
Keesokan harinya. Zeon keluar kamar sembari bersiul, nampaknya hatinya sedang bahagia, entah apa yang pria itu rasakan.
"Selamat pagi Dad?" sapanya setelah Zeon tiba di ruang makan.
Zeon langsung duduk di kursi biasanya dan segera minum air putih. Pria itu tidak lagi melihat sekeliling dan langsung menyantap sandwich buatan Bi Jum.
Radit dan Zelea melanjutkan sarapannya, mereka berdua sarapan dengan nasi, berbeda dengan Zeon yang sarapan dengan sandwich.
Beberapa saat semua fokus dengan sarapan, sampai tiba-tiba Radit menanyakan sesuatu pada Zeon di sela-sela sarapannya.
"Zeon, sudah berapa persen pembangunan pabrik baru cabang perusahaan?"
Zeon menoleh saat mendapat pertanyaan itu, berhenti mengunyah dan minum lebih dulu sebelum menjawab.
"Hari ini aku berniat mau mengunjunginya, Dad. Dan aku mau mengajak Sekertaris Daddy itu karena hari ini Galang ijin tidak masuk." Zeon tersenyum miring ke arah Zelea.
"Zeon," ucap Radit. Sebenarnya Radit tidak suka apa bila Zeon bersikap tidak sopan pada ibu tirinya, tapi Zeon keras kepala tidak bisa dibilangin.
"Mas Radit, hari ini kan kita ada janji temu dengan klien, aku rasa aku tidak bisa membantu Zeon," jelas Zelea mengingatkan jadwal hari ini.
Ayo mas Radit tahan aku katakan pada Zeon seperti yang aku katakan barusan, aku tidak mau pergi ke lapangan bersama Zeon yang ada aku dikerjain sama dia, batin Zelea, sorot matanya masih mengiba pada Radit.
"Kamu benar, memang hari ini ada jadwal bertemu dengan klien. Tapi aku bisa pergi bersama Mip, dan kamu pergilah temani Zeon." Radit menatap Zelea lekat dan berganti menatap Zeon.
Aku sudah menduga pasti Daddy tidak akan bisa menolak permintaanku, batin Zeon, tersenyum penuh arti dan melanjutkan makan sandwich yang tinggal dua gigitan lagi.
Sementara Zelea, sendok makan yang tadi ia pegang erat kini langsung mengendur saat mendengar ucapan Radit.
Fix aku pasti akan dikerjain dengan Zeon, Mas Radit tega sama aku! Zeon kali ini kamu menang, awas saja kalau sampai kau mengerjai aku di sana, batin Zelea disertai tatapan kesal ke arah Zeon.
Sarapan pagi selesai, mereka bertiga berjalan menuju halaman mansion. Mobil yang mau di gunakan Radit sudah dibukakan pintunya oleh sopir. Radit berdiri di depan pintu, Zelea mencium punggung tangan Radit sebelum pria itu masuk ke dalam mobi.
Mobil yang membawa Radit mulai berjalan pergi, Zelea masih menatapnya belum beranjak pergi dari posisinya. Sampai sebuah suara mengangetkan Zelea.
"Kamu mau berdiri di situ saja sampai kapan? buruan masuk mobil sudah keburu siang!" tegas Zeon, yang berteriak dari dalam mobil kemudi. Kali ini Zeon mengendarai sendiri tanpa sopir.
Zelea mendengus, dengan sangat terpaksa ahirnya masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang.
__ADS_1
Brakk! suara pintu mobil ditutup sangat kencang.
Zeon yang duduk di kursi kemudi menghela nafas berat, melirik ke belakang dengan tajam. "Apa kamu pikir aku ini sopir taksi! Buruan pindah duduk di kursi depan!"
Ribet amat banyak permintaan! Batin Zelea.
Menghela nafas berat lagi, Zelea keluar dari dalam mobil, berpindah duduk di kursi depan, dan segera memasang sabuk pengaman. setelah selesai pandangannya menatap jalanan, tidak mau melihat orang yang duduk di sebelahnya.
Zeon mulai menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan.
*
*
*
Setelah sampai di lokasi wilayah pembangunan pabrik baru milik Alexa Group. Zelea dan Zeon keluar dari dalam mobil.
Panas, seketika yang menyerang kulit mereka karena saat ini matahari bersinar begitu teriknya.
Di sekitar sini tidak ada pohon sama sekali, tempatnya sangat gersang, apa lagi masih dalam proses pembangunan.
"Cepat ambil payung di dalam bagasi," pinta Zeon. Pria itu juga merasakan udara panas yang tidak bisa dia tahan.
Zelea ke mobil belakang untuk membuka bagasi mobil mengambil payung.
Salah satu pria yang ditugaskan untuk mengawasi proyek pembangunan pabrik ini, mendekati Zeon saat melihat sang Bos berkunjung.
"Tuan Anda pasti kepanasan, memang udara hari ini berbeda tidak seperti biasanya, hari ini sangat panas," ujar pria itu.
Zelea kembali mendekati Zeon, payung sudah melindungi Zeon dari panasnya matahari, saat Zeon menoleh menatap Zelea dan melihat Zelea juga berlindung di bawah payung yang sama dengannya. "Tugasmu hanya memayungi aku, jangan ikutan berteduh di bawah payung." Zeon menatap tidak suka.
Huh! dasar pelit! Batin Zelea.
Zelea kembali merasakan panasnya udara, pasrah tidak bisa berontak.
"Mari Tuan," ajak pria itu mempersilahkan Zeon untuk melihat proses pembangunan pabrik.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa langkah, mereka berdiri tepat dari jarak sangat dekat, Zeon melihat banyak sekali orang-orang yang masih bekerja untuk menyelesaikan pembangunan pabrik itu.
Pria yang berdiri di samping Zeon mulai menjelaskan tentang pembangunan pabrik itu.
"Saat ini proses pembangunan sudah hampir mencapai tujuh puluh persen, Tuan. Sekitar kurang lebih lima bulan lagi akan selesai. Semua dilakukan sesuai hasil gambar arsitek yang waktu itu Tuan pilih."
Zeon mengangguk-angguk mendengar penjelasan pria itu.
Mereka berdua kembali berbicara mengenai pembangunan pabrik tersebut, sampai tidak terasa mereka sudah berdiri di sana selama tiga puluh menit, di bawah sinar matahari yang begitu terik.
Zelea sudah tidak kuat dengan panasnya udara di tempat tersebut, peluh membasahi dahi mulusnya. Ingin sekali meminta Zeon untuk menyudahi obrolannya tapi Zelea tidak miliki keberanian .
*
*
*
Entah di menit berapa ahirnya Zeon menyudahi obrolannya bersama pria suruhannya, dan kembali ke dalam mobil.
"Hah! Ahirnya," ucap Zelea saat merasakan hawa dingin AC mobil. nyaman sekali rasanya.
Zeon menolah ke arah Zelea, mobil belum dijalankan.
"Kau mau membunuhku!" Zelea menatap tajam Zeon, yang saat ini tersenyum miring.
"Jaga ucapanmu! Dasar lemah kepanasan gitu saja sudah mengeluh," cibir Zeon, Zelea seketika tidak terima.
"Kau! Kau tidak merasakan jadi aku! Karena kau tidak kepanasan, sedangkan aku kepanasan karena harus memayungimu!" Zelea bicara berapi-api, tidak takut lagi sama Zeon, padahal biasanya nyalinya menciut bila berhadapan dengan Zeon.
"Lain kali aku tidak sudi ikut di lapangan bersama kamu!" sentaknya lagi.
Zeon terpancing marah mendengar ucapan Zelea yang berani mau membangkang perintahnya.
Dengan kasar Zeon mendorong tubuh Zelea menempel di sandaran kursi dan mengunci tubuh Zelea. Wajah keduanya kini sangat dekat, bahkan mampu merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Tapi tidak menyurutkan rasa amarah Zelea, wanita itu membalas tatapan tajam Zeon.
__ADS_1
Deg. Deg. Jantung Zeon berdetak cepat, merasakan hal aneh, niat hati ingin mengancam Zelea malah sekarang pikirannya berantakan tidak fokus dengan niatnya tadi.