Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 57. Berdamai.


__ADS_3

Saat kaki Zelea menjejak keluar mobil, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah hamparan luas hingga berhektar-hektar, dimana di sana setiap pusara di rawat rapi.


Terlihat ada yang sudah lama, ada juga yang masih baru, dari tanahnya yang masih basah.


Setiap langkah kakinya berjalan, didampingi Zeon di sampingnya, Zelea merasa hatinya teriris.


Saat kepergiannya Radit masih sehat, namun tiba kepulangannya Radit sudah meninggal, dan satu kenyataan itu benar-benar memukul hatinya.


Dan ketika sudah sampai di tempat yang dituju, kakinya seolah terasa lemas, Zelea langsung berjongkok, tangannya memegang makam Radit hingga pusara yang memperlihatkan nama Radit.


Kini air matanya tidak lagi bisa dibendung, Zelea menangis terisak hingga tanpa suara, dadanya sesak sekali rasanya, tidak sanggup untuk berkata.


Hanya hatinya yang berbicara tanpa bisa ia suarakan.


Zeon yang berjongkok di sebelah Zelea, mengusap punggung Zelea, untuk menenangkan wanita itu.


"Dad, Zeon datang." Tangannya masih mengusap punggung Zelea, matanya melirik Zelea sekilas kemudian fokus ke makam ayahnya. "Sekarang Zeon datang bersama Zelea ... Terimakasih atas restu Daddy waktu itu." Zeon melirik Zelea. "Zeon mau memberi tahu di waktu dekat ini akan menikah dengan Zelea."


"Daddy semoga bahagia di sana," ucap Zeon lagi, yang semakin membuat air mata Zelea berlinang.


"Kamu mau sampaikan sesuatu ke Daddy," bisik Zeon di telinga Zelea.


Zelea mulai menenangkan diri, mengambil nafas dan mengeluarkannya perlahan, setelah lebih tenang Zelea baru bicara meski dengan suara terbata-bata.


"Mas ... A-aku mi-mintak ma-maaf." Zelea kembali menangis, lidahnya kelu dan kalimatnya tidak bisa dilanjutkan.


Tangan lebar Zeon menghapus air matanya, namun Zelea malah menubruk dadanya menangis terisak di sana.


Zeon membiarkan Zelea menangis sampai wanitanya itu lega. Saat ini yang bisa ia lakukan hanya membantu Zelea lebih tenang.


Dan setelah beberapa saat kemudian, selesai menumpahkan kesedihan di dada Zeon, kini Zelea jauh lebih tenang.


Dan kini bersama Zeon mulai menaburkan bunga mawar di pusara, memberi minyak wangi juga.


Setelah itu mereka membaca doa, dan setelah merasa waktu sudah beranjak siang, matahari mulai naik, dan tempatnya mulai panas, Zeon dan Zelea memutuskan untuk menyudahi.


"Zeon pamit, Dad. Dan sampai bertemu lagi, Dad."


Kemudian Zeon dan Zelea berjalan meninggalkan makam.

__ADS_1


Setelah berada di dalam mobil yang sedang melaju, Zeon menoleh ke arah Zelea yang duduk di sebelahnya. "Kita berkunjung ke restoran Nofal, ya."


"Aku tahu kamu dan dia punya masalah yang belum sempat di selesaikan." Zeon berhenti bicara, di depan ada mobil berhenti dan lanjut jalan lagi, Zeon menoleh ke arah Zelea. "Sekarang kita mau menikah, semoga kalian bisa saling maafkan ya?"


Zelea tidak menjawab sama sekali, tapi Zeon tidak akan memaksa, semua biarlah berjalan pelan-pelan saja, takut kalau dipaksa nanti malah membuat Zelea tidak nyaman.


"Kita sudah sampai," ucap Zeon riang, seraya mencari parkiran untuk mobil nya dan setelah terparkir rapi, Zeon mengajak Zelea memasuki restoran.


Restoran yang cukup megah di mata Zelea, masih belum percaya bahwa seorang Nofal yang suka ganti-ganti pacar kini bisa sukses dalam berbisnis tidak mengandalkan ketampanan yang seperti pekerjaannya dulu sebagai selebriti.


"Silahkan, Tuan. Tadi Bos menitipkan pesan bahwa Tuan diminta untuk menempati ruang sebelah sana."


Lamunan Zelea terbuyarkan ketika mendengar ucapan pelayan pria yang menunjukan salah satu ruang VVIP.


"Terimakasih," jawab Zeon, kemudian berjalan dan mengandeng tangannya.


Setelah pintu terbuka, ruangan yang luas dan nyaman itulah yang pertama Zelea lihat.


Zeon menuntun Zelea untuk duduk, kemudian di susul Zeon duduk di sebelahnya.


Tidak lama kemudian malah hampir bersamaan dengan mereka baru duduk, seorang pelayan datang mengantar minuman.


"Terimakasih," ucap Zeon, sebelum pelayan itu pergi.


Zelea menyikut lengan Zeon pelan. "Ini siapa yang pesan, salah orang kali dia."


Zeon tertawa melihat ekspresi wajah Zelea yang terlihat lucu karena mengira pelayan tadi salah orang.


"Ih malah ketawa sih." Zelea kesal.


Tapi dengan segera Zeon merengkuh pundak Zelea. "Kita kan, tamu spesial pasti ya tanpa pemesanan langsung dikasih minuman," terang Zeon.


"Ayo minum dulu, kamu pasti haus." Zeon mengambil satu gelas jus dan menyerahkannya pada Zelea.


Zelea meminum jus tersebut begitu juga dengan Zeon, perjalanan dari makam ke restoran membuat haus juga.


"Tapi, kenapa gelasnya ada tiga?" tanya Zelea, setelah meletakkan gelas jus kembali di atas meja.


"Karena -,"

__ADS_1


"Selamat siang," suara seseorang dari belakang memotong ucapan Zeon, dan saat Zelea menoleh ternyata Nofal.


Zelea tidak terkejut sama sekali melihat penampilan Nofal, karena memang dari dulu pria itu selalu rapi.


"Eh, ada calon adik ipar," seloroh Nofal setelah duduk di depan mereka berdua.


"Masih ingat sama aku?" lanjut tanyanya.


Zelea hanya mengangguk, malas mau bicara. Baginya Nofal tetap Nofal pria yang dulu pernah menyakitinya.


"Santai saja, aku gak apa-apa kok kalau kamu mau bicara, masalah kalian harus selesai," bisik Zeon di telinganya.


Zelea hanya melirik zeon, tanpa merespon mau mengiyakan.


Tapi disini Nofal merasa tidak enak, apa pun keberadaannya pasti membuat Zelea tidak nyaman, dan hal ini membuat Nofal segera bicara yang ingin ia tuntaskan.


"Aku minta maaf tentang masa lalu."


"Gak perlu dibahas," jawab Zelea ketus.


"Perlu, karena kamu sebentar lagi akan menikah dengan adikku ... itu artinya kamu akan menjadi adik iparku."


Zelea hanya diam dengan kepala menunduk.


"Aku benar-benar minta maaf ... Aku tahu kata maaf ku tidak akan bisa mengembalikan semua kebahagiaanmu ... Karena itu aku minta maaf." Nofal menghela nafas panjang, teringat masa lalunya memang tidak pantas untuk dimaafkan.


"Aku gak memaksa kamu harus bersikap baik sama aku." Nofal menjeda ucapannya, menatap Zelea penuh permohonan. "Zeon adalah keluargaku satu-satunya ... Dan aku ingin kita terus menjadi keluarga yang baik." Nofal memejamkan matanya seolah berat mau lanjutkan ucapannya, "Kamu mau kan maafkan aku."


Lega, itulah yang Nofal rasakan saat ini, karena sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya, yang ia takuti sepanjang hari, karena khawatir Zelea tidak mau menerimanya dan malah memutus hubungan saudara antara dirinya dan Zeon.


Tidak! Nofal tidak mau seperti itu, karena itulah pertemuan hari ini sangat penting.


Zelea berpikir seraya merenungkan kalimat yang diucapkan Nofal, sebenarnya ia tidak ada hal untuk membenci Nofal, karena sudah masa lalu, dan sekarang hidup barunya akan segera dimulai.


Berdamai dengan masa lalu mungkin itu lebih baik, apa lagi Radit juga mau memaafkannya sampai merestui hubungannya dengan Zeon sebelum meninggal.


"Kita berdamai," ucap Zelea ahirnya, dengan pandangan mata melihat ke arah Zeon.


Zeon dan Nofal sama-sama merasa lega mendengar jawaban Zelea.

__ADS_1


Zeon langsung memeluk Zelea. "Terimakasih," bisiknya.


__ADS_2