
Zelea menghela nafas berat saat melihat punggung Zeon berjalan keluar lift lebih dulu bersama asistennya.
Dia sangat angkuh, hah sampai kapan ya aku berada di bawah kuasanya, aku sudah ingin segera pergi dari sini apa bila tidak mengingat ancaman dia, batin Zelea.
Wanita itu terus berjalan menuju parkiran, lebih milih pesan taksi online, karena mobil yang tadi pagi ia tumpangi bersama Radit pasti akan digunakan Radit lagi.
Zelea milih mengalah pesan taksi, dan saat melihat mobil Zeon melintas pergi melewati depannya berdiri, Zelea memalingkan wajahnya seraya mengumpat dalam hati.
Oh ****! Ternyata mobil dia baru saja lewat, malu aku ketahuan nunggu taksi, batin Zelea.
Panasnya terik matahari siang ini yang menyinari sekujur tubuh Zelea, membuat wanita itu kesal dan mengumpat, taksi online terasa begitu lama baginya.
Yang ditunggu ahirnya datang, Zelea melambaikan tangan.
"Pak, lama sekali Pak!"
Brak!
Zelea menutup pintu mobil sedikit kasar dan duduk tenang di kursi belakang.
"Maaf Neng tadi sedikit macet jalannya," ucap sopir taksi, sedikit merasa bersalah.
Zelea mengibaskan tangan memberi kode bertanda mobil segera berjalan.
Mobil sudah berjalan beberapa menit, tadi tujuan mau langsung ke perusahaan, tapi tiba-tiba Zelea merasa malas dan merubah arah tujuan.
"Pak, kita ke restoran lebih dulu, cari restoran terdekat sini saja. Saya keburu lapar kalau jauh-jauh."
"Baik, Neng," jawab sopir taksi patuh.
Hah aku ingin berlama di luar, di perusahaan bosan hanya bertemu Zeon yang menyebalkan, apa lagi mas Radit sedang tidak ada di sana, hah nanti dulu saja lah ke perusahaannya, aku mau makan siang lebih dulu, batin Zelea seraya bersandar di sandaran kursi mobil.
Restoran terdekat ternyata tidak jauh dari jalan tempat Zelea berbicara dengan sopir taksi tadi, sepuluh menit kini sudah menemukan restoran itu.
"Ambil saja Pak kembaliannya terimakasih sudah mau mengantar." Zelea langsung melangkah pergi meninggalkan taksi online.
Langkahnya semakin cepat saat sudah memasuki restoran tersebut, sudah tidak sabar untuk segera memesan makanan.
__ADS_1
Zelea bertepuk tangan untuk memanggil pelayan restoran supaya mendekat ke tempat ia duduk.
"Silahkan mau memesan menu apa?" ucap dan pertanyaan pelayan itu setelah berdiri di depan Zelea, seraya menyerahkan kertas daftar menu.
Tidak butuh lama Zelea sudah memberitahukan pesanan makanan dan juga minuman, pelayan tersebut pergi untuk menyiapkan.
Tidak lama kemudian pelayan itu datang kembali membawa pesanan Zelea, menyajikan di atas meja.
"Silahkan dinikmati," ucap pelayan sebelum ahirnya berlalu.
Zelea makan sambil bibirnya ngedumel.
"Lirik tajam, bicara kasar, hah! Memang aku budaknya dia, padahal kan aku ibu tirinya harusnya dia hormati aku." Menyuap makanan kunyah-kunyah kasar. Sendok yang digunakan untuk menyuap saat masuk ke dalam mulut sampai Zelea gigit karena geram.
"Kepribadiannya memang berbeda dari pada Nofal, dia tidak pernah bermain wanita bahkan mungkin belum pernah pacaran, di lihat dari angkuhnya dia aku yakin tidak ada wanita yang mau mendekatinya, tapi tetap saja aku benci dia!" Zelea meneguk jus minuman, glek glek sampai tandas. meletakkan gelas lagi di atas meja dengan kasar untung saja tidak pecah.
Hanya mengingat Zeon yang menyebalkan, nafas Zelea naik turun dengan cepat.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dia, benar-benar tidak ada dalam susunan rencana aku kemarin. Aku pikir setelah balas dendam terbalaskan aku bisa kabur dan hidup tenang, ternyata aku malah bertemu Zeon! Hah kenapa aku harus bertemu Zeon ..."
Aaaa! Aaaa!
"Hah! Apa an sih ganggu saja!" bentak Zelea, matanya melotot sampai mau keluar.
Pelayan pria itu bergidik ngeri.
Hih cantik-cantik tapi menyeramkan, batinnya seraya berjalan pergi.
Zelea kembali melanjutkan makannya yang tadi belum selesai, makan cepat tanpa menikmati rasanya, setelah selesai langsung mengelap bibirnya dengan tisu.
Zelea melihat tisu kotor di tangannya yang habis buat mengelap bibirnya. "Zeon, aku akan mengajakmu seperti tisu ini kalau kau berani mengancam aku lagi!"
Zelea menjatuhkan tisu kotor itu ke lantai lalu ia injak-injak dengan satu kakinya.
Pengunjung restoran yang duduk di dekat Zelea hanya mampu bisik-bisik melihat tingkah aneh Zelea yang sedari tadi marah-marah sendiri dan bicara sendiri.
Zelea kembali duduk tenang, saat tanpa sengaja menoleh tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tidak asing. Semakin menajamkan pandangannya ternyata benar Zelea kenal, dia adalah Maharani.
__ADS_1
Maharani, cih makin cantik aja dia. Tapi masih cantikan aku, batin Zelea. Tangannya mengibaskan rambutnya ke belakang, tersenyum miring melihat Maharani.
Zelea melihat jam tangannya, sudah waktunya ia kembali ke kantor, Zelea bangkit berjalan menuju kasir membayar tagihan.
Saat Zelea sudah di halaman restoran mau masuk ke dalam taksi, tiba-tiba suara seseorang menghentikan niatnya yang mau masuk ke dalam mobil.
"Zelea? Kmu Zelea, kan?" Maharani tertawa tidak percaya melihat Zelea yang saat ini penampilannya berubah. Tidak kuno seperti jaman kuliah dulu.
Zelea mengibaskan rambut panjangnya, menatap sinis ke arah Maharani. Kenapa kalo iya? begitulah arti tatapan sinis Zelea.
"Kamu jual diri sama siapa? Sampai bisa memiliki barang mewah ini," ucap Maharani disertai tawa sinis.
Wah-wah tidak menyangka Zelea akan mendengar hinaan setajam itu dari Maharani. Zelea yang tadi hanya menanggapi dengan tatapan sinis kali ini langsung menpar pipi Maharani.
Plak!
"Jaga ucapan Anda! Karena saya bukan rendahan seperti yang Anda pikirkan!"
Tidak puas hanya satu kali tamparan, Zelea menampar lagi pipi Maharani.
Setelah menampar dan memaki Maharani, Zelea langsung masuk ke dalam mobil taksi dan segera melesat pergi dari sana meninggalkan Maharani yang membeku seraya memegangi pipinya yang terasa panas.
"Zelea ..." teriak geram Maharani, matanya menyala tajam menatap mobil taksi yang membawa pergi Zelea.
Tidak menyangka pertemuannya dengan Zelea membuat dirinya merasa terhina karena ditampar Zelea.
"Lihat saja saat kita bertemu lagi aku akan menamparmu!" ucapnya berapi-api, menghentakkan kakinya kasar dan kemudian masuk ke dalam mobilnya, ikut pergi dari sana.
*
*
*
Zelea yang kesal dengan hinaan Maharani, saat tiba di kantor makin kesal dengan ucapan kasar Zeon. Karena Zelea telat saat kembali ke kantor.
"Nyonya bos, sudah berani masuk kantor tidak tepat waktu, sudah jam berapa ini ? Hem." Zeon menopang dagu, menatap tajam Zelea yang baru masuk ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Zelea menghela nafas berat, melirik jam tangannya yang hanya telat lima belas menit, jengah rasanya mendengar ocehan Zeon. kalau tidak karena berkas penting yang harus Zeon tanda tangani, sungguh malas sekali Zelea menginjak ruangan ini yang menurutnya sama seperti di dalam neraka.