
Keesokan harinya di rumah mewah Milli.
Tante Yuli bersama suaminya datang ingin melihat keadaan Milli, yang nantinya anak yang dikandung Milli akan menjadi miliknya.
Tentu kesepakatan bahwa anak Milli akan Tante Yuli asuh sudah dibicarakan sebelumnya, namun kedatangan Tante Yuli hari ini mendengar ucapan ayah Milli yang mengecewakan.
"Maaf kan, Mas. Yul ... Tadinya memang akan Mas berikan anak itu ke kamu, tapi keluarga dari laki-laki mau bertanggung jawab."
Begitu ucap ayah Milli yang langsung membuat Tante Yuli dan Suaminya merasa benar-benar kecewa, merasa dipermainkan.
"Harusnya Mas sebelum bertindak berpikir lebih dulu! Dari pada seperti ini ahirnya membuat kami kecewa!" Tante Yuli menatap penuh kecewa ke arah ayah Milli.
"Yul ... Semua juga tidak ada yang tahu bila ahirnya akan seperti ini, kamu jangan menyalahkan Mas mu terus." Ibu Milli yang juga duduk di sana ikut bicara, tidak suka dengan ucapan Yuli yang terdengar sewot.
"Tapi tetap saja Mbak, kita merasa di permainkan!" Yuli masih tidak terima.
"Kami juga sudah membeli perlengkapan bayi, lalu siapa yang mau pakai nanti!" imbuhnya dengan perasaan amarah.
"Yul, Yul ... Kamu juga salah, perut Milli belum besar tapi kamu sudah membeli perlengkapan bayi." Ibu Milli menggelengkan kepala heran.
"Namanya juga semangat, Mbak. Kalau mbak ada di posisi aku pasti juga akan melakukan hal yang sama!" sentak Yuli dengan suara lebih tinggi.
"Sudah! Sudah!" Ayah Milli angkat bicara.
"Yul, Mas benar-benar minta maaf, tolong jangan diperpanjang masalah ini," tegas ayah Milli.
"Sudahlah!" Tante Yuli bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu keluar. Suaminya ikut menyusul pergi dari sana. Mereka berdua benar-benar merasa kecewa dengan keputusan dadakan yang dibuat ayah Milli.
Ibu dan Ayah Milli menghela nafas panjang bersamaan, ibu Milli tahu bahwa Yuli sang adik kecewa, tapi Milli memang harus menikah, tidak bisa hanya demi perasaan Yuli kemudian mengorbankan putrinya.
"Pa." Ibu Milli menepuk paha suaminya, menoleh menatap pria yang duduk di sampingnya.
"Belum sarapan, kan? sarapan dulu yuk?"
Ayah Milli mengangguk, kemudian mereka berdua berjalan menuju ruang makan.
Kedatangan Yuli pagi-pagi sampai membuatnya belum sarapan pagi, namun sampainya di sana, hanya sarapan berdua saja.
"Milli sudah sarapan?" tanya ibu Milli pada pelayan yang melayaninya.
"Nona, sudah sarapan, Bu."
Ibu Milli manggut-manggut sembari mengunyah makanan. "Dimana dia sekarang?"
__ADS_1
"Nona, sedang bersantai di gazebo taman belakang, Bu."
Ibu Milli manggut-manggut lagi, melanjutkan menyelesaikan sarapannya.
*
*
*
Milli telah duduk di gazebo taman belakang, kakinya berayun sembari bersandar ke samping, matanya menatap lurus ke depan, bibirnya menarik garis lengkung tersenyum manis.
Saat ini Milli sedang mengingat ucapan ayahnya kemarin.
Flash back off.
Kemarin seusai ibunya keluar dari dalam kamar, Milli sendirian dan berusaha mau tidur saja, namun meski matanya terpejam tapi pikirannya tidak mau tidur, Milli tetap terjaga, begitu selama tiga puluh menit.
Tidak lama kemudian tiba-tiba ayahnya masuk ke dalam kamar, Milli yang semula tiduran, langsung duduk di atas ranjang ketika melihat ayahnya datang.
Meski Milli menampakkan senyuman ke ayahnya, tapi ayahnya itu tetap berwajah datar, Milli tidak bisa menebak apa yang terjadi pada ayahnya saat ini.
Sesaat setelah ayahnya duduk pinggiran ranjang, Milli hanya mendengar helaan nafas panjang berulang kali dari ayahnya.
"Besok kamu dan laki-laki itu menikah." Ayah Milli enggan menyebut nama Nofal, meski sudah memberi restu, tapi hatinya masih belum menerima Nofal sebagai menantunya, apa lagi suami dari putrinya yang baik dan lembut.
"Apa Milli tidak salah dengar, Pa?"
Ayah Milli menggelengkan kepalanya. "Kamu akan menikah," jelas ayah Milli lagi.
Perasaan Milli seketika merasa lega, ahirnya bayinya tidak akan terpisah dengannya, dan akan memiliki keluarga seperti yang lainnya juga.
Milli memeluk ayahnya. "Terimakasih, Pa. Sudah mau memberi restu." Air mata haru Milli membasahi baju lengan ayahnya.
Tanga ayah Milli mengusap rambut Milli. "Nanti setelah menikah kamu akan tinggal bersama dia, katakan sama Papa jika dia menyakiti kamu." Ayah Milli mencium puncak kepala Milli.
"Papa." Milli semakin terharu, dan semakin erat memeluk ayahnya.
Flash back on.
Setiap kali mamanya selalu berkata semua akan baik-baik saja, ternyata saat ini semua terjadi, apa yang Milli takutkan tidak terjadi, apa yang tadi terlihat tidak mungkin, kini yang terjadi.
Tidak menyangka jika ayahnya akan berubah pikiran, awalnya sudah tidak ada harapan lagi, entah apa yang membuat ayahnya ahirnya berubah pikiran, Milli tidak tahu.
__ADS_1
Dan itu tidak penting, karena sekarang masalahnya sudah selesai, menunggu hari esok pernikahannya.
Menikah? Satu kata yang selama ini belum pernah sekali pun Milli bayangkan, karena ia yang memang masih kuliah, masih mau belajar dan setelah itu kerja, tapi tiba-tiba musibah menimpanya.
Ia yang malam itu kehilangan kesuciannya, kemudian hamil, dan sekarang akan menikah.
Milli menghela nafas panjang, semua sudah terjadi, meski saat ini ia berhenti dulu kuliahnya, tapi berencana akan melanjutkan kuliah lagi setelah nanti melahirkan.
"Sayang."
Suara lembut ibunya mampir ke telinga Milli, membuatnya tersadar dari lamunannya.
Ibu Milli berjalan mendekati Milli dengan membawa sepiring buah apel. "Makanlah buah apel ini sehat untuk kamu." Ibu Milli ikutan duduk di sebelah Milli.
Perasaan ibu Milli lega, saat melihat wajah putrinya semangat, tidak selalu sedih seperti kemarin-kemarin.
Ibu Milli baru tahu bahwa pernikahan ini ternyata bagian dari kebahagiaan putrinya, terlihat jelas wajah Milli sumringah sama sekali tidak menunjukan kesedihan lagi.
Milli asyik makan buah apel, Ibu Milli fokus memperhatikan Milli.
"Kamu tidak masalahkan jika pernikahan nanti tidak ada pesta?"
Milli menggeleng cepat, Milli menghabiskan satu potong buah apel dulu baru ia bicara, "Malu malah jika ada pesta, kan. Milli sedang hamil."
Ibu Milli tersenyum mengusap sayang rambut panjang Milli. "Tapi putri Mama tetap yang paling cantik," hibur Ibu Milli.
Milli tersenyum lebar, mereka berdua saling sama-sama melempar senyum.
Ibu Milli beralih menatap piring isi potongan buah apel. "Mau nambah buahnya?"
Milli menggeleng. "Tidak, sudah cukup."
"Ibu dicari Bapak." Suara pelayan mengalihkan senyum tawa mereka berdua.
"Iya tunggu sebentar," jawab ibu Milli, kini beralih menatap Milli. "Mama, pergi dulu." Mengecup kening Milli sebelum ahirnya pergi dari sana.
Setelah ibunya pergi, Milli menatap layar ponsel, kemarin ia sudah mendapat nomor WhatsApp Nofal dari ayahnya.
Milli memanggil nomor ponsel Nofal. Sambungan telepon berdering, beberapa saat diangkat oleh pemiliknya di seberang sana.
"Halo, aku Milli mau bicara."
Namun tiba-tiba mendengar suara pelayan memangilnya.
__ADS_1
"Nona."