Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 62. Bintang jatuh.


__ADS_3

Pagi itu Zelea dan Zeon mengulang lagi kegiatan panas mereka, sebelum ahirnya mereka berangkat ke kota B untuk bulan madu.


Senyum indah terus terukir di bibir keduanya, selalu berdekatan tidak ingin berjauhan walau sedetik pun.


Sepanjang perjalanan di dalam mobil menuju kota B, mereka duduk saling berdekatan dan memeluk, tidak peduli sopir kemudi yang sedang menjalankan mobilnya.


Tepat pukul sebelas siang mereka sudah tiba di kota B, sementara Zeon mengajak bulan madu di kota terdekat, belum bisa jauh karena masih menangani perusahaan.


Tapi hatinya berjanji bahwa saat libur panjang tiba nanti, Zeon akan mengajak Zelea ke suatu pulau yang indah.


"Kita sudah sampai," ucap Zelea riang, saat keluar dari dalam mobil, dan langsung mendekati Zeon, melingkarkan tangannya di lengan sang suami.


Nyaman sekali rasanya, Zelea tersenyum-senyum, saat mulai berjalan bersama Zeon.


Zeon pun berlaku manis, sesekali menoleh menatap wajah Zelea yang saat ini sedang bergelayut manja di lengannya, tangan Zeon tidak lupa mengusap tangan Zelea, menambah kesan hangat dan dicintai.


Setelah dari receptionist, mereka berdua menuju kamar hotelnya di lantai lima.


Klek! Pintu terbuka.


"Hu ... Kamarnya bagus sekali ..." riang Zelea seraya berjalan cepat lebih masuk ke dalam kamar, Zelea berputar-putar seperti menari balet.


Zeon tersenyum melihat tingkah Zelea, seraya meletakkan koper di ujung.


"Jangan putar-putar nanti pusing," ucap Zeon, berjalan mendekati Zelea. Dan ....


Zeon memeluk Zelea, menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuh Zelea, sampai Zeon memejamkan matanya.


Zelea merasa geli saat daging lembut menempel di lehernya. "Sayang."


Zelea kesal, karena saat ini inginnya mau jalan-jalan, di bawah hotel sana ada taman indah juga kolam renang, juga restoran yang masakan sangat enak.


Zelea mau kesana lebih dulu, lagian saat ini masih siang hari, tapi suaminya itu malah memeluknya seperti ini.


"Sayang, kan udah janji kalau-,"


Hemm.


Zeon mengangkat wajahnya, kini mereka saling memandang. "Nanti malam jatah aku harus tripel tripel."

__ADS_1


"Ih ... Mana boleh begitu," protes Zelea, tapi pipinya merah merona saat bicara.


"Iya, dong harus karena siang ini aku temani kamu jalan-jalan." Zeon berjalan menuju ranjang lalu melepas jas yang melekat di tubuhnya.


Zelea tidak tahu, bahwa saat ini Zeon tengah sedang tersenyum. Pokoknya harus menang banyak tidak mau rugi.


"Ok, aku setuju," ucap Zelea ahirnya, meski tidak yakin apa kah akan kuat melayani Zeon bila harus berkali-kali atau sampai pagi, semalam saja ia sudah kewalahan.


Aaa! Zelea menjerit dalam hati teringat kegiatan panas tadi malam, kini pipinya semakin memerah.


Zelea senyum-senyum dengan kedua telapak tangan menempel di pipi.


"Kamu kenapa?"


Zelea terperanjat kaget saat tiba-tiba Zeon berdiri di depannya, fokus membayangkan kegiatan panas tadi malam sampai tidak menyadari kini Zeon sudah berganti baju kaos dan berdiri di depannya.


Tapi Zelea tidak menjawab pertanyaan Zeon, ia malah memperhatikan penampilan Zeon dari bawah sampai atas, yang saat ini menggunakan celana jeans dan kaos hitam lengan pendek.


"Sayang, kenapa kamu terlihat lebih tampan memakai pakaian seperti ini." Bibir Zelea cemberut.


Zeon memencet hidung Zelea karena gemas. "Lalu ... biasanya aku tidak tampan gitu, iya?" Zeon masih memencet hidung Zelea sampai wanita itu susah nafas.


Hahaha! Zeon tertawa melihat Zelea kesal. Kemudian langsung menggandeng tangan Zelea keluar dari sana.


Setelah berada di dalam lift, Zelea sudah tersenyum lagi dan bergelayut manja di lengan Zeon, wajah cemberutnya sudah hilang.


"Mau jalan-jalan kemana aja?" Zeon mencium kening Zelea, saat wanita itu mendongakkan kepalanya.


"Semua," jawab Zelea dengan senyum merekah.


Hemm.


Ting! Pintu lift terbuka.


Mereka langsung melangkah keluar, menuju tempat wisata yang disediakan di hotel ini. perjalanan mereka melewati lorong yang panjang, di sana banyak sekali orang-orang yang sedang berjalan seperti mereka berdua.


Keluar dari lorong itu, di depan sana adalah sebuah restoran mewah, tempat yang sejuk juga banyak bunga dan pohon hias.


Zeon sempat menawari Zelea makan siang lebih dulu, namun tidak mau jawabnya karena masih kenyang.

__ADS_1


Saat ini lanjut berjalan menuju pantai, udara siang panas, karena saat ini siang hari. Ahirnya lanjut berjalan kini tujuannya ke sebuah taman yang di sediakan di area hotel


Di taman tempatnya sejuk banyak pohon, dan yang membuat asyik ada penjual di sana, ragam pernak-pernik yang lucu semua ada di sana.


Zeon meminta Zelea duduk di sebuah bangku, Zeon pergi membeli air minum.


Saat sedang duduk sendiri, Zelea melihat penjual es krim, kemudian mendekatinya dan membeli dua es krim.


Saat Zeon sudah kembali tidak menemukan Zelea duduk di bangku tempat sebelum ia pergi beli minum.


Awalnya Zeon panik melihat Zelea tidak ada, tapi saat tiba-tiba melihat wanita yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sedang berjalan ke arahnya sembari menjilati es krim, Zeon tersenyum.


"Aku pikir kamu hilang tadi," ucap Zeon, saat Zelea sudah duduk, dan Zeon ikutan duduk di sebelahnya.


Zelea tidak menjawab tapi malah menyuapi Zeon dengan es krim, ahirnya Zeon memakan es krim itu sembari matanya menatap lekat wajah Zelea.


Manis sekali sikapnya, dan makin manis saat merasakan es krim itu disuapi Zelea.


Siang ini mereka jalan-jalan cukup sampai di taman, dan malam harinya mereka mendatangi pantai.


Malam ini di sekitar pantai banyak sekali orang-orang, dari dewasa juga anak-anak.


Semua akan menyaksikan bintang jatuh, Zelea sudah tidak sabar menantikan saat itu tiba.


Dan saat bintang di langit berpindah tempat seperti bintang jatuh, semua orang di sana menatap berbinar, termasuk Zelea.


"Aku mau berdoa," ucapnya, dan langsung memejamkan matanya.


Zeon hanya tersenyum, baginya Zelea sangat lucu, karena tadi begitu antusias ingin melihat bintang jatuh, giliran sudah tiba waktunya malah memejamkan matanya, kan sama saja seperti tidak melihat.


Zelea mengusap wajahnya setelah selesai berdoa.


Setelah dari pantai, Zeon dan Zelea kembali ke hotel, waktu sudah mulai semkin larut malam.


Zeon tidak menunggu lama, langsung membimbing Zelea ke atas ranjang, jangan ditanya wajah Zelea saat ini, yang pasti sudah merah merona.


Zeon seperti memiliki mata di tangannya, yang kini tanpa melepas ciuman di bibir Zelea, tangannya sudah melepas baju Zelea, yang entah sejak kapan Zeon lakukan, Zelea tidak menyadari, karena terlalu hanyut kebawa permainan lembut penuh gelora yang diciptakan oleh Zeon.


Zeon menyentuh Zelea penuh kehati-hatian dan sangat begitu lembut, hingga membuat sang pemilik tubuh seperti terbang ke nirwana dengan ribuan sayap.

__ADS_1


__ADS_2