
"Permisi Tuan Rendi, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," ucap receptionist di sambungan telepon.
"Siapa namanya?" tanya Rendi, menghentikan sejenak kegiatannya.
"Atas nama Tuan Zeon Alexa," ucap kembali receptionist tersebut.
Rendi menghela nafas berat.
Sudah aku duga dia pasti akan menemui aku, batin Rendi.
"Baiklah, antarkan dia ke ruangan aku."
Sambungan telepon dimatikan, Rendi bangkit dari duduknya berjalan menuju sofa untuk menunggu kedatangan Zeon pagi ini.
"Apa aku mampu melepas Zelea dalam waktu singkat ini ... Aku benar-benar mencintai dia," gumamnya lirih. Rendi memandangi foto Zelea di galeri ponselnya.
Sementara itu, Zeon saat ini bersama receptionist wanita masih berada di dalam lift menuju lantai tempat ruang kerja pemimpin Tin Group.
Ting.
Pintu lift terbuka.
"Mari Tuan," ucap receptionist begitu sopan.
Zeon mengikuti wanita itu sampai langkahnya berhenti di depan pintu yang memiliki ukiran bagus.
"Silahkan masuk Tuan, di dalam Tuan Rendi sudah menunggu." Receptionist itu menunduk hormat.
Zeon mengikuti saran wanita itu dan segera memutar handle pintu.
"Selamat datang di Tin Group."
Kalimat ucapan Rendi seketika menyambutnya setelah pintu Zeon buka.
Rendi berjalan mendekati Zeon, yang kemudian merangkul pundak Zeon. "Mari duduk di sini," ucapnya seraya mengajak Zeon duduk di sofa.
"Sampai juga kamu ya di tempat aku kerja." Rendi tertawa.
"Tentu seperti janjiku," jawab Zeon disertai tawa kecil.
"Ok ... Ok, kamu sendiri? Dimana asisten kamu?" tanya Rendi.
"Dia aku tugaskan ke pekerjaan lain," jawab Zeon.
Rendi mengangguk mengerti. "Tapi pekerjaan lancar kan? tidak ada masalah."
"Semua lancar." Zeon tersenyum.
"Baguslah ... Memang the best pemimpinnya," seloroh Rendi disertai tawa.
"Aku biasa aja, masih banyak anak muda yang lebih hebat dari aku," jawab Zeon, terkekeh kecil.
"Merendahkan diri nih ceritanya," ucap Rendi yang langsung disusul tawa bersama.
Setelah tawa mereda, Zeon mulai berkata serius, yang menjadi tujuannya datang ke Tin Group.
"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu."
__ADS_1
Rendi menatap mata Zeon, yang saat ini seolah tiba waktunya akan persidangan.
"Katakan," jawab Rendi, tidak kalah serius juga.
"Wanita yang bersama kamu saat acara ulang tahun Tin Group."
"Ya, ada apa dengannya?" tanya Rendi.
"Aku cuma ingin memastikan apa dia benar wanita yang aku cari selama ini ... Atau hanya sekedar mirip saja," terang Zeon.
"Lantas apa yang kamu mau?" tanya Rendi.
"Sebutkan identitasnya," ucap Zeon penuh keseriusan, bahkan matanya sudah tidak lagi memancarkan kehangatan.
Seolah berkata jangan macam-macam sampai berani bohong.
Rendi menyandarkan punggungnya ke sofa, menghela nafas panjang. "Nama wanita itu Zelea Anggraini, berasal dari negara T, yang tinggal di rumah aku karena dia tunangan aku."
Deg!
"Tunangan bagaimana bisa?" tanya Zeon hampir tidak percaya.
"Iya bisa, memang kenapa? Aku lihat kamu begitu terkejut, ada apa?" tanyanya pura-pura Rendi.
"Dia wanita yang aku cintai dan pergi meninggalkan aku lima tahun lalu," ucap Zeon, sedikit cerita.
"Satuhal lagi, dia saat ini sedang amnesia."
"Amnesia!" Zeon kembali terkejut. "Dia kecelakaan!"
"Ya, lima bulan lalu, tapi tidak ada luka parah."
"Maksudku luka di tubuhnya," imbuh Rendi.
"Seperti yang kamu lihat pada malam itu, dia baik-baik saja," terang Rendi lagi.
"Aku mau bertemu dengan dia," ucap Zeon cepat.
"Sabar, aku harus bicara lebih dulu dengannya ." Rendi menghela nafas panjang saat melihat mata tajam Zeon menatapnya. "Jangan marah dulu, ini demi kesehatan dia."
"Nanti aku hubungi nomor ponsel kamu," lanjut ucapnya.
Zeon tidak melanjutkan protes, kini membawa punggungnya bersandar, matanya menatap langit-langit ruangan, pikirannya melayang jauh.
Hening, tidak ada yang bersuara lagi. Rendi juga sedang mempersiapkan hati untuk kuat ketika waktunya Zeon akan membawa pergi Zelea dari hidupnya.
"Sudah berapa lama kamu menjadi tunangan Zelea?" Pertanyaan Zeon menjadi pemecah keheningan.
"Satu Minggu sebelum dia kecelakaan."
Zeon tersenyum getir.
Sementara Rendi merasa tidak enak hati, tapi ia juga tidak mau melepas Zelea begitu saja, alhasil ia berkata bohong soal pertunangan, dengan harapan Zeon bisa langsung pergi dan tidak perlu lagi menemui Zelea.
"Ok, aku titip dia saat ini, tapi ingat aku pasti akan menagih janjimu untuk mengajak aku bertemu dengannya." Zeon bangkit berdiri, kemudian berjalan keluar.
Setibanya di dalam mobil, Zeon langsung berteriak.
__ADS_1
Aaaaa! Zeon memukul keras setir mobi, matanya memerah, jelas saat ini Zeon sedang marah campur sedih dan kecewa.
"Kenapa bisa ... Kenapa bisa aku baru menemukanmu di negara ini!"
"Kenapa gak sejak dulu hingga aku belum terlambat harus menyaksikan kamu saat ini miliki tunangan!"
"Kenapa!"
"Kenapa takdir begitu tidak adil sama aku!"
"Kenapa!"
Zeon terus berteriak dan memukul setir mobil, tidak peduli tangannya yang terasa sakit, karena hatinya lebih sakit dari tangannya yang ia lukai.
"Ze ... Aku mencintaimu aku merindukanmu," gumamnya lirih seraya bersandar. Seolah tidak sanggup menanggung beban yang begitu melukai.
"Amnesia kamu harus sembuh supaya bisa ingat sama aku lagi." Zeon Kembali duduk tegap, dan meraih ponsel melakukan sambungan telepon.
"Halo Galang, tolong cari dokter terbaik di negara ini yang bisa membantu kesembuhan amnesia."
Telepon kembali dimatikan, Zeon menjalankan mobilnya meninggal area perusahaan Tin Group.
*
*
*
Saat nanti kamu datang kesini, aku sudah pergi jauh hingga kita tidak akan bertemu lagi, maafkan aku yang berani mencintaimu dari kejauhan, tapi ini lebih baik, karena kita tidak akan bisa bersatu. Batin Zelea.
Zelea saat ini sedang kembali melukis Zeon di dinding kamarnya, tidak ada hari yang lebih menyenangkan baginya selain melukis.
Karena di rumah ini, Zelea tidak melakukan apa pun, hingga rasa kejenuhan yang ia dapat.
Karena tidak ingin begitu merasa sedih, Zelea putuskan untuk melukis, karena apa pun yang sedang dialaminya akan langsung terasa terbagi ketika saat melukis.
Baginya melukis adalah tempat yang tepat untuk melampiaskan segala perasaannya, entah perasaan sedih atau perasaan marah.
Zelea tersenyum memandangi lukisan Zeon yang sedikit lagi hampir selesai.
"Aku mencintaimu," gumamnya lirih, sambil terus menggerakkan kuas, dan kini lebih semangat.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, bersamaan masuknya pelayan.
"Non, ini roti bakarnya di makan ya, Non?" ucap pelayan itu setelah meletakkan di atas meja.
"Baik, nanti saya makan," ucap Zelea tanpa menoleh ke arah pelayan.
"Saya pamit, Non."
"Ok," jawab Zelea.
Pelayan itu beranjak pergi.
Tidak lama setelah pelayan keluar dari kamarnya, Zelea berteriak senang.
"Finally ..." Lukisannya sudah selesai, dan gambaran yang barusan ia buat itu benar-benar seperti hidup, seolah seperti orangnya asli.
__ADS_1
"Selalu baik-baik ya ... Maafkan aku," ucap Zelea, seolah lukisan itu mampu mendengar.