
Zelea membalas tatapan tajam Zeon.
"Iya, kalau iya kenapa!" membentak keras.
Zelea merasa tidak takut lagi, meski ditatap setajam itu oleh Zeon. Zelea hanya tidak mau ditindas terus, lagian apa salahnya dengan Zeon, tapi pria itu selalu berbuat semena-mena terhadapnya.
Sampai Zelea meringis kesakitan merasakan cengkraman tangan Zeon makin kuat di rahang Zelea. Wanita itu meneteskan air mata, sebenarnya Zelea tidak mau terlihat rapuh seperti itu, tapi air matanya keluar begitu saja tanpa permisi.
Air mata bodoh! Kenapa kau harus keluar hah! Kau mempermalukan aku! Aku tidak mau menangis, berhentilah keluar! batin Zelea.
Oh ****! Umpat Zeon, dan seketika menjauh dari tubuh Zelea, pria itu tidak bisa melihat wanita menangis.
Dan kesempatan ini Zelea manfaatkan untuk kabur dari sana. Zelea mendorong tubuh Zeon sampai pria itu terhuyung ke belakang. Dan secepat kilat berlari menuju kamar, dengan cepat menapaki anak tangga.
Zeon terus menatap punggung Zelea yang berlari menaiki tangga. Zeon membuang nafas berat untuk meredakan amarahnya.
Zeon mengepalkan tangannya dan ikut naik ke lantai tiga tempat kamarnya berada.
*
*
*
Di dalam kamar mandi, Zeon membasuh wajahnya, menatap wajahnya melalui pantulan cermin, dengan serius Zeon melihat wajahnya sendiri.
"Tiap kali aku melihat Zelea, ada dua perasaan yang aku rasakan. pertama aku marah sama dia karena sudah berani menikah dengan Daddy. Aku benci sama dia! Tapi perasaanku yang lain sulit aku jelaskan, jantungku selalu berdebar-debar, apa mungkin aku sakit jantung ... Hah." Zeon kembali membasuh wajahnya dengan air.
Setelah selesai mandi dan memakai kemeja malam, Zeon berjalan menuju meja dan membuka lacinya.
Zeon mengambil sesuatu dari dalam sana, sebuah foto terbingkai ukuran lima R, jemari Zeon mengusap foto tersebut, matanya berkaca-kaca saat memandangi wajah seseorang dalam foto tersebut.
"Mom, aku harus apa?" Zeon mencium foto ibunya itu, Zeon membawa ke atas ranjang dan duduk bersila di sana, masih memandangi wajah ibunya dalam foto.
Hati Zeon merasa tercubit saat melihat foto ibunya yang tersenyum cantik, saat mengingat kenyataan sekarang ayahnya menikah lagi.
"Apa Mommy tidak cemburu melihat Daddy menikah lagi?"
"Zeon saja sedih Mom, Zeon ingin kasih pelajaran sama wanita itu tapi makin kesini Zeon tidak tega sama dia. Apa bila Zeon lepaskan dia apa Mommy akan marah sama Zeon?"
__ADS_1
"Maafkan Zeon Mom." Zeon memeluk bingkai foto ibunya, Zeon menyadari hal bodoh yang barusan ia lakukan karena berbicara dengan foto yang sampai kapan pun tidak akan bisa menjawab pertanyaannya.
Ahirnya rasa kantuk mengalahkan kesedihan Zeon, pria itu kemudian berbaring tidur sembari memeluk foto ibunya.
Sementara itu di kamar sebelah, Zelea belum bisa tidur, matanya masih terus terjaga, pikirannya mengingat kejadian di ruang tengah tadi.
Zeon benar-benar kelewatan! Apa bila dibiarkan seperti ini terus bisa-bisa tubuhku yang terawat ini akan rusak, batin Zelea.
Wanita itu memikirkan caranya, supaya Zeon tidak melukai fisiknya, adu mulut masih lebih baik pikir Zelea dari pada harus fisiknya yang dilukai.
Saat ini saja Zelea masih merasakan nyeri di rahangnya bekas cekalan kuat Zeon.
Apa perlu aku belajar ilmu bela diri, supaya aku bisa menghindar saat dia mau menyerang aku, jaga-jaga apa bila kejadian barusan akan terulang lagi, aku tidak mau rahangku atau anggota tubuhku yang lain ada yang sakit apa lagi sampai ada yang patah, batin Zelea.
Zelea sudah yakin akan belajar ilmu bela diri, dan akan minta ijin sama Radit, setelah rasa kantuk menyerang, Zelea ikutan tidur malam ini.
*
*
*
Zelea membantu memasangkan dasi di leher Radit, wajah Zelea yang hanya memakai make-up tipis-tipis masih membuat bekas merah di rahangnya itu terlihat.
Radit memperhatikan dan penasaran."Kenapa rahangmu memerah?" Jemari Radit menyentuh warna merah di rahang Zelea.
Zelea terkejut sesaat seraya menjatuhkan tangannya, dasi sudah terpasang rapih di leher Radit. Zelea kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa, ini merah terkena kuku panjangku saja." Zelea mengangkat tangannya seraya menunjukan kuku cantik di jemari lentiknya.
Radit bernafas lega, tadi ada sedikit praduga kalau ada seseorang yang melukai Zelea, tapi setelah mendengar jawaban Zelea yang meyakinkan itu Radit tidak cemas lagi.
Radit memegang dua bahu Zelea, menatap manik hitam itu. "Lain kali kamu harus hati-hati, jangan sampai kuku yang kamu rawat melukai dirimu sendiri."
Radit menjauhkan tangannya dari bahu Zelea, pria itu melenggang berjalan keluar kamar terlebih dahulu, Zelea mengikutinya di belakang.
Sampai di ruang makan, sudah melihat Zeon duduk di sana sedang sarapan nasi goreng.
"Kamu tidak masuk kerja?" tanya Radit setelah duduk di kursinya. Melihat Zeon yang hanya memakai baju rumahan, pria itu sudah mandi terlihat dari rambutnya yang basah.
Zelea mencentongkan nasi goreng ke piring Radit.
__ADS_1
"Tidak," jawab singkat Zeon, tanpa melihat ayahnya dan tetap asyik sarapan.
"Tapi jangan sering-sering Zeon." Radit melihat Zelea yang memberikan piring berisi nasi goreng. "Terimakasih."
Zelea juga ikutan sarapan nasi goreng, fokus sarapan sembari mendengarkan obrolan ayah dan anak itu.
"Iya, Dad. Hari ini saja Zeon tidak masuk," jawab Zeon, melihat ayahnya sekilas dan beralih meneguk minuman.
"Kasihan Galang kalau kamu sering libur seperti ini, jangan mentang-mentang atasan lalu seenaknya saja sama bawahan," nasehat Radit, pria itu mulai memakan sarapannya.
Bawel ah Daddy, baru juga libur sekali saja udah diomelin dibilang sering, batin Zeon.
"Iya ya." Zeon menjawab ketus.
Zelea rasanya ingin tertawa, melihat Zeon yang bibirnya mengerucut tajam.
Tidak ada lagi yang bicara sampai sarapan pagi itu selesai.
Zelea dan Radit berangkat ke kantor, Zeon masuk lagi ke dalam kamar, pria itu bersantai di atas ranjang.
Baru saja memegang hp sudah ada yang nelpon.
"Elo gak kangen sama gue," suara seseorang di seberang sambungan sana, setelah Zeon angkat teleponnya.
"Kangen apa an sih," jawab Zeon ketus.
"Tega elo sama Kakak sendiri, mentang-mentang akunya ada di penjara udah tidak pernah elo jenguk," suara kesal orang di sambungan telepon, yang tidak lain adalah Nofal.
"Sibuk," jawab sembarang Zeon. Karena lagi tidak mau diganggu.
"Iya gue tahu elo sibuk kerja di perusahaan Daddy, tapi kalian berdua jahat sama gue, sudah tidak peduli lagi sampai tidak mau jenguk."
"Iya ya ... Ahir pekan gue janji akan ke sana dan ajak Daddy sekalian, dah senang?" ucap Zeon sedikit menekan.
"Sekalian bujuk Daddy untuk segera ngeluarin gue dari sini, udah tidak betah," mohon Nofal.
"Iya, nanti coba gue bilangin sama Daddy. Dah dulu gue sibuk." Setelah bicara sambungan telepon langsung Zeon matikan.
"Dasar adik durhaka!" maki Nofal, yang saat ini meminjam telepon yang ada di penjara. Bicara juga belum selesai tapi sudah Zeon matikan.
__ADS_1