
Ahir pekan tiba, sejak pagi kemarin Radit sudah pergi ke luar kota, hanya sendiri tidak mengajak Zelea.
Zelea saat ini sedang menikmati sejuknya pagi hari di balkon kamarnya, waktu masih menunjukan pukul enam pagi, udara pagi hari masih sejuk-sejuknya.
Berdiri dengan melihat ke arah taman bunga di bawah sana, yang biasanya setiap pagi pasti ada tukang kebun yang bekerja menyiram bunga.
Ada pelayan juga yang menyapu di sekitar taman, tapi pagi ini Zelea tidak melihat siapa pun di sana.
Kok aneh sih, gumam Zelea.
Zelea penasaran, berjalan ke arah balkon samping, dari sini ia bisa melihat pelayan yang bekerja di haman rumah, tapi juga tidak melihat pelayan yang bekerja di sana pagi ini. Hanya ada satpam yang masih bekerja seperti biasanya.
"Kenapa pagi ini sepi? Pada kemana mereka?" Zelea bertanya-tanya, karena penasaran ahirnya mutusin turun ke bawah.
Setelah keluar kamar, Zelea merasakan hawa sepi, biasanya di mansion ini banyak pelayan yang sudah beraktifitas di jam segini, tapi saat ini sepi bagai tanpa penghuni.
Semakin Zelea turun menapaki anak tangga, semakin tahu bahwa di mansion ini benar-benar sepi, tidak ada satu batang hidung pelayan yang terlihat.
"Pada kemana mereka? Tidak mungkin mereka libur dalam waktu bersamaan, mau jadi apa mansion ini apa bila tidak ada yang membersihkan."
Zelea bicara sendiri setelah sampai di lantai satu, langkah kakinya lanjut berjalan menuju ruang makan.
Di sana tidak ada makanan karena ini masih pagi, Zelea masih bisa tenang, tapi saat sudah sampai di dapur dan tidak ada mahluk satu pun di sana, yang biasanya bertugas memasak. Seketika Zelea terkejut.
"Oh gila ini tidak mungkin! Mereka libur kerja bersamaan!" Zelea terkejut, matanya terbelalak lebar.
Zelea berjalan mendekati wastafel pencuci piring, mulutnya langsung menggangga, Zelea menggelengkan kepalanya. "Ini piring kotor semalam, kan?"
Mata Zelea melihat ke seluruh perabot, dan baru sadar ternyata belum ada yang dicuci sehabis buat memasak kemarin.
Tidak hanya itu, Zelea merasakan lantai dapur sangat kotor dan lengket. Pagi hari mendapati Mansion yang biasanya bersih jadi seperti ini, Zelea seketika bingung.
Zelea melangkah pergi dari dapur, namun saat baru sampai di ruang makan, ia bertemu Zeon yang saat ini meletakkan piring kotor ke meja makan.
"Kenapa? Heran, mendapati Mansion hari ini sepi," ucap Zeon, pria itu berdiri tegap menatap remeh ke arah Zelea.
"Apa maksudmu!" Zelea pura-pura tidak mengerti ucapan Zeon, padahal dalam hatinya sudah was-was, apa bila ini semua ulah Zeon.
"Cih, masih tidak mengerti," cibir Zeon, jemari telunjuknya mengoles ke meja makan, kemudian ia tunjukan ke Zelea hasilnya. "Kotor, dan aku tidak suka kotor, karena pelayan hari ini libur semua, jadi kamu yang harus bersihkan semua ini."
What!
__ADS_1
Zelea langsung terkejut mendengar ucapan Zeon. Bagaimana bisa dirinya yang seorang Nyonya rumah di suruh beres-beres, pikir Zelea. Tangannya terkepal, menahan kekesalan. "Aku tidak mau! Kau saja yang bersihkan!"
Zelea tidak sudi menuruti kemauan Zeon, dan milih pergi dari sana, tidak peduli mansion kotor.
Namun saat melewati Zeon, tangan Zelea dipegang oleh pria itu. Zeon menariknya hingga mereka kini saling berhadapan.
"Lepaskan!" Zelea menatap tajam Zeon, tapi tidak membuat Zeon melepaskan tangannya.
Zeon semakin kuat memegang tangan Zelea seraya memiringkan wajahnya berbisik penuh penekanan di telinga Zelea,"Ikuti mauku atau aku akan katakan semua rahasiamu ke Daddy."
Zeon melepaskan tangannya, melangkah mundur tanpa mengalihkan tatapannya pada Zelea. Wajah ketakutan itu jelas terlihat di mata Zeon.
Sebenarnya rahasia apa yang wanita ini simpan, tiap kali aku mengatakan ancaman tersebut dia ketakutan, padahal aku asal bicara, batin Zeon.
"Kenapa diam! Cepat lakukan!"
Dasar pria tidak punya sabaran, batin Zelea seraya menatap tajam ke arah Zeon.
"Ya! Ini mau dilakukan." Zelea menjawab tidak kalah ketus.
Zeon tersenyum miring kemudian melenggang pergi dari ruang makan.
Zelea menatap benci ke arah punggung Zeon yang berjalan menjauh.
Zelea melihat piring kotor di atas meja makan, kemudian menoleh ke arah dapur yang juga kotor belum di bersihkan. Hah Zelea menghela nafas berat, rasanya malas mau mengerjakan tapi tidak ada pilihan.
"Kenapa belum kau kerjakan!" suara bariton terdengar keras membuat Zelea kaget. Saat menoleh ternyata Zeon balik lagi.
Zeon mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja makan, Zeon melirik Zelea. "Cepat kerjakan! Dasar pemalas!"
Zelea rasanya benar-benar kesal mendengar ucapan kasar Zeon, dan rasanya ingin menabok mulut pria itu tapi sayangnya tidak miliki keberanian.
Setelah mendengar helaan nafas berat Zeon yang berjalan pergi dari ruang makan, Zelea baru membereskan meja makan. Selesai di sana berganti membereskan di dapur, kemudian menyapu dan mengepel seluruh ruangan.
Zeon melihat Zelea dari lantai tiga, tersenyum miring saat melihat Zelea kelelahan, dan kembali lagi ke dalam kamar. Hatinya merasa bahagia sudah berhasil mengerjai Zelea.
Semua pelayan hari ini libur karena Zeon suruh, mumpung ayahnya lagi diluar kota, Zeon mau bertindak semaunya.
*
*
__ADS_1
*
Setelah semua pekerjaannya beres, Zelea tiduran di sofa di ruang tengah,tidak biasanya mengerjakan pekerjaan rumah, Zelea langsung kecapean.
Zelea sudah tertidur pulas di sofa, Zeon turun ke lantai satu, merasa lapar karena sejak pagi belum makan.
Zeon tersenyum puas melihat Zelea yang kelelahan sampai ketiduran di sofa.
Enaknya aku kerjain apa lagi ya dia? Batin Zeon.
Zeon berjalan menuju ruang makan, otaknya masih berpikir untuk mengerjai Zelea lagi.
Sampai di sana membuka tudung nasi, bibirnya tersenyum saat melihat ada makanan hangat yang baru di masak.
Karena sudah lapar, Zeon langsung makan saja, setelah dirasakan rasanya enak. Baru tahu bahwa Zelea bisa memasak.
Tapi Zeon tidak mau baik hati pada Zelea hanya kerena masakan wanita itu enak.
Zeon makan cukup banyak, dan setelah selesai makan, Zeon berjalan ke dapur, pria itu mengambil gayung yang kemudian diisi air, Zeon berjalan keluar dari sana menuju ruang tengah.
Byurrr!
"Ah hujan! Hujan!" Zelea bangun dari tidurnya penuh rasa panik, apa lagi mendapati wajahnya basah.
Hahahah!
Mendengar suara tawa Zeon, seketika hilang rasa panik Zelea, dan berganti tatapan tajam ke arah pria itu.
"Kau menyiram ku, dasar kurang ajar! Kau maunya apa sih? Aku tuh lelah!"
"Itu akibat karena kau malah tidur! Enak saja kau tidur, lanjutin kerjaannya. Tuh halaman depan serta kebun taman belum kau bersihkan!"
Setelah memberikan perintah lagi Zeon kembali naik ke lantai tiga.
Ahirnya saat itu Zelea membersihkan depan mansion, dari halaman sampai di taman juga menyiram bunga.
Hampir dua jam baru selesai, dan saat tiba sore hari, Zelea kembali memasak untuk makan malam.
Setelah malam tiba, dan Zeon sudah makan malam, Zelea mencuci piring kotor lebih dulu, baru masuk ke dalam kamar.
Sampai di dalam kamar, Zelea menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan dramatis. Lelah sekali, dua kata itu yang saat ini Zelea rasakan.
__ADS_1
Matanya belum terpejam, masih menatap langit-langit kamar.
Besok saat Mas Radit pulang, aku akan adukan tingkah nakal mu ke Mas Radit, batin Zelea menyimpan dendam ke Zeon.