
"Iya maaf Bos Muda saya telat ... Lain kali janji tidak akan saya ulangi," ucap Zelea tersenyum manis.
Hah tidak apa lah menekan ego supaya cepat keluar dari ruangan ini, batin Zelea.
Zeon berdiri dari duduknya, meraih berkas yang masih berada di tangan Zelea. "Mengapa masih kamu pegang, mau kamu bawa pulang lagi," sindirnya, seraya duduk kembali dan mulai membuka berkas itu.
"Haha, tidak mungkin lah, tadi saya lupa." Zelea tersenyum kecil.
His sampai kapan aku harus pura-pura jadi penurut di depan dia, batin Zelea.
Zeon tidak mendengarkan lagi ucapan Zelea, pria itu fokus dengan berkas yang di depannya, dan setelah selesai memeriksa dan memberikan tanda tangan. Zeon kembali menyerahkan berkas itu ke tangan Zelea.
Zelea tersenyum saat menerima berkas itu, dan menunduk hormat sebelum dirinya berbalik untuk pergi dari sana.
Zeon berpikir sejenak.
"Zelea," panggil Zeon, saat wanita itu mau memutar handle pintu.
Zelea menoleh seraya menerbitkan senyum manis. "Ada yang Anda butuhkan Bos Muda?"
His ngapain sih panggil-panggil segala! Malas banget harus pura-pura bersikap manis, batin Zelea.
"Hem, kemarilah," ucap Zeon. Kemudian fokus dengan setumpuk file di atas mejanya.
His, malas banget, batin Zelea. Namun meski begitu tetap menurut berjalan kembali mendekati meja kerja Zeon.
Zeon menahan Zelea. Untuk melihat kemampuan wanita itu di dunia bisnis, karena penasaran bisa sampai membuat ayahnya menjadikan Zelea sekertarisnya.
Zeon memberikan setumpuk file yang harus Zelea kerjakan sampai selesai di ruang kerja Zeon.
"Sebanyak ini!" Zelea terkejut menatap tidak percaya dengan banyaknya tumpukan file-file yang Zeon berikan di hadapannya.
"Kerjakan sekarang. Duduklah di sini, karena aku tidak mengijinkan kamu membawa file ini keluar."
Lagi-lagi Zeon hanya memberikan perintah tidak menjawab pertanyaan Zelea.
"Apa bila sebanyak ini tentu akan selesai sampai malam." Zelea masih berusaha protes, karena tidak mungkin dirinya menyelesaikan saat jam pulang kerja tiba, Zelea sadar tidak sehebat itu.
Dan apa tadi? Zeon berkata bahwa Zelea tidak boleh membawa file itu keluar, mengerjakan dalam satu ruangan dengan Zeon pasti akan membuat Zelea tidak leluasa, dan hanya menghambat semuanya.
Zelea mengepalkan tangannya.
"Sampai subuh pun aku tidak akan membiarkan kamu pulang, sampai pekerjaan ini selesai." Zeon menyeringai, kemudian kembali duduk di kursi kebesarannya.
Zelea hanya mampu memasang wajah cemberut, tidak bisa protes itu lah yang ia rasakan.
Dengan terpaksa Zelea mengambil setumpuk file itu lalu dibawanya ke meja dekat kursi sofa, pena mulai Zelea raih dan mengerjakannya.
__ADS_1
Zeon tersenyum puas saat melihat Zelea mulai mengerjakan tugas yang diperintahkan nya barusan, dari tempat Zeon duduk saat ini, ia bisa melihat wajah Zelea yang ditekuk, terlihat jelas wanita itu sangat terpaksa.
Zeon kembali fokus dengan pekerjaannya. Di ruangan ini dua orang tersebut sama-sama sibuk dengan pekerjaan.
Tidak ada yang saling bicara, hanya sama-sama berbagi udara dalam satu ruangan, hingga sore tiba.
Mereka berdua yang masih fokus bekerja tidak menyadari pintu ruang kerja dibuka oleh Radit.
"Kalian belum mau pulang?" tanya Radit saat baru masuk ke ruang kerja Zeon.
Radit duduk di kursi sofa dimana Zelea duduk di sana juga.
"Aku hari ini lembur, Mas." Zelea menunjukan tumpukan file di atas meja yang masih banyak.
"Kan bisa dikerjakan besok pagi tidak harus lembu-," ucapan Radit menggantung saat mendengar Zeon bicara.
"Tidak bisa, Dad. Aku butuh file itu selesai malam ini, karena besok aku butuh untuk dibawa bertemu klien."
Sebuah alasan yang Zeon katakan, karena tidak mau Zelea pulang begitu saja, karena ayahnya yang baik hati. Dan untungnya Radit percaya ucapannya.
"Baiklah jika begitu ... Tapi apa tidak bisa dikerjakan di rumah?"
"Aku akan menemaninya di sini," jawab Zeon, seolah tahu rasa kekhawatiran ayahnya terhadap Zelea.
Radit mengangguk. "Baik jika begitu, Daddy pulang lebih dulu ... Ze aku pulang dulu."
Setelah Radit pergi, Zelea kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Harus cepat ngerjakannya aku tidak betah berlama-lama di ruangan ini sama dia, batin Zelea.
Wanita itu tampak terus sibuk dengan pekerjaannya, tidak peduli meski tenggorokannya merasa haus.
Tidak ada minuman sama sekali, tapi jika mau ambil minuman hanya akan buang waktunya.
Zelea hanya berharap ada dewa penolong yang baik hati memberikan minuman untuknya.
Teringat nama Rohman, seorang cleaning servis pria yang biasa Zelea mintain tolong untuk mengantar minuman ke mejanya.
Tapi saat mau mengirim pesan, Zelea tersadar bahwa jam kerja sudah selesai, dan Rohman pasti sudah pulang.
Hah dengan lesu ahirnya Zelea lanjut kerja lagi, melupakan tenggorokannya yang kering bak gurun pasir.
Sementara Zeon yang pekerjaannya sudah selesai, pria itu saat ini asik main game.
Waktu terus berputar, jarum jam saat ini menunjuk pukul tujuh malam. Pekerjaan Zelea sudah separuh yang selesai. wanita itu terus semangat mengerjakannya. Dan terus berputar hingga dua jam berlalu dan tiga jam berlalu.
Saat ini pukul dua belas malam, Zelea meletakkan pena di atas file yang masih terbuka, file terakhir yang baru saja Zelea kerjakan.
__ADS_1
Bruk!
Suara benda di letakkan di atas meja. Zelea melihat meja yang saat ini ada sekotak makanan dan satu botol air mineral.
Zelea masih diam belum memberikan respon.
"Makanlah, dan setelah itu kita pulang," titah Zeon. Pria itu kembali ke kursi kerjanya.
Zelea tidak peduli dari mana pria itu dapat makanan, sedari tadi hanya fokus kerja tidak terlalu mikirin Zeon, yang penting saat ini perutnya terisi dan hausnya terobati.
Setelah makan selesai, Zelea membuang bungkus makanan ke tong sampah.
Setelah itu merapihkan lagi file tadi dan ia tumpuk jadi satu di taruh di atas meja kerja Zeon.
Zeon berdiri, mengambil jas yang ia sampirkan di kursi lalu memakainya. "Besok aku periksa, jika ada yang salah akan aku suruh kamu bolak-balik naik turun dari lantai sembilan belas ke lantai satu menggunakan tangga darurat."
Glek! Zelea menelan ludah kasar.
Dasar gila, batin Zelea.
Mereka keluar perusahaan bersama, sampai selarut ini sudah tidak ada siapa pun lagi, hanya masih ada sekuriti menjaga mobil Zeon.
Dan setelah Zeon masuk ke dalam mobil, meminta sekuriti tersebut untuk pulang juga.
Zeon dan Zelea duduk di kursi belakang, mobil sudah ada sopir yang menyetir.
Setelah beberapa kilo meter di dalam mobil Zelea tidur, tanpa sengaja kepala Zelea jatuh di pundak Zeon, aroma wangi rambut Zelea memberikan reaksi aneh di tubuh Zeon.
Saat Zeon menoleh hidung mancungnya langsung menyentuh rambut Zelea, sesaat malah seperti mencium puncak kepala Zelea, padahal Zeon cuma mau membangunkan Zelea.
Zeon berulang kali mendorong kepala Zelea, tapi lagi-lagi kembali ke pundak Zeon, ahirnya pria itu pasrah membiarkan Zelea tidur dengan bersandar di pundaknya.
Setelah mobil sampai di mansion, tanpa membangunkan Zelea lebih dulu, Zeon langsung keluar dari mobil, membuat Zelea tersungkur ke kursi.
"AW!" pekik Zelea, belum sadar jika sudah sampai di mansion.
"Nyonya, sudah sampai," ucap sang sopir.
Zelea keluar dari dalam mobil dengan nyawa yang belum terkumpul.
Bahkan saat masuk ke dalam mansion, Zelea berhati-hati, karena matanya berkunang-kunang.
Setelah sampai di lantai tiga, Zelea yang merasa sangat mengantuk, membuatnya salah menoleh dan ahirnya kepentok dinding keningnya.
"Dasar dinding nakal!" bentaknya seraya memukul dinding itu.
"His! Tidak tahu apa orang lagi mengantuk," gerutunya sambil membuka pintu kamar.
__ADS_1