
"Gimana rasanya?" Zelea bertanya seraya tersenyum.
Zeon menjulurkan lidahnya. "Asin."
Hahah! Zelea tertawa, ekspresi wajah Zeon benar-benar lucu saat merasakan ke asinan.
"Itu tadi kamu yang masak lho." Zelea mengingatkan.
"Iya sih, rasanya tidak enak." Zeon merasa bersalah, padahal ini soto untuk wanita tercinta dan untuk calon anaknya, tapi kalau rasanya asin seperti ini sama aja mau meracuni.
"Maaf." Zeon menatap sendu ke arah Zelea.
"Tidak masalah, namanya juga masih belajar," jawab Zelea memberikan pengertian.
"Besok belajar lagi," imbuhnya, dan Zeon langsung memasang senyum yang dipaksakan.
Ya, saat ini hanya bisa tersenyum, karena menolak pun ia tidak kuasa.
Setelah makan malam selesai, mereka masuk ke dalam kamar.
Zelea masuk ke kamar mandi, dan Zeon duduk di kursi sofa.
Saat membuka hp ada beberapa pesan masuk, dan semua itu dari Galang.
Galang sudah seperti kekasih kedua setelah Zelea, yang selalu menelpon dan mengirim pesan ke Zeon.
Tuan, besok ada pertemuan Meeting dengan Galaxy Mall. Anda harus datang.
Tuan, ada orang perusahaan yang melakukan korupsi dengan nilai cukup besar.
Tuan, pembangunan sekolah di desa pinggiran terpaksa dihentikan oleh orang dalam, sepertinya ada yang mau berkhianat dengan Tuan.
Zeon membaca pesan demi pesan dengan kilatan amaran di matanya, sudah lama tidak ada orang seperti itu, dan sekarang ada lagi benar-benar mau cari mati.
Zeon segera menelpon Galang, dan berjalan menuju balkon.
"Kamu cari orang yang korupsi dan orang yang berkhianat itu! Aku mau besok sudah ketemu orangnya dan bawa ke hadapan aku!" perintah Zeon dengan marah begitu sambungan telepon diangkat oleh Galang.
Di seberang sana, Galang belum sempat menjawab, namun sambungan telepon sudah keburu di matikan.
"Sayang, ngapain?" suara lembut Zelea menyapa Zeon.
Zeon menoleh dan tersenyum, wajah marah yang tadi sempat ada kini hilang seketika saat berhadapan dengan wanita yang dicintai.
"Sudah selesai?" Zeon bukannya menjawab pertanyaan Zelea, malah balik tanya dan berjalan mendekati Zelea.
"Udah." Zelea menghindar saat Zeon mau memeluk. "Mau ganti baju, kamu ke kamar mandi dulu aja."
__ADS_1
Zeon menghela nafas panjang, ahirnya menuruti Zelea dan berjalan menuju kamar mandi.
Zelea berganti baju dengan piyama tidur. Sengaja tidak menggunakan lingerie, karena habis semua sobek. Dan belum beli lagi.
Semburat merah langsung muncul di pipi Zelea tatkala mengingat Zeon yang selalu bringas di atas ranjang, sampai-sampai lingerie nya selalu sobek.
Hari ini Zelea merasa pegal-pegal badannya, setelah memakai baju, Zelea duduk bersandar di atas ranjang.
Sambil nunggu Zeon datang, Zelea mendengarkan lagu dari ponselnya.
Aku 'tak mampu menyakitimu
Aku 'tak sanggup untuk menduakanmu
Oo-oh, oo-oh...
Aku 'tak mampu menyakitimu
Aku 'tak sanggup untuk menduakanmu
'Ku 'tak mungkin mencintaimu
Karena hatiku telah dimiliki dia
Kau 'tak mungkin memiliki 'ku sepenuh hati
Aku hanya ingin setia
Tapi 'ku milik dia
'Ku 'tak mungkin mencintaimu
Karena hatiku telah dimiliki dia
Kau 'tak mungkin memiliki 'ku sepenuh hati
Aku hanya ingin setia
'Ku 'tak mungkin mencintaimu
Karena hatiku telah dimiliki dia
Kau 'tak mungkin memiliki 'ku sepenuh hati
Aku hanya ingin setia
Kau 'tak mungkin memiliki 'ku sepenuh hati
__ADS_1
Aku hanya ingin setia
Aku hanya ingin setia, oo-oh...
Setia dari Armada.
Sampai lagu selesai di putar, ahirnya Zeon keluar dari dalam kamar mandi, segera memakai baju piyama tidur.
"Kenapa, kok gelisah?" tanya Zeon begitu berdiri di samping ranjang, dan mulai naik ikut duduk di sebelah Zelea.
Zelea hanya tersenyum, tapi tangannya tidak berhenti terus memijat kakinya, karena terasa pegal.
Zeon yang mengerti keadaan Zelea saat ini langsung membawa Zelea untuk tiduran, dan tanpa aba-aba Zeon langsung memijit kaki Zelea.
"Sayang, tidak usah aku bisa sendiri," tolak Zelea, tidak mau merepotkan Zeon.
"Sudah diam, terima yang aku perlakukan." Zeon tidak mau dibantah.
Ahirnya Zelea tidak menolak lagi, tapi apa bila dirasakan pijitan Zeon memang sangat enak, Zelea sampai memejamkan matanya, lama-lama membuatnya mengantuk.
Tapi baru saja mau terlelap, Zeon dengan jahilnya meremas buah da-da-nya, Zelea seketika terjaga lagi, dan langsung memukul tangan Zeon.
Zeon hanya bisa tertawa, Zeon memang suka menjahili Zelea.
"Udah ah! kamu nya kayak gitu." Zelea cemberut, tidak mau lanjut pijit lagi, Zelea berusaha menyingkirkan tangan Zeon dari kakinya.
"Ok, tidak kayak gitu lagi," ucap Zeon sungguhan.
Zelea diam, dan membiarkan Zeon mulai memijit lagi. "Awas kayak gitu lagi," celetuk Zelea.
Zeon hanya mengulum senyum.
Zeon melanjutkan memijit kaki Zelea, sampai kedua kaki itu sudah selesai ia pijit. Kini gantian tangan Zelea yang Zeon pijit.
Zeon memandangi wajah Zelea yang tertidur pulas, terlihat damai dan menenangkan.
Sampai sejauh ini Zeon masih berasa seperti mimpi tengah menikah dengan Zelea, mengingat dulu sepertinya tidak akan mungkin akan menikah.
Setelah kedua tangan Zelea selesai di pijit, Zeon ikut berbaring di samping Zelea, dengan memeluk Zelea.
Awalnya hanya memeluk biasa, namun sedetik kemudian Zeon menenggelamkan wajahnya di leher Zelea, membuat jejak kemerahan di sana.
Zelea melenguh, dan Zeon semakin melanjutkan aksinya.
Meski saat ini Zelea sedang tudur, Zeon tetap mencium bibir itu dan memberikan sentuhan selembut mungkin, tak lupa tangannya melepas kancing baju Zelea satu per satu.
Kembali menciptakan gelora, dan mandikan keringat meski di dalam suhu AC yang dingin, mereka melakukan hal menyenangkan.
__ADS_1