
"Benarkah? Apa kah Daddy tidak salah mendengar Zeon?" Radit memastikan, hatinya begitu bahagia mendengar ucapan Zeon.
Zeon menatap yakin ke arah Radit. "Benar, Dad."
"Bagus, Daddy senang mendengarnya," ucapnya begitu antusias.
Tapi aku tidak senang Mas Radit, anakmu itu pasti akan membuat ulah sama aku, lihatlah sedari tadi matanya terus melirik tajam padaku. Padahal aku tidak ada urusan sama dia, batin Zelea.
Radit menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Zeon, membahas tentang Zeon yang mau bekerja di perusahaan, harus lebih serius.
Karena Radit miliki harapan bahwa Zeon bisa menggantikan posisinya, yang mungkin tinggal beberapa tahun lagi akan pensiun.
"Zeon ... Daddy tanya sekali lagi, apa kah benar kamu sudah yakin bekerja di perusahaan ... Jangan salah paham apa bila Daddy bicara seperti ini, karena Daddy tidak mau apa bila kamu sampai main-main saja dan ahirnya berhenti bekerja ... Daddy menaruh harapan besar padamu, Nak?"
Radit bicara sungguhan, dan Zeon sebagai anak mampu melihat hal itu.
"Zeon yakin dan serius, Dad."
Radit langsung memeluk Zeon seraya menepuk punggung Zeon. "Terimakasih, sudah mau jadi penerus Daddy di Perusahaan."
Zeon hanya membalas pelukan Ayahnya dan mengangguk.
Zelea yang melihat pemandangan itu sedikit terenyuh hatinya, ada perasaan iri melihat Zeon di peluk ayahnya, berbeda dengan dirinya yang tidak bisa lagi merasakan di peluk ayahnya atau pun ibunya.
Bu, Ayah. Semoga bahagia di surga, batin Zelea.
"Lalu kapan kamu akan memulai bekerja?" tanya Radit setelah melepas pelukannya.
"Dua hari lagi Dad, aku butuh persiapan dulu."
Radit mengangguk paham. "Baiklah, Daddy mengerti."
Obrolan mereka terhenti saat Zelea datang menyerahkan berkas ke Radit untuk pria itu tandatangani.
Zelea tetap berdiri tanpa ikutan duduk. Setelah selesai Radit tandatangani, Zelea mengambil berkas itu dan mengeceknya, ternyata ada yang terlewat belum Radit beri tanda tangan.
"Jadi kira-kira kamu butuh Asisten ti-,"
"Maaf Tuan, ini ada bagian yang belum di beri tanda tangan," potong Zelea saat Radit bicara dengan Zeon, Zelea menunjukan yang kelewatan belum di tanda tangani.
"Oh iya, saya lupa. Terimakasih sudah mengingatkan."
Dan interaksi mereka berdua sedari terus Zeon perhatikan, di bawah meja sana tangan Zeon mengepal kuat.
__ADS_1
Zeon baru tahu bahwa Zelea adalah sekertaris ayahnya, dan saat ini mereka berdua sedang bersikap layaknya atasan dan bawahan, padahal mereka suami istri.
Zeon geram, dan rasanya mau marah.
Aku yakin wanita itu adalah wanita peng*goda, kebanyakan kan gitu? Seorang sekertaris menggoda bosnya sendiri. Aku tidak akan mencari Sekertaris wanita, aku akan mencari pria saja, batin Zeon.
Zelea menyadari tatapan Zeon yang seolah mampu menguliti tubuhnya, wanita itu segera pergi dari sana setelah berkas yang ditanda tangani Radit selesai.
*Hah mana sudi aku tetap di sini andai kau juga bekerja di sini, aku harus cari cara supaya dia tidak betah. Sampai kita akan tahu siapa yang tidak betah di Perusahaan antara aku dan kamu*, batin Zelea.
Wanita itu meletakkan berkas di atas mejanya dan di susul duduk di kursi kerjanya.
Zeon beralih menatap ayahnya, kali ini menunjukkan tatapan sebal. "Mengapa Daddy mencari sekertaris wanita tidak pria saja!"
Nada bicara Zeon terdengar ketus, dan Radit memahami hal itu, mood Zeon langsung berubah setelah melihat Zelea baru saja.
"Sudahlah tidak usah lagi bahas hal begituan, yang penting sekarang bahas persiapan kamu saja." Radit mengalihkan pembicaraan. Tidak mau semakin melebar pembicaraannya nanti.
"Tapi bagi Zeon ini penting, Dad." Wajahnya makin cemberut. Mode ngambek yang sering Zeon lakukan saat ayahnya tidak menjawab sesuatu yang ingin dia ketahui.
Radit menghela nafas panjang. "Ya karena wanita biasanya akan lebih serius dalam bekerja, jadi Daddy mencari yang tidak main-main dalam bekerja."
"Ck, apa menurut Daddy laki-laki tidak bisa serius." Zeon makin tidak suka dengan jawaban ayahnya, karena menurutnya tidak masuk akal.
Radit mau menjelaskan lagi, namun diurungkan saat suara Zelea meminta izin padanya.
"Silahkan Ze?"
"Apa Tuan mau dipesankan makanan?" tanya Zelea, kembali menatap Radit.
"Tidak perlu, nanti saya bisa pesan makanan sendiri."
Zelea mengangguk. "Baiklah, jika begitu saya permisi." Zelea menunduk hormat dan seketika berlalu dari sana.
"Dad, aku harus pergi sekarang," ucap Zeon setelah Zelea keluar, dan tanpa mendengar jawaban Radit, Zeon lebih dulu keluar dari sana.
Sampainya di luar pintu, Zeon masih bisa melihat Zelea di dalam lift yang pintunya belum tertutup.
Zeon berlari cepat, dan saat pintu lift hampir menutup, Zeon menghalangi dengan kakinya hingga terbuka kembali.
Deg!
Mata Zelea terbelalak lebar saat melihat siapa yang menahan pintu lift dan ikut masuk ke dalam bersamanya.
__ADS_1
Pintu lift tertutup sempurna, hati Zelea makin bergemuruh, pasalnya di dalam lift ini hanya ada dirinya dan Zeon.
Zelea mundur sampai punggungnya nempel di dinding lift, saat Zeon mendekati dirinya.
Mau apa sih anak tiri satu ini! Perasaan aku tidak ada masalah sama dia? tapi kenapa dia terlihat membenciku, harusnya aku yang membenci dirinya, batin Zelea.
Deg!
Zelea membeku.
Saat ini Zeon mengunci tubuhnya dengan satu tangan kiri nempel di dinding lift dan tangan kanannya memegang dagu Zelea.
Hawa di dalam lift semakin mencengkam, Zelea merasa oksigen di dalam lift kurang.
"Kau mau apa!" hardik Zelea, meski sudah terpojokkan, tapi tidak menyusutkan keberaniannya, Zelea pun membalas tatapan tajam Zeon.
Wajah mereka yang dekat, membuat satu sama lain mampu merasakan hembusan nafas.
"Aku sudah tahu pernikahan kontrak yang kalian buat-,"
"Lalu apa maumu!" sarkas cepat Zelea memotong ucapan Zeon.
"Mauku ... jangan coba kabur seperti kemarin, sebelum aku perintahkan kamu pergi."
"Hahah, apa alasan mu mengancam aku!" Zelea tertawa remeh.
"Aku akan katakan sama Daddy bahwa kamu hanya menipunya." Zeon tersenyum menyeringai, tahu Zelea tidak akan berani melawan.
Bagaimana dia bisa tahu? Ajaib sekali dia sampai bisa tahu rahasia besarku.
Padahal Zeon hanya asal bicara, dan setelah melihat wajah ketakutan Zelea, seolah menebak bahwa ada rahasia besar di balik pernikahan itu yang belum Zeon ketahui.
"Kau maunya apa!" Zelea bertanya lagi, sungguh hatinya kesal karena Zeon mengancamnya andai ia bisa kabur, padahal Zelea ingin sandiwara ini segera berakhir.
Aku akan mengerjai kamu sampai aku puas. Karena kamu sudah berani menikah dengan Daddy ku.
"Tidak perlu banyak tanya, lakukan saja perintah aku."
Bersamaan itu pintu lift terbuka dan Zeon pergi lebih dulu meniggalkan Zelea yang masih berdiri mematung.
Zelea melangkahkan kakinya keluar lift dengan perasaan kesal. Berjalan buru-buru menuju restoran sebelah perusahaan.
Sampai di sana, Zelea memesan makanan tiga porsi, saat marah porsi makannya bertambah.
__ADS_1
Tiga porsi spaghetti bolognese datang, Zelea segera memakannya, hap hap.
Menghadapi Zeon yang entah sebelumnya sembunyi dimana, tiba-tiba datang mengajak masalah dengannya, membutuhkan energi banyak untuk melawannya, begitulah arti Zelea makan banyak.