
Radit dan Zelea sudah memasuki kamar, namun baru saja Radit duduk di pinggiran ranjang, ia mendapat telepon. Yang entah dari siapa? Zelea tidak tahu dan milih tidak mau tahu, saat ini gadis itu berjalan masuk ke kamar mandi.
Tidak lama setelah Zelea keluar dari dalam kamar mandi, Radit mematikan sambungan telepon.
"Ze, kemarilah," titahnya seraya melambaikan tangan.
Zelea berjalan mendekat dengan handuk kecil di tangannya, saat ini gadis itu baru saja cuci muka dan sedang mengeringkan wajahnya.
"Ada apa Mas?" tanya Zelea duduk di sebelah Radit.
"Besok kamu ikut aku ya? Ada perjalanan bisnis di luar kota. Kita menginap di sana dua hari." Radit memberitahu seraya menatap Zelea, gadis itu saat ini nampak sedang berpikir.
"Em, dua hari ya Mas? Baiklah saya bisa." Zelea tersenyum, dan Radit juga membalas senyuman itu.
"Jika begitu saya siapkan bajunya sekarang, supaya besok pagi kita tidak buru-buru," ucap Zelea lagi dan langsung mendapat anggukan kepala Radit.
Zelea bangkit dari duduknya masih terlukis senyum di bibir. Sementara itu Radit segera istirahat.
Zelea saat ini sudah berdiri di depan almari dengan membuka satu koper.
Di sana cuma dua hari, aku rasa tidak perlu membawa pakaian banyak. Aku rasa kemeja tiga dan jas tiga setel sudah cukup buat Mas Radit, sisanya pakaian santai, batin Zelea.
Sebelum memasukkan pakaiannya dan pakaian Radit ke dalam koper, Zelea memperhatikan seisi lemari, dimana di sana banyak pakaian Radit juga pakaiannya.
Tangan ramping itu kemudian mengambil satu per satu pakaian yang mau di bawa, dan dimasukkan ke dalam koper.
Setelah semua barang yang mau dibawa masuk ke dalam koper, Zelea segera menyusul Radit di atas ranjang dan istirahat di sana.
*
*
Suara dentingan sendok dan piring beradu, saat ini keluarga Alexa sedang sarapan pagi. Sampai sejauh sarapan pagi ini suasana masih terkendali, makan dengan tenang. Meski pria muda yang duduk di salah satu kursi di ruang makan tampak menekuk wajahnya. tapi tetap lahap makannya.
Sampai tiba-tiba sang Ayah bicara dan seketika membuat pria muda itu tersedak.
__ADS_1
"Nofal, pagi ini Daddy dan Mommy Zelea akan pergi ke luar kota ada perjalanan bisnis, dan kami akan menginap di sana selama dua hari."
Duar!
Bagai tersambar petir, mata Nofal langsung mendelik sembari meraih gelas berisi air putih untuk membasahi tenggorokannya yang seketika terasa kering sehabis mendengar ucapan Ayahnya.
"Pelan-pelan Nofal, kamu tidak apa-apa kan?" Radit perhatian seraya menepuk pelan punggung Nofal karena pria itu sampai terbatuk-batuk.
Nofal menggeleng tanda ia tidak kenapa-napa dan Radit tidak perlu khawatir.
"Kenapa harus menginap Dad?" tanya Nofal setelah merasa lebih baik.
Yang terkejut dengan pertanyaan Nofal tidak hanya Zelea, tapi Nofal yang habis bicara juga terkejut atas tindakannya itu.
Hah ada apa dengan aku? Aku tidak mungkin cemburu, tapi kenapa malah bibirku lolos bertanya seperti itu, hah sialan! Batin Nofal memaki diri sendiri.
"Karena jauh Nofal, apa bila Daddy harus pulang maka esok paginya pasti akan telat. sudahlah tidak apa-apa kan jika Dady tinggal. Bukannya kamu sudah biasa sendiri selama ini?"
Dan mendengar ucapan ayahnya barusan, Nofal hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.
Nofal menatap Zelea, wanita itu pagi ini terlihat cantik dan anggun berpakaian mengunakan setelan jas warna biru langit.
Astaga! Apa beneran aku jatuh cinta sama wanita itu, ini rasanya mustahil. tapi aku benar-benar tidak rela sekarang melihat dia akan pergi sama Daddy, batin Nofal.
Setelah pembicaraan itu tidak ada lagi pembicaraan lagi, sampai semua orang selesai sarapan dan Radit bersama Zelea pergi meninggalkan Mansion.
Nofal menatap mobil ayahnya yang keluar gerbang utama dari balkon kamarnya.
Nofal mengepalkan tangannya, hatinya terbakar api cemburu, sebuah rasa yang harusnya tidak boleh ia miliki karena Zelea saat ini adalah ibu tirinya.
*
*
Dua hari berlalu, dari kemarin setelah Radit berangkat ke luar kota, Nofal tidak keluar Mansion, padahal ada jadwal syuting, namun pria itu mengatakan sakit hanya karena tidak fokus bekerja, terus kepikiran Zelea yang pergi keluar kota bersama ayahnya.
__ADS_1
Dan hari ini harusnya Radit dan Zelea pulang, tapi sampai sore hari dua orang itu belum sampai Mansion.
Nofal yang sudah menunggu kedatangan mereka malah yang merasa tidak sabaran.
Kenapa lama sekali! Dimana mereka? Apa mereka pake mampir-mampir duluan, batin Nofal.
Pria itu saat ini mondar-mandir di ruang tamu, pintu utama di buka lebar, supaya matanya bisa melihat mobil Radit andai ayahnya pulang.
Tapi sampai sekarang juga tidak kunjung kelihatan.
Ah! Nofal menjambak rambutnya sendiri frustasi, duduk di kursi sofa dengan dramatis.
"Kenapa rasanya aku rindu sekali dua hari tidak bertemu Zelea. Ze ... Aku menyesal dahulu sudah menyakitimu, nyatanya saat ini namamu mampu masuk ke dalam hatiku."
Nofal bicara sendiri, kakinya menghentak-hentak lantai, pria itu tidak sadar sedari tadi ada pelayan yang memperhatikan.
Pelayan yang melihat tingkah Nofal hanya bisa geleng-geleng kepala, tanpa mendengar apa yang Nofal bicarakan. Beruntung pelayan tidak mendengar ucapan Nofal. Apa bila mendengar bisa membuat pelayan tidak waras karena terkejut dengan pengakuan Nofal.
Nofal menunggu Zelea pulang sudah seperti menunggu sang kekasih pulang, rasa menggebu di hatinya membuat Nofal lupa bahwa Zelea saat ini adalah ibu tirinya.
Orang yang sangat dekat dengannya, bukan orang lain lagi, tapi bagian dari keluarganya saat ini.
Kerena yang ditunggu belum pulang juga, ahirnya Nofal kembali masuk ke dalam kamarnya, pria itu masih menunggu Zelea pulang. Saat ini duduk di balkon dengan mata terus menatap ke arah gerbang utama.
Waktu terus berputar, kini alam mulai gelap bertanda malam sudah tiba. Waktu sudah menunjuk pukul tujuh malam tapi Radit juga belum pulang, dan Nofal masih setia menunggu pulang.
Tidak berpindah tempat masih duduk di balkon, tidak peduli ada nyamuk yang menggigit kulitnya.
Sambil tabok-tabok kulitnya yang di gigit nyamuk, Nofal terus menatap ke arah gerbang utama.
Lama ahirnya bosan, Nofal membuka hp tanpa sengaja melihat story WhatsApp milik ayahnya, matanya langsung terbelalak lebar saat melihat foto mesra Radit dan Zelea.
Sebuah foto dimana dalam gambar tersebut Radit memeluk Zelea dari belakang dengan posesif.
Brakk!
__ADS_1
Suara hp terbanting ke lantai.
Nofal tidak bisa menahan amarahnya dan seketika menghancurkan hp nya sendiri.