
"Kemana berkas penting yang sudah aku siapkan semalam." Zelea mencari berkas penting di dalam tas kerjanya.
"Mengapa tidak ada sepertinya sudah aku masukkan ke dalam tas." Zelea yang penasaran akan isi dalam tas nya mengeluarkan semua isi dalam tas nya.
Barang yang jatuh ke atas meja tidak ada satu pun berkas yang sedang Zelea cari, wanita itu mendesah kasar saat meyakini berkas itu tertinggal di kamar.
"Jika seperti ini aku harus pulang, untung saja meeting dilakukan pukul sepuluh pagi," gumam Zelea seraya melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu delapan pagi lebih lima belas menit.
Ya, Zelea baru saja tiba di kantor, dan saat mau memeriksa berkas penting buat meeting malah mendapati berkas itu tidak ada di dalam tasnya.
Zelea berjalan menuju meja kerja Radit.
"Mas, maaf aku minta ijin pulang untuk mengambil berkas penting buat meeting pagi ini."
Radit tidak menjawab, pria itu hanya melihat jam tangannya dan menatap Zelea lagi. "Ambillah," titahnya.
"Maaf, Mas." Zelea menunduk hormat, sedikit merasa bersalah karena teledornya. Zelea keluar dari ruang tersebut.
Zelea harus buru-buru untuk mengambil berkas itu di mansion, sampai-sampai merasakan jalannya lift begitu lamban.
Setelah lift terbuka, Zelea langsung berjalan cepat, sampai-sampai mau tabrakan dengan karyawan lainnya.
Zelea tidak menggubris ucapan maaf dari karyawan yang sudah mau menabraknya. Wanita itu terus berjalan cepat menuju parkiran mobil.
"Pak, antarkan saya pulang, cepat." Zelea langsung masuk ke dalam mobil setelah bicara dengan sopir pribadi Radit.
"Lebih cepat lagi Pak," perintah Zelea saat mobil sudah melaju di jalan raya.
Zelea harus mengejar waktu, untuk segara sampai di mansion dan segera kembali ke perusahaan.
Dan ahirnya setelah perjalanan kurang dari tiga puluh menit, mobil sudah memasuki pelataran mansion.
Pelayan yang bertugas menyiram bunga di halaman, sedikit terkejut saat melihat Nyonya rumah pulang lagi dan berjalan tergesa-gesa memasuki mansion.
Namun pelayan itu milih kembali bekerja, rasa penasaran hanya cukup ia pendam saja, tidak mungkin mau cari tahu apa sebabnya, bisa-bisa potong gaji.
Zelea sudah tiba di ruang tengah mau menapaki anak tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Tolong!"
"Hah, suara siapa itu?" Zelea menoleh ke sumber suara, kakinya yang sudah menginjak anak tangga pertama langsung turun kembali ke lantai satu.
__ADS_1
Kebetulan ruang tengah terhubung dengan pintu keluar menuju kolam renang, pintu kaca itu terbuka, Zelea berjalan ke arah sana dan seketika udara sejuk di sekeliling kolam renang menerpa wajahnya.
Sepi, yang Zelea dapati. Tidak ada siapa-siapa. Zelea berjalan ke depan lagi, matanya melihat air kolam renang itu yang terlihat begitu tenang.
Zelea membungkukkan tubuhnya untuk menajamkan matanya melihat ke kedalaman air kolam renang itu.
Siapa tahu ada seseorang yang tenggelam karena tidak bisa berenang, mengingat di mansion ini banyak pelayan, wajar jika ada pelayan yang tidak bisa berenang. Mungkin kejebur saat bersih-bersih di sekitar kolam renang.
"Hah, tidak terlihat air ini begitu dalam." Zelea kembali berdiri tegap, saat menoleh ke tempat duduk untuk bersantai, matanya melihat jam tangan yang tidak asing.
Zelea mendekatinya. "Jam tangan Zeon." Zelea memegang jam tangan itu dan begitu yakin bahwa itu milik Zeon.
"Nyonya apa Anda melihat Tuan Muda?" tanya pelayan wanita yang membawa jus jeruk.
Dan mendengar hal itu Zelea langsung terkejut, tanpa menjawab pertanyaan pelayan wanita itu, Zelea langsung menyebur masuk ke dalam kolam renang.
Namun sebelumnya sudah melepas jas kerjanya, hanya menggunakan kemeja saja.
"Nyonya!" teriak pelayan wanita itu seraya mengulurkan tangan dan menutup mulut karena terkejut.
Jus jeruk sudah di letakkan di atas meja.
Kembali panik saat melihat Zelea berhasil keluar dari menyelam dan membawa tubuh Zeon yang lagi pingsan.
Pelayan wanita itu membantu Zelea menuju pinggiran, dengan dibantu pelayan wanita itu, Zelea berhasil membaringkan tubuh Zeon yang pingsan ke pinggiran kolam.
"Tuan Muda mengapa Anda bisa tenggelam apa yang terjadi," ucap panik pelayan wanita itu.
Zelea sudah keluar dari kolam renang, berjalan mendekati Zeon yang lagi pingsan.
"Kejadian seperti ini bisa terjadi pada siapa pun orang meski mahir berenang, apa bila kakinya kram itu bisa membuat orang tenggelam," jelas Zelea, berjongkok di samping Zeon. Pelayan wanita itu manggut-manggut.
Zelea meminta pelayan itu untuk mengambil minyak angin serta handuk kering.
Dan saat pelayan itu sudah tidak ada di sana, Zelea memberikan nafas buatan untuk Zeon.
Tidak berselang lama Zeon sadar dan langsung memuntahkan air yang tadi ia minum.
Mata Zeon sampai memerah, merasakan dadanya sesak. Dan orang pertama yang Zeon lihat adalah Zelea.
Karena di tempat ini tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua, pelayan yang tadi Zelea suruh belum kembali.
__ADS_1
Tanpa perlu dijelaskan, saat ini Zeon tahu bahwa Zelea sudah menolongnya yang hampir saja mau bertemu maut. Terlihat dari pakaian Zelea yang basah.
Zeon juga tidak menyangka jika tadi bisa tenggelam, seingatnya merasakan kram telapak kakinya, membuatnya kehilangan keseimbangan dan setelah itu Zeon tidak ingat apa-apa lagi.
"Kau berhutang hidup dengan ku."
Setelah bicara Zelea pergi meninggalkan Zeon yang masih terkapar di pinggiran kolam renang, tidak lama kemudian pelayan datang membantu Zeon.
Zelea sudah masuk ke dala kamar, segera ganti pakaian, dan menyambar berkas penting yang tadi mau diambilnya.
Zelea langsung pergi lagi dari Manson, saat ini sudah sangat lama dari jadwal jam yang Zelea targetkan tadi, untuk segera kembali ke perusahaan.
Sementara itu Zeon yang saat ini sudah mengunakan pakaian kering, berbaring di atas ranjang, merasakan kepalanya sangat pusing.
Pelayan mengantarkan obat dan makanan untuk Zeon makan. Namun pria itu bukannya makan dan minum obat malah milih langsung tidur.
*
*
*
Hawa diruang meeting begitu mencengkram, saat baru saja manager memberikan laporan bahwa beberapa investor di perusahaan Alexa Group menarik sahamnya.
Masalah besar sedang Alexa Group hadapi, ada seseorang yang iri dan menginginkan Alexa Group gulung tikar.
"Segera temukan cara untuk menyelesaikan masalah ini," perintah Radit.
Semua orang di ruangan tersebut menganggukkan kepalanya.
Setelah itu meeting ditutup, Radit pergi lebih dulu dari ruang meeting yang disusul Zelea dan Asisten Mip.
Setelah Presdir Alexa Group pergi, semua orang di dalam ruangan itu serempak menghela nafas berat. Karena masalah yang dihadapi kini bukan masalah kecil.
Sementara itu, Zelea mencoba menenangkan Radit, pria itu terlihat sangat lelah dan banyak pikiran.
"Mas, saya akan bantu untuk mendapatkan suntikan dana, saya akan mencoba bicara dengan beberapa perusahaan nanti."
Saat ini mereka duduk di kursi sofa yang ada di ruang kerja Radit.
Radit hanya mengangguk, merespon pendapat Zelea.
__ADS_1