Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 54. Tidak peduli masa lalu kamu.


__ADS_3

Hiks hiks.


Suara Isak tangis Zelea, setelah mengetahui kebenaran bahwa Radit sudah meninggal, air matanya tidak sanggup ia bendung kini tumpah ruah, bagai air banjir yang kini membasahi pipi.


Zeon berpindah posisi, yang tadi duduk saling berhadapan dengan Zelea, kini berganti duduk di kursi sebelah Zelea.


Zeon menarik Zelea dalam pelukannya, membiarkan Zelea menangis di dadanya. Tidak hanya Zelea yang merasa sedih, Zeon juga ikut merasakan kesedihan Zelea saat ini.


Bahkan Zeon sendiri selalu merasa sedih setiap kali teringat ayahnya, sosok yang sudah membesarkannya setelah ibunya meninggal, kini ikutan pergi meninggalkannya.


"Aku merasa bersalah ... Aku belum sempat minta maaf tapi mas Radit sudah pergi." Zelea memukul pelan dada Zeon.


Zeon menangkap tangan Zelea lalu mencium kepalan tangan yang terasa gemetar itu. "Jangan menyalahkan dirimu, Daddy sudah maafkan kamu," ucapnya sembari semakin mengeratkan pelukan.


"Daddy pergi dalam keadaan tenang dan bahagia, tidak ada salah dari kamu, Daddy sangat menyayangi kamu." Zeon berkata lembut, namun terasa menusuk di hari Zelea.


Membuat Zelea tangisnya semakin menjadi, teringat masa lalu yang memanfaatkan kebaikan Radit hanya untuk memenuhi ambisi balas dendam pada Nofal.


"Maafkan aku, Mas ..." Dengan suara tercekat di tenggorokan, Zelea semakin tergugu.


"Sekarang yang aku minta kamu mau pulang ya? Supaya kamu bisa berkunjung di makam Daddy," ucap Zeon, kini mencium dalam puncak kepala Zelea.


Zelea mengangguk kecil, sangking kecilnya Zeon tidak mampu menyadari, karena Zelea masih dalam pelukan eratnya.


Zeon mengusap punggung langsung itu, untuk menenangkan sang pemilik tubuh, tidak lama kemudian isak tangis Zelea berangsur-angsur hilang.


Kini tubuh yang masih dalam pelukan Zeon mulai terasa tenang, sudah tidak gemetar seperti beberapa saat lalu yang masih menangis.


Zeon tersenyum penuh kelegaan, ahirnya Zelea sudah melepas segala emosinya, dan Zeon berharap setelah ini tidak ada lagi air mata, namun yang ada selalu senyum bahagia.


Hati kecilnya berjanji akan selalu membuat Zelea bahagia.


"Sekarang kita pulang ya?" Suara Zeon di tengah keheningan, mereka berdua masih betah dalam posisi saling memeluk.


Namun Zelea langsung duduk tegap dan memandangi wajah Zeon dengan kening berkerut, karena barusan mendengar pertanyaan Zeon.


Zeon tergelak tawa kecil saat melihat kebingungan di wajah Zelea. Zeon mengacak rambut Zelea gemas, membuat si empunya langsung berdecak.

__ADS_1


"Pulang ke apartemen aku," ucap Zeon, tersenyum memandangi wajah mayun Zelea karena habis ia acak rambutnya.


"Gak mungkin kan kamu pulang ke rumah Rendi, kan kita-," Kalimat yang Zeon ucapkan menggantung saat tiba-tiba melihat Zelea langsung berdiri dan berjalan lebih dulu.


Zeon tergelak tawa melihat tingkah Zelea. Kemudian mengikuti langkah Zelea. Setelah mampu menyejajari langkah Zelea, Zeon merangkul pundak Zelea untuk diajak berjalan bersama.


Zelea awalnya bersikukuh minta di lepaskan, tapi Zeon tidak menuruti, mereka tetap berjalan dengan Zeon merangkul pundak Zelea, sampai tiba di parkiran mobil.


Setelah Zelea masuk ke dalam mobil, gantian Zeon yang masuk lewat pintu sebelahnya.


Menumpangi mobil sewaannya, yang tadi sempat meminta seseorang untuk mengambil mobilnya di rumah Rendi, untuk diantar ke restoran.


Zeon menyalakan mesin mobil, menoleh ke arah Zelea. "Kita pulang sekarang, atau mau jalan-jalan leb-,"


"Pulang," ucap Zelea memotong cepat kalimat ucapan Zeon yang belum sempat diselesaikan.


Zeon tersenyum, kemudian menjalankan mobilnya.


*


*


*


Zelea yang gemas sama tingkah Zeon langsung mencubit pinggangnya, seketika Zeon mengaduh pura-pura sakit.


Sakit sungguhan sih, hanya saja Zeon melebih-lebihkan akting sakitnya.


"Lebay," sewot Zelea sembari berjalan masuk, meninggalkan Zeon yang masih terkekeh-kekeh.


"Ini kamar aku, kamu bisa istirahat di sini." Zeon membuka pintu kamarnya, dan menunjukan pada Zelea.


"Yang lain saja," jawab Zelea, tidak mau satu kamar dengan Zeon.


"Kamar sebelah milik Galang." Zeon segera menjelaskan.


Zelea menghela nafas panjang, tidak ada pilihan ahirnya masuk ke kamar Zeon, namun sebelum langkah kakinya benar-benar masuk ke dalam kamar, masih mendengar jelas ucapan Zeon lagi.

__ADS_1


"Aku akan tidur bersama Galang, kamu jangan khawatir."


Setelah kalimat itu yang Zelea dengar dari bibir Zeon, sekarang tidak tahu Zeon kemana, tadi hanya sempat mendengar suara langkah kaki yang berjalan menjauh.


Malam harinya, mereka harus makan malam, Zeon sudah membeli makanan yang kini sudah tersaji di atas meja makan.


Hanya Zelea dan Zeon yang makan, tadi Zeon melarang Galang untuk pulang, karena ingin bicara penting dengan Zelea.


Meski keduanya saling sama merasakan rindu berat, walau sudah bertemu dan beberapa kali berpelukan.


Tapi Zelea masih menjaga jarak, masih kaku belum bisa mencair, suasananya masih terasa aneh, meski saat ini cinta mereka tidak ada penghalang lagi.


Hanya ada keheningan di dalam ruang makan, sampai makanan mereka habis dan kini sudah berpindah duduk di ruang tamu.


Duduk bersebelahan, tapi saling diam, sampai akhirnya Zeon merasa gatal lidahnya kalau tidak segera bicara.


"Sekarang Nofal sudah memiliki usaha restoran."


Kalimat pertama yang Zeon ucapkan untuk memecah keheningan. Tapi Zelea diam tidak berminat merespon tentang pembahasan Nofal.


"Dan aku sudah tahu masa lalu antara kamu dan kakakku Nofal." Kini Zeon menatap dalam-dalam ke arah Zelea.


Zelea mengangkat wajahnya menoleh menatap Zeon, namun hanya sesat sebelum kembali menundukkan kepala.


"Intinya ..." Zeon menjeda ucapannya," Aku benar-benar mencintai kamu ... Tidak peduli apa itu masa lalu kamu."


Zelea kembali menatap Zeon dan kini lebih lama. "Aku wanita mantan dari kakakmu juga mantan dari ayahmu, apa kamu tidak jijik sama aku." Zelea menangis, bibirnya bergetar, ucapannya tidak begitu jelas karena campur menangis, namun Zeon masih bisa memahami.


Zeon memegangi bahu Zelea yang duduk di sebelahnya dalam satu kursi sofa panjang. "Plis, aku minta jangan bicara seperti itu ... Karena aku tulus mencintaimu tanpa melihat masa lalu kamu." Zeon mengambil nafas menjeda ucapannya, "Aku hanya melihat kamu adalah masa depanku ... Aku mencintaimu." Zeon memeluk Zelea, wanita itu semakin menangis mendengar ucapan Zeon.


Semakin erat Zeon memeluk wanitanya, Zeon bahkan ikutan menangis.


Lima tahun bukan waktu yang singkat bagi Zeon untuk bisa menemukan Zelea. Sedalam itu cintanya pada Zelea, setia menunggu dan setia mencari.


Lelah, letih, air mata. Semua campur jadi satu dalam perjuangannya untuk bisa menemukan Zelea.


Dan saat ini Zeon begitu bahagia ketika takdir mempertemukan lagi dengan Zelea, sosok wanita yang selama ini ia rindukan.

__ADS_1


"Zelea Angraeni, aku mencintaimu." Sekali lagi Zeon bicara kata cinta dalam pelukannya yang begitu erat mendekap Zelea.


__ADS_2