Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 85. Selalu cinta


__ADS_3

Setelah dari rumah sakit menjenguk Nofal, Zeon langsung menuju pulang, saat ini waktu sudah malam hari, seharian ini hampir sibuk tidak ada waktu untuk Zelea.


Padahal biasanya selalu bersama wanita itu, apa lagi setelah memutuskan kerja dari rumah, tidak bertemu dalam satu hari rasanya rindu.


Dan wajah yang pertama ingin ia temui adalah wajah istrinya, Zelea?


Begitu mobil yang dikendarai masuk ke halaman mansion, Zeon langsung keluar dan masuk ke dalam. Mobil diparkirkan oleh satpam penjaga malam hari.


Dan begitu Zeon membuka pintu utama, langsung dikejutkan dengan pemandangan seseorang yang sangat dikenalnya kini tengah tidur di sofa ruang tamu.


Di kursi sofa sebelah ada pelayan setia yang selalu menemani istrinya itu.


Cika berdiri menunduk hormat. "Nyonya sedari tadi menunggu Anda Tuan."


Zeon mengangguk. "Pergilah istirahat sekarang, saya akan membawanya ke dalam kamar."


Cika patuh, kemudian beranjak pergi dari sana.


"Kasihan istriku, menunggu aku sampai ketiduran di sofa," gumam Zeon, berjalan mendekati sofa. Zeon berjongkok dan kemudian mencium kening Zelea, lalu berganti menyibak kemeja tidur Zelea dan mencium perut Zelea.


Zeon tersenyum saat baby dalam perut Zelea bergerak ketika barusan di cium perut itu.


"Tahu ya kalau ini Daday." Zeon mengusap perut Zelea. Ada perasaan hangat dalam hatinya.


Zeon berganti membangunkan Zelea, tapi bukan dengan cara mengguncang tubuh Zelea, Zeon membangunkan dengan caranya, yaitu mencium bibir Zelea.


Ciuman dalam dan lama, hingga lama-lama membuatnya kehabisan oksigen, Zelea langsung membuka matanya.


Zeon tersenyum.


"Baru pulang?" Zelea memukul lengan Zeon.


"Iya, lama ya, Nunggunya?" Zeon mengusap puncak kepala Zelea.


"Banget ... Mau pindah kamar."


Zeon membantu Zelea untuk duduk, kemudian berdiri dan berjalan bersama menaiki tangga menuju kamarnya berada.

__ADS_1


Zeon harus siaga memegangi Zelea, karena saat berjalan Zelea dalam keadaan mengantuk, jalanya hampir limbung.


Setelah sampai di dalam kamar, Zeon langsung membantu Zelea tidur di atas ranjang.


Zeon mengecup kening Zelea, kemudian mau beranjak ke kamar mandi, namun tiba-tiba tangan Zelea menahan lengannya, padahal tadi matanya sudah terpejam dan kini terbuka lagi menatapnya.


Zeon urung untuk pergi, tangannya kembali mengusap kepala Zelea. "Ada apa? Hem."


"Adek minta dielus," ucap Zelea manja.


Zeon tersenyum, matanya langsung mengarah ke perut buncit Zelea. "Aku mandi dulu, rasanya gerah."


Zelea melepaskan tangannya yang menahan lengan Zeon, bertanda Zeon boleh pergi mandi dulu.


Dan Zeon langsung berjalan menuju kamar mandi, sepuluh menit di dalam sana, Zeon keluar sudah dalam keadaan segar, karena habis mandi.


Zeon hanya mengunakan celana bokser, dan biarkan tetap telanjang dada, kemudian langsung ikut menyusul Zelea di atas ranjang.


Zeon tersenyum melihat Zelea yang saat ini tengah tidur pulas, Zeon kemudian menghujani ciuman di wajah Zelea.


Zeon masih menuruti keinginan Zelea yang tadi minta dielus perutnya, Zeon menyikap baju Zelea, meletakan telapak tangannya di atas perut Zelea.


Zeon semakin bahagia mendapat respon cepat dari calon anaknya.


"Daddy mencintaimu." Zeon mencium perut Zelea, dan seketika tendangan di perut tepat di bagian Zeon cium.


Zeon tersenyum mengusap lagi perut Zelea. "Dah ya, Daddy mau bobok."


Zeon ikut berbaring di sebelah Zelea, memeluk istrinya penuh cinta.


*


*


*


Tanaman sayuran buah Zelea kini sudah memanen, seperti sayuran buah jenis tomat, pagi ini para pelayan memetik sayuran tomat dari pohonnya.

__ADS_1


"Nanti boleh kalian jual dan keuntungannya buat kalian semua ya?" Zelea memberi tahu.


Para pelayan merasa senang, karena ini sama saja mendapat bonus dalam bekerja.


Dan tidak hanya sekali seperti ini, tapi setiap memanen, hasilnya selalu untuk para pelayan.


Bahkan ada pelayan yang merasa bersyukur bisa bekerja di mansion keluarga Alexa, karena sekarang ekonominya jadi terbantu, tidak seperti dahulu yang saat belum bekerja di mansion ini.


Setelah memberi instruksi, Zelea kembali masuk ke dalam Mansion. Mencari pria yang selalu dicintai, yang setiap detik cintanya semkin bertambah, tidak termakan oleh waktu.


Begitu sampai di ruang kerja, tempat biasanya suaminya itu selalu ada di sana, tapi kini ia tidak menemukan sosok yang dicarinya.


"Kemana dia?" gumam Zelea, sembari terus mencari Zeon.


Zelea kembali turun ke lantai satu, berjalan menuju halaman, dan ternyata sosok yang dicarinya saat ini sedang berada di luar, bicara dengan satpam.


"Hah, ternyata dia ada di sana."


Zelea berdiri di teras, membiarkan Zeon untuk bicara lebih dulu dengan satpam tersebut.


Ternyata pembicaraan itu cukup lama, Zelea juga tidak tahu apa yang mereka berdua sedang bicarakan, semua terlihat serius.


Begitu Zeon selesai bicara dengan satpam tersebut, saat berjalan mau masuk ke dalam mansion, melihat Zelea berdiri di teras.


"Ngapain disini?" tanya Zeon sembari berjalan mendekat.


"Nungguin kamu, tapi malah lagi asyik bicara dengan satpam," jawab Zelea.


Zeon tertawa. "Oh, itu." Zeon merengkuh pinggang Zelea dan mengajak berjalan masuk ke dalam.


"Aku mau menyiapkan pernikahan untuk Nofal," jelas Zeon sembari berjalan.


Zelea manggut-manggut mengerti. "Kapan acaranya?"


"Besok."


"Besok itu!" ulang Zelea, sedikit terkejut karena dadakan seperti ini.

__ADS_1


Zeon mengangguk mengiyakan.


__ADS_2