Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 45. Seperti pesan terakhir.


__ADS_3

Pasien di dalam telah tekena penyakit paru-paru yang sudah masuk stadium akhir.


Pasien harus dirawat karena penyakitnya sudah parah.


Dan usahakan pasien jangan sampai stres, demi keselamatannya.


Zeon dan Nofal sama-sama duduk di kursi tunggu dengan pikiran yang terus menerus mengingat ucapan dokter mengenai kesehatan ayahnya.


Tidak terpikir oleh keduanya bahwa ayahnya ternyata selama ini menyimpan penyakit yang berbahaya.


Sementara saat ini Radit sudah di pindahkan di ruang ICU.


"Sekarang kita harus bagaimana?" pertanyaan Zeon terdengar getir. "Daddy sudah parah sakitnya ... Aku gak mau kehilangan Daddy." Suara Zeon terdengar bergetar.


Nofal merangkul bahu Zeon. "Kita usaha untuk kesehatan Daddy, pasti sembuh."


Tidak ada yang bicara lagi, mereka berdua menyelami pikiran masing-masing, dan setelah satu jam berlalu sudah mendapat ijin untuk menjenguk pasien, Zeon masuk ke ruang ICU lebih dulu.


Zeon cukup lama berdiri di depan pintu, menatap ke arah ayahnya yang saat ini berbaring lemah di atas ranjang pasien, dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.


Zeon menyeka air matanya, mengatur nafas dan berjalan mendekat.


Radit tersenyum saat melihat Zeon datang, Zeon menggenggam tangan ayahnya sembari duduk di kursi di sebelah ranjang.


Zeon menciumi punggung tangan ayahnya yang kini basah kejatuhan air matanya.


"Zeon."


Suara lirih ayahnya Zeon dengar, Zeon menatap wajah yang kini tampak pucat dan sudah keriput itu, terlihat jelas tidak segar seperti biasanya, saat ini lebih pucat.


"Dad." Zeon menempelkan punggung tangan Radit di pipinya. "Daddy harus sembuh." Menatap mata ayahnya yang kini berkaca-kaca. "Harus seperti biasanya, Zeon rela dimarahi Daddy asal Daddy sehat kembali." Zeon mengusap sudut mata ayahnya yang meneteskan air mata.


Hati Radit bagai disayat, perih? Rasanya, karena terlalu egois sampai akan membuat putranya sendiri masuk jerat kebohongan Riska.


"Maafkan Daddy." Radit menggigit bibir bawah mempertahankan intonasi. "Sudah menjodohkan kamu dengan Riska."


"Sttttt." Zeon menggelengkan kepalanya. "Daddy tidak salah, semua sudah terjadi. Aku dan Riska sudah bercerai, yang penting sekarang fokus kesembuhan Daddy."


"Daddy sangat menyesal." Radit menangis, ia tidak bisa bohong bahwa benar-benar merasa bersalah, dan karena kesalahannya itu hampir membuat putranya sendiri tidak akan bahagia.


"Maafkan Daddy," lanjut ucap Radit.


"Zeon sudah maafkan Daddy ... Daddy jangan banyak bicara dulu, Daddy belum sembuh." Zeon menghapus air mata ayahnya.


"Daddy janji tidak akan menjodohkan anak Daddy lagi."


Zeon tersenyum mendengar ucapan ayahnya itu. "Terimakasih Dad, aku dan Nofal sudah cukup bahagia hanya dengan bersama Daddy ... Masalah jodoh pasti nanti akan datang sendiri bila telah tiba waktunya."


"Maaf, belum bisa menjadi Daddy yang baik buat kalian berdua." Radit balas menggenggam tangan Zeon. "Maaf."

__ADS_1


"Dad ... Sudah aku bilang jangan mengatakan maaf, Daddy tidak salah. Dan bagi kami Daddy adalah ayah yang terbaik." Zeon tersenyum. "Sungguh sangat terbaik."


Kali ini tangis Radit makin deras, ia meraih Zeon untuk mendekat dan langsung mencium kening Zeon. "Daddy sangat menyayangimu."


"Daddy harus berjuang sembuh, ok."


Radit mengangguk dan tersenyum, meski matanya masih terus menjatuhkan kristal bening.


Setelahnya hanya keheningan yang ada di ruang tersebut, Zeon terus menggenggam tangan ayahnya, mengusapnya lembut, dan tidak lama kemudian Radit tertidur.


Setelah Radit tertidur, Zeon kembali meneteskan air mata saat melihat ayahnya dalam kondisi seperti ini.


Namun beberapa saat kemudian, Zeon melihat jam tangannya, kemudian memutuskan keluar dari sana.


"Temani Daddy, aku mau pergi sebentar," ucapnya pada Nofal.


Zeon langsung berjalan pergi tanpa menunggu jawaban Nofal.


*


*


*


Nofal juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan Zeon tadi, Nofal meneteskan air mata melihat keadaan ayahnya seperti ini.


"Cepat sembuh, Dad." Nofal mengusap punggung tangan ayahnya. "Nofal janji akan menjadi pribadi lebih baik lagi, yang penting Daddy sembuh," suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.


"Kami berdua hanya memiliki Daddy, tolong sembuh Dad," ucapnya lagi, kini Nofal menidurkan kepalanya di dekat punggung tangan ayahnya.


Dan entah di menit ke berapa, Nofal ikut tertidur, dengan tangan masih menggenggam tangan ayahnya.


*


*


*


Zeon menemui Tuan Herlino, untuk mengakhiri semuanya.


"Saya ceraikan putri Anda! dan jangan Anda ikut campur urusan saya atau keluarga saya!" Marah Zeon terhadap Tuan Herlino.


Dengan merasa tidak enak hati, Tuan Herlino ingin mencoba minta maaf. "Maaf sudah-,"


"Saya pergi," ucap Zeon sembari berlalu dari hadapan Tuan Herlino.


Pria tua itu hanya bisa menghela nafas berat, dan perlahan mendudukkan diri di kursi sofa, tidak menyangka dalam satu hari mendapat rasa malu.


Malu saat ternyata putrinya sudah hamil, dan kini malu di depan Zeon, bahkan Zeon langsung pergi begitu saja tidak mau mendengar kata maafnya.

__ADS_1


Arghhhh!


Tuan Herlino frustasi, jika tidak menangis dan sedih tentu tidak mungkin, dipermalukan di depan semua teman dan kolega bisnisnya.


Sangat malu sungguh saat ini sangat malu. Seperti tidak memiliki muka.


Tuan Herlino tiba-tiba bangkit dari duduknya kemudian menuju kamar Riska.


Di dalam kamar Riska masih saja menangis, impiannya ingin menjadi istri Zeon sirna dalam sekejap.


Tangisnya langsung berhenti berganti rasa terkejut saat tiba-tiba ayahnya masuk ke dalam kamarnya.


Plak!


"Kau sudah mempermalukan ayahmu!"


Riska kembali menangis seraya memegangi pipinya yang kebas bekas tamparan ayahnya.


Tuan Herlino terus saja memarahi Riska.


*


*


*


Malam hari Zeon baru kembali ke rumah sakit setelah merasa lebih tenang.


Zeon langsung masuk ke ruang ICU, di sana ada Nofal yang menjaga ayahnya.


Zeon mendekat dan mencium kening ayahnya. Zeon tersenyum ke arah ayahnya.


"Segera sembuh, Daddy."


Namun Radit malah sedih mendengar ucapan Zeon barusan, kemudian diraihnya dua tangan kedua putranya, dan Radit sama-sama genggam di atas kasur.


Tatapannya menatap bergantian ke arah Nofal dan Zeon. "Kalian harus rukun, jangan sampai kalian bermasalah dan jika salah satu diantara kalian ada yang berbuat salah, harus saling mengingatkan."


Nofal malah menangis mendengar kalimat bijak yang diucapkan ayahnya, seolah menjadi pesan terakhir.


Nofal langsung berhambur memeluk ayahnya. "Nofal janji akan menjadi lebih baik Dad, tapi Daddy harus sembuh."


"Dad, kami pasti akan saling mengingatkan," ucap Zeon sungguh-sungguh.


Nofal kembali duduk seperti semula, bisa dilihat saat ini mata Nofal terlihat sembap karena banyak menangis.


"Daddy jangan bicara seperti ini, seolah Daddy tidak akan sembuh," gerutu Zeon tidak suka.


Radit tersenyum melihat kedua putranya, bayi kecilku kini sudah dewasa semua, batinnya bahagia.

__ADS_1


"Maafkan Daddy."


Apa pun akan Zeon lakukan demi kesembuhan Daddy, Zeon tidak mau kehilangan Daddy, batin Zeon seraya menatap sayu ke arah ayahnya.


__ADS_2