Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 67. Gadis itu Milli


__ADS_3

Setelah tiba di Mansion, kini Zelea menatap banyak perubahan, tentu meja yang sekarang tidak memiliki sudut, dan setiap lantai ada permadani bahkan hingga ke anak tangga, juga di dalam kamarnya.


Semua sudah di susun dengan rapi, dan orang yang tadi datang untuk memasang semua ini sudah pada pulang.


Zelea duduk di sofa ruang tengah, menghela nafas panjang, sembari melihat sekeliling ruangan itu.


Zeon meletakkan barang belanjaan ke dapur, dan meminta pelayan untuk membereskan barang belanjaan yang tadi ia beli.


Cika bersama dua pelayan temannya mulai membuka kantong belanjaan yang barusan Zeon letakkan.


Setelah dibuka ternyata ada tiga kotak susu hamil, buah apel, dan ada beberapa bungkus untuk bahan kue.


Cika dibantu dengan dua pelayan temannya menyimpan semua barang belanjaan itu ke dalam lemari sesuai tempatnya.


Zeon yang kini sudah duduk di sebelah Zelea, tersenyum menatap wanitanya itu, namun milih tidak menyapa, Zeon bersandar dan memejamkan mata.


"Jangan hamburin uang terus, yang?"


Hem.


Hamburin apa sih uangku juga masih banyak.


"Kalau begini sama seperti berdiri di atas uang, aku tidak apa-apa, aku juga akan hati-hati saat berjalan," ucap Zelea, seolah ingin mengasih tahu Zeon, ia tidak butuh ini semua.


Zeon langsung merengkuh tubuh Zelea, bersandar di pinggang Zelea, tidak bicara sama sekali hanya diam dan mencari kenyamanan.


"Janji gak?"


Hem.


Zelea menghela nafas panjang, Zeon selalu seperti ini tiap kali diajak bicara, sangat menyebal baginya.


"Maaf, Nyonya ... Tuan. Untuk makan malam mau dimasakin apa ya?"


Pertanyaan Cika membuat Zelea menoleh, semenjak hamil menu masakan akan di masak sesuai selera Zelea, itu sudah perintah Zelea.


"Aku mau makan soto."


"Baik, Nyonya akan saya buatkan," ucap Cika, melaksanakan dengan patuh.


"Jangan, aku mau suamiku yang masak."


Ha!


Bukan Zeon yang terkejut, tapi Cika, gadis itu pikir bagaimana mungkin sang tuan memasak soto, itu sangat sulit.


"Suamiku bisa." Zelea menatap Zeon yang masih bersandar di pinggangnya. "Iya, kan. Yang."


Hem.


Cika hanya mampu berdiam diri terpaku dengan apa yang ia lihat, saat Zeon dan Zelea bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju dapur.


Sebenarnya Zeon bukan tidak terkejut mendengar ucapan Zelea yang meminta dirinya untuk masak soto.

__ADS_1


Jelas Zeon kaget, tapi berusaha bersikap biasa saja, karena ia akan lakukan apa pun yang Zelea minta.


Dan disinilah sekarang mereka berdua, di dapur yang sedang mempersiapkan bahan dan bumbu untuk membuat soto.


"Aku maunya soto bening," ucap Zelea sembari menyusun bumbu yang akan dihaluskan.


Zeon hanya melihatnya saja.


Cika yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengusap dada, ia pikir tadi Zelea akan lepas tangan membiarkan Zeon akan memasak sendiri, oh ternyata tidak.


Sementara itu di tempat lain.


Nofal baru saja mendapat telepon dari sang sahabat, sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya itu, dan nanti malam mengundang Nofal untuk datang ke klub.


Tempat yang gelap, tempat kesukaannya dulu, tapi sekarang mau menginjak kaki ke tempat itu lagi rasanya malas. Malas sekali.


Tapi ini pertemuan pertama dengan sahabatnya lagi, Nofal tidak mungkin menolak, ia juga ingin bertemu.


Alhasil Nofal berniat untuk datang, hanya sekedar bertemu sahabatnya itu, bukan untuk mencari kesenangan.


Dan tepat pukul delapan malam, Nofal pergi meninggalkan restoran, sebelum pergi biasa pasti banyak berpesan dengan Bagas.


Bagas hanya menggelengkan kepala saat melihat mobil Nofal melaju pergi. "Bos-bos, duit banyak wajah tampan, banyak pula cewe yang deketin tapi tidak ada satupun yang dipilih."


Bagas menghembuskan nafas berat dan kembali masuk ke restoran, karena jam seperti ini lagi banyak-banyaknya pengunjung.


Hanya menempuh waktu tiga puluh menit, mobil yang Nofal kendarai sudah tiba.


Dengan langkah kaki lebarnya Nofal masuk ke klub malam tanpa melepas kaca mata hitamnya.


Nofal mencari keberadaan Robby, karena beberapa saat lalu Robby sudah memberi kabar bahwa sudah sampai.


Tampak kursi sofa paling ujung, seorang pria mengunakan pakaian jas lengkap melambaikan tangan ke arah Nofal.


Dia adalah Robby, Nofal langsung mendekat dan ikutan duduk di sana.


"Wah, makin keren aja sekarang," seloroh Robby, dan Nofal hanya terkekeh.


"Masih suka minum alkohol." Robby mengangkat satu botol alkohol.


Nofal menggeleng. "Aku jus jeruk saja."


Hahah! Mereka tertawa bersama.


Ya, mungkin terdengar lucu seorang Nofal yang dahulunya bagaikan berteman dengan minuman alkohol, dan sekarang menjauhi. Tapi tidak apa lah setiap orang punya hak, dan Robby tidak akan memaksa.


Tiba-tiba seorang cewek cantik berpenampilan elegan, datang dan langsung duduk di sebelah Robby.


Robby tersenyum menatap wanita itu dan mencium bibirnya sekilas.


"Dia pacar aku," ucap Robby memperkenalkan status wanita itu.


Nofal seperti pernah melihat wanita itu, sungguh tidak asing bagi Nofal, tapi lupa itu dimana?

__ADS_1


"Oh, selamat," ucap Nofal seraya tersenyum.


Wanita itu menatap Nofal dengan kening berkerut. "Anda bukannya pelayan restoran, ya?"


Ah, iya. Nofal langsung ingat dimana ia pernah melihat wanita itu, dia adalah salah satu teman dari gadis yang sudah mencuri hatinya.


Hah! mengingat gadis itu, Nofal hanya semakin bersedih karena sudah lama tidak bertemu.


"Kamu menjadi pelayan restoran," suara Robby terdengar begitu terkejut, dan saat ini Nofal hanya bisa menjawab dengan tersenyum.


"Gak mungkin dong ... Keluarga Alexa itu kan kekayaan nya banyak tidak mungkin kamu jadi pelayan." Robby masih tidak percaya.


"Tapi itu kenyataannya."


Bukan Nofal yang menjawab tapi pacarnya.


Robby masih berusaha menggelengkan kepala, benar-benar tidak percaya. Tapi pacarnya tidak mungkin salah lihat, dan saat Robby melihat ke arah Nofal, pria itu hanya tersenyum.


"Sepertinya aku benar-benar kehilangan informasi banyak tentang kamu," ucap Robby dengan sedikit tertawa.


Nofal juga ikutan tertawa, namun saat tiba-tiba matanya menangkap sosok yang selama ini ia cari dan melihat di tempat seperti ini, jantung Nofal berdetak kencang.


Dia? Dia kenapa ada di sini? Begitu pikiran Nofal sekarang. Dan pandangan matanya semakin terkunci sampai gadis itu mendekat ke arah mejanya.


Namun yang membuat hatinya terusik, gadis itu datang bersama pria muda, bukan pria muda yang pernah mengajak gadis itu pergi dari restorannya kala sore itu. Ini pria muda beda lagi. Dalam hatinya seakan bertanya siapanya gadis itu laki-laki itu?


"Hai Milli," sapa wanita pacarnya Robby.


Milli? Jadi gadis itu namanya Milli, nama yang lembut, batin Nofal.


"Milli apa kabar keadaan ibu kamu, saat di rumah sakit kemarin maaf aku tidak bisa menjenguk."


"Tidak apa-apa, Nila. Ibu sudah sehat sekarang," ucap Milli sungguhan.


Jadi saat aku melihatnya keluar dari rumah sakit itu, ibunya sedang sakit, batin Nofal.


"Milli, udahan ya? Kita kesana yuk?" Pria muda itu bicara.


Milli melihat ke arah pria muda itu dan mengangguk.


"Nila, aku kesana ya?"


"Ok." Jawab Nila.


Milli dan pria muda itu berjalan menuju bar tender.


Entah apa yang keduanya sedang obrolkan, Nofal hanya mampu melihat dari kejauhan, matanya benar-benar terkunci hanya menatap Milli saja.


"Bro! Aku cabut dulu ya?"


Suara Robby membuat Nofal terperanjat kaget, dan tanpa bertanya Nofal langsung mengangguk, tidak peduli Robby dan pacarnya mau kemana.


Setelah Nofal sendirian, matanya tetap fokus menatap Milli, ada rasa tidak terima saat melihat Milli bersama pria lain.

__ADS_1


Hingga entah di menit ke berapa Nofal melihat Milli mabuk, padahal dari tempatnya duduk saat ini Nofal masih bisa melihat bahwa yang Milli minum adalah jus, bukan minuman alkohol.


Nofal mengepalkan tangannya saat melihat pria muda itu membawa Milli pergi dari sana.


__ADS_2