
Masih dalam waktu bersamaan.
Sekuriti penjaga pintu gerbang mansion seketika berdiri, saat melihat seseorang yang keluar dari mobil taksi yang berhenti tepat di depan gerbang.
"Seperti Tuan Muda Nofal," gumamnya setengah berlari untuk membuka pintu gerbang.
"Apa kabar, Pak?" sapa Nofal setelah melihat Sekuriti mendekat dan membuka gerbang.
"Ah, Tuan Muda. Anda sudah kembali selamat datang Tuan Muda," ucap sekuriti dengan perasaan penuh kebahagiaan jelas tergambar di wajahnya.
"Terimakasih, Pak." Nofal kemudian melihat sekeliling mansion. "Keadaan masih sama ya, Pak? perasaan aku sudah lama pergi."
"Iya, Tuan Muda. Masih sama semua, tidak ada perubahan," jawab sekuriti sembari tersenyum.
"Ya sudah, Pak. Lanjut kerja lagi saja, aku mau masuk ke dalam." Nofal berjalan menuju teras depan pintu utama.
Namun sebelum membuka pintu, keluarlah wanita tua, bi Jum datang menyapanya.
"Tuan Muda, Anda sudah pulang, Bibi senang melihatnya." Bi Jum tersenyum lebar.
"Kirain Bi Jum, Tuan Muda masih lama di penjara," ucapnya lagi.
Nofal balas tersenyum, pikirannya teringat kejadian beberapa hari lalu, pembicaraannya dengan Radit saat sedang mengunjunginya.
"Dad, aku mohon tolong bantu aku bebas dari sini, Dad." Nofal mengatupkan tangan di depan dada.
"Nofal janji tidak akan mengulangi keburukan lagi, Dad. Tolong Nofal, Dad?" mohonnya lagi.
Radit menghela nafas berat. "Daddy bisa bantuin kamu keluar dari sini secepat mungkin."
Nofal bahagia mendengar kalimat yang diucapkan ayahnya barusan, karena tahu bagi ayahnya sebagai orang kaya pasti tidak lah sulit untuk membebaskan dirinya.
Namun kalimat lanjutan yang diucapkan ayahnya, membuat Nofal langsung menelan ludah kasar.
"Kamu bebas, tapi kamu akan menjalani hidup seperti orang biasa, Daddy tidak akan memberikan fasilitas apa pun untuk kamu ... Tapi jika kamu mau berbisnis Daddy akan kasih modal dengan syarat kamu harus berhasil."
"Tidak ada yang namanya artis atau selebriti lagi, Daddy tidak setuju," ucapnya lagi penuh penegasan.
Tidak ada pilihan lagi, ahirnya Nofal mengangguk setuju, yang penting bisa bebas lagi.
Dan disinilah ia sekarang, entah gimana caranya ayahnya berbuat, intinya sekarang ia bebas.
"Halo ... Tuan Muda bengong," ucap Bi Jum seraya menggerakkan tangan di depan wajah Nofal.
"Eh, Bi Jum iya aku melamun." Nofal gelagapan.
"Ealah ada ada saja ... Ya sudah silahkan istirahat, Tuan Muda." Bi Jum mempersilahkan.
Nofal berjalan masuk ke dalam, melewati ruang tengah kemudian menapaki anak tangga menuju lantai tiga dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
Sampai tiba langkah kakinya menginjak lantai tiga, namun saat mau melangkah ke arah kamarnya melihat pintu kamar ayahnya terbuka.
"Bukankah semua orang kerja? Siapa yang ada di dalam?" Hatinya penasaran ahirnya ingin mencoba melihat.
Namun setelah berdiri di ambang pintu matanya langsung melihat pemandangan yang baginya sangat mustahil.
Zeon dan Zelea berpelukan.
"Semua orang berhak mencintai siapa pun ... tidak ada larangan sama sekali, namun ... Cinta kadang tidak harus memiliki."
Kalimat pertama yang Nofal dengar dari bibir Zelea. Darahnya langsung mendidih.
Selanjutnya tidak mendengar apa pun lagi, hanya melihat Zelea makin terisak, dan Zeon semakin erat memeluk wanita itu.
Sampai ahirnya Nofal kembali mendengar ucapan Zelea lagi.
"Harus bisa merelakan ... Jangan sampai kamu membuat Daddy kecewa."
Tangannya terkepal, kecewa? itulah yang ia rasakan, merasa seperti sedang mimpi buruk melihat pemandangan dua insan yang sedang berpelukan.
Nofal memejamkan matanya, menguasai diri supaya amarahnya tidak meledak, sebelum ahirnya ikut masuk ke dalam kamar.
"Jadi begini yang kalian lakukan!" Nofal menatap tajam mereka berdua.
Deg!
Zelea dan Zeon sama-sama saling membeku mendengar suara seseorang yang begitu mereka berdua kenali.
Zeon dan Zelea saling melepas pelukannya, jika Zeon tetap merasa tenang karena sudah siap dengan konsekuensinya.
Beda dengan Zelea, wanita itu saat ini sangat khawatir, apa lagi yang memergoki Nofal, pasti Nofal akan manfaatkan masalah ini untuk dilaporkan ke Radit.
"Zeon, aku mau bicara denganmu." Nofal pergi meninggalkan kamar.
Sebelum Zeon pergi menyusul Nofal, lebih dulu memegang bahu Zelea, menatap dalam-dalam mata wanita yang dicintainya. "Tenanglah ... Semua akan baik-baik saja."
Zeon tersenyum, tangannya merapikan rambut Zelea yang sebagian berantakan di depan wajahnya.
Zelea masih menunjukan ekspresi khawatir, hingga terkejut saat merasakan daging lembut menempel di pipi kanannya.
Zeon menciumnya, kemudian berjalan keluar kamar.
Bagaimana mungkin dia bisa bersikap semanis itu di saat genting seperti ini, batin Zelea. Tangannya mengusap pipinya.
Ahirnya keadaan ini bercampur-campur Zelea rasakan. Ada rasa bahagia, rasa khawatir, juga rasa takut.
Zelea menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.
*
__ADS_1
*
*
"Kamu gila!" bentak Nofal ketika Zeon sudah duduk di ruang kerja ayahnya.
Nofal masih berdiri membelakanginya, wajahnya masih marah.
Zeon duduk dengan satu kaki bertumpu di kaki satunya, tidak merasa cemas sama sekali.
"Aku tidak gila, aku waras," jawabnya dengan begitu santai.
Nofal balik badan dan mendekati Zeon lalu meraih kerah baju Zeon. "Dia bukan wanita baik-baik ... Jangan sampai kamu menyesal," ucapnya penuh penekanan.
Zeon tersenyum kecil. "Terimakasih, sudah mengkhawatirkan aku."
Nofal melepas kerah baju Zeon yang digenggamnya, menghela nafas berat, matanya menatap lurus ke depan. "Hadapi Daddy sekarang jangan jadi pecundang." Nofal tersenyum sinis ke arah Zeon. "Menjalin kasih dengan ibu tiri."
"Ok," jawab Zeon cukup berani.
*
*
*
Sore hari tepatnya pukul lima sore, harusnya jadwal Zelea penerbangan ke luar negeri, namun harus tertunda karena masalah yang didapat saat ini.
Zelea menggenggam tangannya erat-erat, sudah terasa dingin ia begitu gugup, dan waktu saatnya untuk memberi penjelasan telah tiba.
Saat pria yang selama ini begitu baik padanya kini telah memasuki kamar.
Zelea langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Radit. "Mas Radit ...." ucap Zelea seraya memeluk kedua kaki Radit. "Maafkan aku, Mas." Zelea menangis tersedu-sedu.
Zelea tidak mendengar Radit bicara sepatah kata pun, tapi ia tahu bahwa saat ini Radit sedang marah padanya.
Apa yang sudah aku lakukan sudah menyakiti pria sebaik Mas Radit, batin Zelea menyesal.
"Maafkan aku, Mas." Zelea semakin erat memeluk kaki Radit yang sedari tadi hanya bergeming.
Sampai-sampai mendengar suatu kalimat yang membuat lidahnya kaku untuk menjawab.
"Apa kamu mencintai Zeon, seperti putraku mencintaimu."
Nada suara Radit memang tidak kasar, tapi tersirat makna tersakiti. Lagi-lagi hatinya hanya bisa berkata maaf.
"Diammu aku anggap benar," lanjut ucap Radit.
Selanjutnya sama-sama terdiam, Zelea hanya bisa menangis, dan masih meluk kaki Radit.
__ADS_1
"Aku membebaskan-mu jatuh cinta pada siapa pun tapi jangan sama putraku! Kenapa harus putraku!"
Tangis Zelea semakin menjadi mendengar bentakan Radit barusan.