Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 30. Menolong dua kali.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di sebuah gedung pencakar langit, Zeon dan Zelea sedang membicarakan hal penting dengan pemilik perusahaan tersebut.


Ini adalah perusahaan ke tiga yang Zelea dan Zeon datangi untuk mengajak kerja sama. Perusahaan Alexa Group yang sedikit goyang keuangannya, membuat Zeon harus segera mendapatkan suntikan dana.


"Terimakasih, Tuan Roy. Sudah mau menerima tawaran kerja sama ini." Zeon menjabat tangan Roy.


Persetujuan kerja sama diantara keduanya tentu tadi bukan suatu hal yang mudah bagi Zeon untuk meyakinkan Roy sebagai pemilik perusahaan tersebut.


Tapi bersyukurnya Roy mau memberi kesempatan, karena Zeon yakin dengan kerja sama ini akan memberikan keuntungan yang besar untuk perusahaan Roy.


"Aku tunggu kamu di luar, aku mau beli minuman sebentar," bisik Zelea di telinga Zeon.


Zelea beralih menatap Roy. "Tuan, saya mohon ijin untuk keluar lebih dulu." Menunduk hormat, Roy tersenyum seraya mempersilahkan. Zelea kembali menunduk hormat sebelum ahirnya keluar dari ruang tersebut.


Setelah kepergian Zelea, Zeon dan Roy kembali melanjutkan pembicaraannya mengenai kerja sama yang akan mereka lakukan nanti.


Zelea saat ini sudah tiba di parkiran mobil, saat datang kemari, tidak mengajak sopir, Zelea masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil sendiri.


Sekitar seratus meter, Zelea mengehentikan mobilnya di depan toko minimarket. Zelea masuk ke dalam sana, dan menuju tempat penjualan air minum.


Di dalam lemari pendingin, banyak sekali beraneka minuman segar, Zelea mengambil dua botol minuman dan membawanya menuju kasir untuk membayarnya.


Dua botol minuman berhasil Zelea bawa, wanita itu keluar dari dalam minimarket menuju parkiran mobilnya.


Zelea menjalankan mobilnya kembali menuju perusahaan Roy, sampainya di sana. Zelea hanya menghentikan mobilnya di seberang jalan, tidak kembali masuk ke area perusahaan.


"Aku menunggumu di sebrang jalan." Zelea ngirim pesan masuk ke hp Zeon.


"Huh, udara siang ini sangat panas." Zelea bersandar seraya meneguk minuman dingin itu.


Mendengar suara bunyi hp, Zelea periksa ternyata pesan masuk dari Zeon yang menjawab iya.


Zelea kembali memasukkan hp nya ke dalam tas.


Zeon saat ini sudah keluar dari lift, saat membalas pesan dari Zelea tadi, ia sudah berada di dalam lift.


Zeon berjalan cepat untuk menuju mobilnya, yang terparkir di seberang jalan, Zeon begitu merasa bahagia, ahirnya bisa menyelamatkan perusahaannya, dan sudah tidak sabar untuk segera memberitahu ayahnya.

__ADS_1


Zeon menyebrangi jalan tanpa melihat kanan kiri lebih dulu, tiba-tiba ada mobil melaju cepat seraya membunyikan klakson.


Tinnnnnnn.


Zeon berdiri membeku, kakinya terasa berat untuk membawa dirinya berlari dari sana, alhasil Zeon jatuh kebelakang.


"Kamu gila ya! Mau bunuh diri di tengah jalan! Apa tidak lihat tadi ada mobil." Zelea marahi Zeon yang masih berusaha duduk dari tempatnya jatuh.


Ya, Zeon tidak jadi tertabrak mobil, Zelea menyelamatkan pria itu, kebetulan tadi Zelea sedang membeli cilok di seberang jalan, dan saat melihat Zeon membeku di tengah jalan, Zelea segera menarik Zeon sebelum mobil berhasil menabraknya.


Beberapa orang yang melihat adegan itu mengelus dada, ahirnya tidak ada kecelakaan.


Zeon sudah berdiri, kini melihat Zelea berjalan menuju tukang penjual cilok.


Zelea mengambil cilok yang sudah di bungkus oleh pedagang.


"Terimakasih, Neng." Penjual cilok itu mengucap syukur, melihat lembar uang seratus ribuan yang Zelea berikan tanpa minta uang kembalian.


"Lain kali kalau mau menyebrang jalan kamu harus lihat jalan kanan kiri lebih dulu," ucap Zelea, kini mereka sudah berada di dalam mobil.


Hemm.


Zeon menghidupkan mesin mobil dan mobil siap melaju.


"Aku terlalu bahagia," jawab Zeon, menyalip mobil di depannya.


Zelea minum air, cilok yang ia makan tinggal setengah. "Bahagia boleh, tapi jangan membahayakan dirimu sendiri. Bagaimana jika tadi kau tertabrak, Mas Radit tidak akan bahagia dengan kabar ini tapi malah sedih."


Zeon tidak menjawab, menatap sekilas Zelea dan kembali fokus menyetir, menyalip lagi mobil di depannya.


Zelea menghabiskan sisa cilok tadi, tidak ada lagi pembicaraan diantara keduanya, sampai mobil kini tiba di Alexa Group setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit.


*


*


*


"Zeon, Daddy bangga padamu." Radit memeluk Zeon seraya menepuk punggung Zeon.

__ADS_1


Radit bahagia mendengar kabar baik ini, ahirnya perusahaan yang telah lama ia kembangkan, berhasil mendapatkan suntikan dana hingga ketakutan akan bangkrut tidak ada lagi.


Zelea yang melihat pemandangan itu juga ikut tersenyum, hanya ini yang bisa Zelea lakukan, membalas budi karena selama ini Radit begitu baik padanya.


Cepat atau pun lambat hubungan ini pasti akan berakhir.


"Sudah kewajiban aku membantu Daddy dan menyelamatkan Alexa Group, Dad?" ucap Zeon setelah Radit melepas pelukannya.


Mereka saat ini duduk di ruang kerja Radit, Zelea juga ikutan duduk di sana.


"Daday tidak usah khawatir, Zeon pasti akan berusaha untuk selalu mempertahankan perusahaan, Daddy." Zeon terus berusaha meyakinkan ayahnya.


Bahwa Zeon tidak akan meninggalkan ayahnya dalam kesulitan menghadapi masalah perusahaan sendiri.


"Terimakasih Zeon." Berulang kali Radit hanya mengucapkan kalimat itu.


Zeon menggelengkan kepalanya. "Jangan terus menerus berucap terimakasih, Dad. karena ini sudah tugas aku."


Zeon dan ayahnya kembali berpelukan, tanpa Zeon sadari Radit meneteskan air mata, hatinya merasa haru dengan sikap Zeon, anak kecil yang dulu ia besarkan kini sudah dewasa dan sudah mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.


Ahirnya mereka bertiga bisa bahagia, hari ini keuangan Alexa Group sudah kembali normal, dan informasi ini begitu cepat tersebar ke seluruh karyawan.


Semua pada mengucap syukur, dengan stabilnya perusahaan lagi.


Zeon kembali ke ruang kerjanya, setelah pembicaraan dengan ayahnya selesai.


*


*


*


Zeon berdiri di depan jendela kaca, tatapannya lurus ke depan melihat air hujan yang turun dengan derasnya.


Jalanan perkotaan menjadi macet banyak kendaraan yang harus sabar melaju akibat hujan deras.


Mendung semakin menggelap, cuaca begitu buruk saat ini, namun Zeon tetap melihat ke luar, tanpa takut melihat kilatan petir yang begitu nampak menyeramkan di luar sana.


Sudah dua kali Zelea menyelamatkan aku dari maut, aku pikir selama ini wanita itu akan membalas kejahatan aku padanya, tapi dia malah menolong aku di saat aku dalam bahaya, batin Zeon.

__ADS_1


Zeon mengangkat tangannya dan jemari besarnya ia tempelkan di kaca. Meski hujan begitu deras di luar sana, namun Zeon tidak bisa menyentuhnya.


"Aku tidak mungkin jahatin dia lagi, setelah dia berbuat baik sama aku, meski aku tidak tahu apa tujuan dia selalu menolong aku. bukankah kalau dia ingin membalas aku, harusnya dia membiarkan aku dalam bahaya, bukan malah menyematkan aku," gumam Zeon, jemari besarnya tergerak di kaca seolah ingin menghapus air hujan.


__ADS_2