya salah.
Ahirnya Zeon menghubungi Robby untuk ia ajak curhat.
"Halo Robby, kamu dimana?"
"Bisa kita bicara sebentar?" lanjut tanyanya lagi.
"Bisa," jawab Robby di sambungan telepon.
"Dia mau pergi Rob, aku harus gimana sekarang?" tanyanya gugup.
"Dia siapa?" Robby balik tanya karena belum paham.
Zeon menghela nafas berat. "Hah! Masa kmu gak paham sih!" nadanya kesal.
__ADS_1
"Ya sebutin aja siapa? Aku beneran tidak paham," terang Robby.
Hah Robby benar-benar nyeselin, batin Zeon.
"Wanita yang berhasil membuat aku jatuh cinta!" Ahirnya dengan rasa kesal Zeon menjawab.
Hahahah. Malah suara tawa Robby di seberang sana yang Zeon dengar.
"Hei sialan! kenapa kamu ketawa!" maki Zeon begitu keras, Robby di seberang sana sampai menjauhkan hp dari telinganya.
"Hahah, sorry... Sorry," jawab Robby.
"Kamu bisa ngasih solusi gak? Kalau gak, aku matikan hp ini!" Zeon sudah kehabisan kesabaran.
Namun sebelum menggeser simbol merah, suara Robby lebih dulu terdengar.
"Sebelum kamu menyesal seumur hidup mesti kamu harus jujur sama dia tentang perasaan kamu."
"Kamu gila!" bentak Zeon setelah Robby selesai bicara.
"Hei! Aku ngasih saran, malah dikatain gila." Robby tidak terima.
"Tidak tidak, aku tidak mau jujur sama dia," kekeh Zeon.
"Terserah kalau tidak mau, yang pasti awas saja sampai curhat ke aku lagi masalah itu cewe lagi." Robby menekankan.
"Hah kamu malah memberiku jawaban yang tidak masuk akal," jawab Zeon. Dan setelah itu sambungan telepon dimatikan sepihak.
"Aku harus jujur sama dia, tidak itu tidak bisa. Karena ini akan menjadi masalah besar," gumamnya seraya menjatuhkan diri ke atas ranjang.
"Aku yakin ini hanya perasaan sementara, pasti akan hilang dalam waktu cepat," gumamnya lagi. Dan berusaha untuk segera tidur.
Namun ternyata sama sekali tidak bisa tidur, meski matanya terpejam tapi pikirannya tetap tidak bisa istirahat, tetap mampu mendengar suara-suara apa pun.
Ucapan Zelea yang mau bercerai dan akan pergi terus berputar-putar di pikirannya, membuat Zeon terus terjaga dan merasa gelisah.
"Oh jatuh cinta kenapa harus seperti ini rasanya! Kenapa harus dia! Kenapa harus dia!" Zeon memukul-mukul bantal.
Sampai tidak terasa Zeon meneteskan air mata, tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Zeon takut kehilangan.
Lambat laut pukulan di bantal menjadi melemah, Zeon mengusap matanya yang basah.
Mungkin sebagian orang akan bahagia saat merasakan pertama kali jatuh cinta, tapi tidak dengan dirinya, yang malah sedih.
Ibarat belum diungkapkan tapi sudah pupus duluan, karena paham tidak akan pernah bisa bersama.
Ahirnya Zeon membawa langkahnya menuju balkon, berdiam diri di sana cukup lama.
Merasakan hembusan angin malam yang begitu menenangkan. Kepalanya yang tadi sempat mau meledak kini terasa lebih dingin dan fresh.
__ADS_1
Zeon jadi bisa berpikir lebih tenang, seraya memikirkan apa yang harus ia lakukan besok.
"Minta maaf." Jemari Zeon mengetuk-ngetuk pagar balkon. "Ya, aku akan minta maaf sebelum dia pergi," lanjut gumamnya.
"Sekalian aku bertanya kapan dia akan pergi?"
"Tapi bagaimana kalau dia besar kepala?" Zeon menghela nafas berat. "Aku cukup beralasan saja, ya? begitu pasti lebih baik."
Setelah yakin dengan rencananya, Zeon kembali masuk ke dalam kamar, karena tidak tahan dengan banyaknya nyamuk diluar.
*
*
*
"Semua untuk keperluan kamu sudah di urus sama Asisten Mip," suara Radit menjelaskan.
Zelea mengangguk, saat ini mereka sedang sama-sama berbaring di atas ranjang dan sama-sama menatap langit-langit kamar.
"Jadi kamu tidak perlu khawatir masalah kebutuhan, meski sudah bukan istri aku lagi. Dengan yang aku berikan tadi kamu masih bisa melanjutkan hidup dan untuk masa depan kamu," lanjut Radit lagi menerangkan.
Zelea mengangguk.
"Kalau bisa kamu buka usaha nanti, supaya keuangan yang kamu pegang terus mengalir dan bertambah," terangnya lagi.
"Nanti akan saya coba pikirkan, Mas." Zelea Membenarkan bantal.
"Sebenarnya aku masih ingin kamu kerja di perusahaan, bukan malah undur diri." Radit menghela nafas panjang, seolah dalam arti sangat disayangkan.
Namun berbeda bagi Zelea, tentu ia milih pergi karena ingin menghapus semua yang telah terjadi.
Tugasnya sudah selesai, dan ingin hidup normal seperti yang lainnya juga, meski nanti pasti tidak akan bisa perawatan mahal lagi, tapi itu tidak apa-apa bagi Zelea karena yang penting ia bebas.
"Nanti pergi ke bandaranya diantar Asisten Mip aja ya? Maaf aku tidak bisa antar kamu." Nada bicara Radit terdengar sedih.
"Tidak apa-apa, Mas. Sama Asisten Mip tidak masalah," jawab Zelea yakin. Supaya Radit tidak merasa bersalah.
"Sore hari, kan?" tanya Radit untuk pastiin.
"Iya Mas."
"Semoga kamu betah di tempat tinggal mu yang baru," ucap Radit menutup pembicaraan mereka berdua.
Sementara itu di kamar sebelah, tepatnya di kamar Zeon, ternyata pria itu masih saja belum bisa tidur.
Merasakan tubuhnya panas dingin sebuah perasaan yang tidak ingin ditinggalkan, takut namun tidak bisa mencegah.
Zeon tanpa terasa meneteskan air mata mengingat kembali ucapan Zelea yang mau pergi, sedih? itu lah yang Zeon rasakan . Zeon kini menyadari benar-benar mencintai Zelea.
__ADS_1
Aku mencintai ibu tiriku, tersenyum getir.