
Setelah pulang dari pesta, Zelea masuk ke dalam kamarnya, yang banyak sekali lukisan wajah Zeon di dinding kamar itu.
Setiap kali bahkan setiap saat Zelea rindu dengan Zeon selalu memandangi lukisan wajah Zeon, tidak jarang Zelea mencium lukisan itu campur berderai air mata.
Malam ini Zelea kembali menangis seraya tertunduk di lantai dengan satu tangannya mengusap wajah Zeon di lukisan tersebut.
"Kita kembali bertemu," gumamnya lirih. Terus memandangi lukisan wajah Zeon. "Tadi sebenarnya aku ingin menghambur ke pelukan kamu, tapi aku takut akan membuka lagi luka lama." Zelea makin terisak mengingat kenangan di masa lalu.
"Bagaimana kabar kamu dan yang lain ... Mas Radit juga Nofal ... Kalian bahagia kan, iya kan?" Dan air matanya semakin meluncur deras.
"Dan aku pastikan bahwa tadi pertemuan pertama sekaligus terakhir untuk kita ... Maaf aku harus menghindarimu ... Hiks hiks ... Maaf."
Kini Zelea makin tak terbendung lagi air matanya yang keluar, dadanya kian terasa sesak, bagai terhimpit batu besar.
Sudah lima tahun aku memendam perasaan rindu ini padamu, tanpa berani mengatakan padamu, aku hanya mampu bicara pada dunia bahwa aku merindukanmu, dan asal kamu tahu bahwa aku sangat bahagia saat tadi aku bertemu denganmu, sesuatu yang tidak mungkin setelah lima tahun kita terpisah.
Dan asal kamu tahu, aku ingin sekali memelukmu, tapi kaki ini terasa berat untuk berlari ke arahmu, dan yang membuatku menahan diri karena sampai kapan pun kita tidak pernah bisa bersatu, batin Zelea.
Zelea masih saja terus mengusap lukisan wajah Zeon, yang Zelea buat sendiri, hasil karyanya untuk mengisi kejenuhan.
Terkadang Zelea merasa seperti melihat sosok Zeon di dalam lukisannya itu, seolah bukan gambar belaka.
Karena itulah Zelea selalu tersenyum dikala bangun tidur, sebab ada senyum indah Zeon dalam lukisan tersebut yang menyambutnya.
"Aku mungkin sudah gila menganggap sebuah lukisan hidup seperti orangnya."
Begitu Zelea sering mengatai diri sendiri, tapi di dalam lubuk hatinya juga merasakan perasaan menggebu sebuah perasaan yang dikatakan berlebihan.
Hanya saja melihat gambar sudah mampu membuatnya senang dan sedikit mengurangi rasa luka sebab perpisahan.
"Aku belum bisa menggantikan kamu dengan yang lain ... Dan aku tidak ingin menggantikan mu dengan yang lain," ucapnya, kini Zelea sudah berhenti menangis.
Berganti ekspresi wajah yang serius tapi matanya menatap penuh ke hancuran.
"Tapi aku akan ikut bahagia jika kamu bahagia, biarlah aku cukup menjadi pengagum cintamu dari tempat kejauhan."
__ADS_1
Zelea terus mengusap lukisan Zeon tersebut, sampai tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
"Masuk."
Tidak lama setelah menyerukan perintah, muncullah seseorang yang kini baru saja membuka pintu kamar.
"Kamu belum tidur?"
Pertanyaan Rendi sontak segera membuat Zelea mengusap genangan dimatanya, dan menyetel wajahnya supaya terlihat baik-baik saja, kemudian balik badan menatap ke arah Rendi.
"Hei, tentu saja aku belum tidur, ini juga mau tidur," ucapnya dengan senyum mengembang.
Rendi membalas tersenyum kecil dan tidak melontarkan pertanyaan lagi.
Hatinya begitu tercubit saat melihat di dinding kamar Zelea ada gambar lukisan seseorang dan orang itu tidak asing baginya.
Saat baru saja masuk, melihat Zelea duduk di lantai dekat dengan lukisan, membayangkan yang Zelea lakukan saja sudah membuat hati Rendi tidak miliki harapan.
Dan kini Rendi makin penasaran dan rasa itu mendorongnya untuk ingin tahu.
"Apa kah pria yang kau cintai adalah Zeon Alexa? Zelea." Rendi takut-takut saat bertanya, sebenarnya hatinya tidak ingin Zelea menjawab iya, tapi sepertinya angannya itu salah, karena Zelea mengangguk cepat.
Dan mengingat pria itu saat ini tengah berada di negara A, hatinya meyakini bahwa cepat atau lambat, Zeon pasti akan mengambil Zelea dari rumahnya.
Rumah yang sudah lima tahun ini menjadi tempat tinggal Zelea.
Zelea mengusap air matanya dengan kasar seraya menatap Rendi. "Apa kau mau membantuku?"
Rendi langsung gelagapan karena baru saja ia melamun, dan pertanyaan Zelea barusan mengagetkannya.
Zelea hanya membisikkan sesuatu di telinga Rendi, yang seketika membuat raut muka Rendi makin pucat tak bisa miliki Zelea.
"Jika begitu tidurlah sudah malam, aku keluar."
Zelea segera menutup pintu kamarnya setelah Rendi keluar.
__ADS_1
Zelea menghela nafas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke pintu.
Kini ingatannya teringat kejadian lima tahun lalu, hari pertama dirinya menginjak kaki di negara A.
Tanpa tahu tujuan arah mau kemana, karena Radit benar-benar menghukumnya, pergi tanpa memberikan uang sama sekali.
Namun untungnya saat itu ada seseorang yang menawarkan untuk bekerja di rumah, menjaga seorang kakek yang sudah tua.
Dan sejak saat itulah, Zelea bekerja di rumah kakek tua itu menjadi suster, dan ternyata kakek tua itu adalah kakeknya Rendi.
Selama Zelea merawat kakek tua itu, ia sering bertemu Rendi, karena Rendi sering datang ke rumah untuk menjenguk kakeknya itu.
Tidak jarang juga Rendi mengajak Zelea dan kakeknya itu jalan-jalan setiap hari libur, dan seperti itu terus selama Zelea menjadi susternya kakek.
Hingga di tahun ke tiga, yaitu genap tiga tahun ia menjadi suster kakek meninggal, dan setelah kematian kakek itu Zelea tahu niat baik Rendi terhadapnya selama ini.
Ternyata Rendi menaruh hati kepadanya, Rendi menahannya untuk pergi jauh, Rendi mengajaknya untuk tinggal di rumahnya.
Saat itu Zelea menolak, karena tidak mau menimbulkan fitnah, apa lagi di rumah Rendi tentu ada kedua orang tua Rendi.
Namun ternyata Rendi terus membujuknya, alih-alih memberikan alasan bahwa Zelea bekerja di rumahnya.
Untuk kembali kerja di kantor memang sudah tidak berminat lagi, dan karena belum miliki tempat tinggal yang baru, sementara waktu bekerja di rumah Rendi tidak apa lah, pikirnya.
Niat hati memang hanya untuk beberapa bulan, tapi ternyata ayah dan ibunya Rendi baik, memperlakukannya seperti anak sendiri.
Dan ahirnya membuatnya bertahan sampai saat ini, karena Rendi tidak ijinkan dirinya pergi dari rumahnya.
Rendi pernah bilang akan mengijinkan dirinya keluar dari rumahnya hanya untuk satu alasan.
"Katamu ada seseorang yang kamu cintai, itu alasan kamu menolak cintaku, saat dia datang menjemputmu, aku akan melepaskan kamu."
Begitu ucap Rendi saat itu.
Dan sekarang Zelea tidak tahu apa kah harus senang atau malah bersedih, dan apakah Zeon akan datang kemari menjemputnya. Meski kedatangan Zeon di negara A adalah suatu hal yang tak terduga baginya karena sebelumnya benar-benar tidak saling tahu.
__ADS_1
Zelea tersenyum getir.
"Aku serahkan pada takdir ini," gumamnya lirih.