Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 34. Kamu jelek kalau menangis.


__ADS_3

"Om! Lepaskan Om!" Maharani memberontak saat tangannya dicekal kuat oleh Roy. Saat ini sudah berdiri.


"Maharani malu! Ini di tempat pesta dilihatin banyak orang," ucapnya setengah berbisik namun penuh penekanan di telinga Maharani.


Maharani langsung bersungut kesal mendengar ucapan Roy, tidak suka sama sekali, malah merasa Roy membela Zelea dari pada dirinya yang keponakan sendiri.


Roy perlahan melepas pergelangan tangan Maharani, berganti menoleh ke arah Zelea, kini wanita itu sedang berdiri di sebelahnya sedang merapihkan rambutnya yang acak-acakan hasil jambak-menjambak tadi.


Pesta yang tadi sempat tegang kini sudah kembali terkendali lagi, para tamu undangan kembali menikmati pesta lagi.


Roy memegang bahu Zelea, yang seketika menghentikan kegiatannya yang sedang merapihkan rambut. "Maafkan keponakan saya, yang sudah membuatmu tidak nyaman hadir di pesta ini."


Roy bicara penuh permohonan maaf, Zelea tersenyum tanda tidak masalah, di depan Roy harus bersikap baik bukan? Karena pria di depannya ini begitu berjasa di perusahaannya.


Maharani makin benci saat melihat senyum Zelea.


Dasar murahan! Hardiknya dalam hati.


Tentu Roy juga harus bersikap sopan pada Zelea, ia juga tahu kalau Zelea bagian keluarga dari Alexa, yang saat ini menjadi teman bisnisnya.


"Kamu mau pulang sekarang? Tadi kesini naik mobil sendiri atau naik taksi? Atau mau diantar sopir saya?" Deretan pertanyaan Roy yang langsung membuat Zelea menggelengkan kepala tanda tidak perlu diantar, juga langsung membuat Maharani semakin meradang marah.


"Saya naik taksi, terimakasih tidak-,"


"Dasar cewe murahan!"


Brukk!


Maharani memotong ucapan Zelea seraya mendorong tubuh Zelea sampai jatuh kelantai lagi.


"Maharani!" bentak Roy hampir tidak percaya melihat perbuatan Maharani yang begitu kasar.


"Dasar murahan! Pergi dari sini!" maki Maharani lagi, tidak takut dengan bentakan Roy.


Namun sepertinya Zelea susah untuk bangun, punggungnya terasa sakit dan remuk, beberapa kali saat ia mau bangun harus meringis kesakitan dan kembali ambruk ke lantai.


Roy merasa kasihan melihat Zelea.


Roy menatap tajam ke arah Maharani. "Maharani kau keterlaluan!" bentaknya sebelum ahirnya mau mendekati Zelea berencana mau menolong wanita itu.


Namun tiba-tiba seorang pria datang langsung merengkuh tubuh Zelea, membuat Roy mengurungkan niatnya dan hanya bisa diam terpaku.


Zelea tidak menolak saat orang yang baru datang itu membawa tangannya untuk mengalungkan di leher orang itu, masih menatap lekat wajah orang itu saat orang itu mengangkat tubuhnya ala bridal style.


Zelea masih terus menatap wajah orang itu dari mulai di dalam hotel tadi sampai keluar dari pintu ballroom hotel dan saat ini berjalan ke halaman menuju mobil yang terparkir.


Orang itu mendudukkan Zelea ke kursi depan, saat orang itu menunduk memasangkan sabuk pengaman di pinggangnya, Zelea mampu mencium aroma parfum yang seketika merasa menenangkan.

__ADS_1


Namun sedetik kemudian Zelea menggeleng, mengusir perasaan nyaman yang sesaat datang.


Sampai ahirnya bisa bernafas lega setelah orang itu menutup pintu mobil, namun matanya masih memperhatikan orang itu yang saat ini berjalan mengitari mobil dan masuk lewat pintu sebelah tepat pengemudi.


Mobil belum berjalan, orang itu duduk bersandar namun terdengar suara helaan nafas berat.


Zelea milih menatap ke arah luar, tidak mau buka suara, atau sekedar bertanya mengapa menjemput? Karena masih merasakan badannya yang terasa sakit semua.


Namun sepertinya mata tidak mau diajak kompromi, tiba-tiba terasa panas dan Zelea menangis terisak.


"Kenapa menangis?" Orang itu mengikis jarak lebih dekat dan sedetik kemudian memeluk Zelea seraya tangannya merapihkan rambut Zelea.


Sebuah dorongan yang harusnya tidak ia lakukan, tapi entah kenapa malah melakukan.


Setelah rambut Zelea rumayan rapi, orang itu menjauhkan diri duduk di kursi kemudi seperti semula. "Maaf tidak ada maksud apa pun."


"Jalan! Ngapain juga malah rapihin rambut aku," sungut Zelea.


"Tadi rambut kamu berantakan."


"Terus kenapa kalau rambut aku berantakan!" Zelea makin kesal.


Mobil belum berjalan.


Orang itu menghela nafas panjang, pikirannya sedang merangkai kata-kata yang dapat diterima oleh Zelea.


Ahirnya memilih kalimat yang masuk akal, meski kurang yakin. "Kalau nanti kamu keluar dari dalam mobil masih dengan rambut berantakan, satpam di rumah bisa salah paham dikira aku apa-apain kamu."


Zelea memutar bola mata malas, mendengar penjelasan tidak masuk akal menurutnya yang dilontarkan oleh Zeon.


Aneh sekali gumamnya.


Tidak lama kemudian mesin mobil dihidupkan dan mobil pun melaju.


Ternyata keadaan nyaman saat berkendara tidak bisa Zeon dapatkan, setelah mobil berjalan menuju pulang, hampir sepanjang jalan Zelea menangis terisak.


Zelea sakit hatinya mengingat ucapan Maharani, Zelea teringat hidupnya hingga berada di sini semua itu karena untuk balas dendam, dan sakit hatinya ini bermula saat Nofal mencium bibir Maharani di malam pesta topeng di acara pesta Maharani.


Wanita murahan.


Kalimat yang yang diucapkan Maharani begitu menyakitkan. Kembali membuat Zelea terus menangis.


Zeon ahirnya memilih menepikan mobilnya, memberikan tisu pada Zelea.


"Berhentilah menangis, kamu jelek kalau menangis."


"Diam! Aku sedang sedih hiks hiks."

__ADS_1


Hah lagi sedih saja masih bisa galak, batin Zeon.


Meski sudah memaki Zeon, tapi Zelea tetap menerima tisu pemberian Zeon, dan mulai menghapus air matanya.


Zeon tidak lagi mengganggu Zelea, sembari menunggu Zelea lebih tenang, Zeon menurunkan kaca mobil, dan seketika udara sejuk di malam hari menerpa wajah tampannya serta masuk ke dalam mobil.


Zelea bahkan bisa ikut merasakan sejuknya angin yang masuk.


"Kenapa malah dibuka?"


Zeon menoleh ke belakang menatap Zelea. "Sudah belum nangisnya."


Zelea merengut. "Apa an sih!" Melempar tisu ke arah Zeon.


"Buruan ih, udah malam!" lanjut ucapnya.


Zeon menarik sudut bibirnya sedikit, dan menutup kembali kaca itu, kembali melajukan mobilnya.


*


*


*


Sampai di mansion, Zelea langsung keluar dari dalam mobil, setelah mobil berhenti.


Zelea masuk ke dalam mansion lebih dulu, sementara Zeon masih terlihat berbicara sebentar dengan sekuriti.


Ternyata menyerahkan kunci mobil supaya mobil diparkirkan oleh sekuriti.


Zeon menyusul masuk ke dalam mansion, tibanya di ruang tengah saat mau menaiki tangga, matanya melihat Zelea yang baru menutup pintu kamar.


Sembari berjalan menapaki anak tangga, Zeon mengingat interaksi yang barusan terjadi antara dirinya dan Zelea.


Sungguh sesuatu yang harusnya tidak boleh terjadi.


Zeon menggelengkan kepalanya.


Ingat Zeon dia ibu tirimu dia adalah istri ayahmu, begitu gelengan kepala Zeon mengingatkan.


Dan sampailah Zeon di lantai tiga, berhenti sejenak di depan pintu kamar ayahnya, sebelum ahirnya berjalan lima langkah lagi baru membuka pintu kamarnya sendiri.


Sampai di dalam kamar Zeon menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


Masih mengingat perintah ayahnya yang meminta dirinya untuk menjemput Zelea.


Hingga ahirnya matanya terbelalak saat tiba di sana mendapati Zelea tidak diperlakukan dengan baik, membuat hatinya marah.

__ADS_1


__ADS_2