
Siang hari di sebuah restoran. Udara yang panas serta perut yang sudah waktunya untuk diisi, membuat banyak pengunjung datang ke restoran. Salah satunya dua gadis muda yang juga ingin makan siang di tempat ini.
"Nila-Nila, ada menu baru ini," ucap gadis bersama Nila, yang saat ini membaca daftar menu makanan.
"Eh, udah lama kita tidak makan di restoran ini, ternyata ada banyak menu baru," ucap gadis itu lagi.
Nila juga ingin lihat. "Coba sini aku mau tahu." Rebut Nila, kini daftar menu makanan sudah berpindah di tangan Nila, gadis itu manggut-manggut percaya bahwa ada banyak menu baru.
"Eh, kamu ingat gak? Kita sudah berapa lama tidak makan di restoran ini," suara gadis itu kembali terdengar.
Nila hanya mengangkat bahunya, tanda tidak ingat, berarti sudah lama banget.
"Seingat aku saat Milli masih ke kampus," ucap gadis itu lagi.
Dan Nila langsung menghentikan membacanya, kini beralih menatap temannya itu. "Sera, kamu benar." Nila menghela nafas panjang. "Aku jadi kangen sama Milli." Berhenti bicara mengingat Milli. "Sudah lama dia tidak ikut kumpul bareng sama kita."
Nila masih lanjut melamun memikirkan Milli, Sera memesan makanan dan minuman pada pelayan yang datang.
Sementara itu, Nofal yang saat ini berada di ruang kerjanya, ia berdiri mau ke kamar mandi, namun saat berdiri tanpa sengaja matanya melihat ke arah luar jendela, di sana ia melihat ke dua teman Milli.
"Dia?" Nofal tidak melanjutkan ucapannya, kini segera berjalan menuju kamar mandi, tidak lama kemudian Nofal keluar dan langsung berdiri di dekat jendela.
Namun hatinya kembali kecewa, saat wanita yang diinginkan berharap bisa dilihat, ternyata tidak datang bersama dua temannya itu.
"Kamu pergi kemana sih? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu," gumam Nofal dengan tatapan sendu.
Di lihatnya dua teman Milli saat ini sedang menerima pesanan menu baru yang dibuatnya khusus untuk mengundang Milli datang, tapi nyatanya gadis itu belum pernah datang lagi.
"Bos," suara Bagas yang baru masuk mengagetkan Nofal yang lagi melamun.
"Sorry, Bos." Bagas cengengesan merasa tidak enak sudah membuat Nofal kaget.
"Lain kali ketuk pintu jangan asal nyelonong masuk," keluh Nofal sembari berjalan menuju kursi sofa.
Idih, sejak kapan ada peraturan masuk ke ruang Bos harus ketuk pintu dulu, biasanya juga tidak pernah, batin Bagas.
"Karena aku tidak mau jantungan gara-gara suaramu," ucap Nofal sengit, seolah mendengar kata batin Bagas.
"Ada apa?" ucap Nofal lagi.
"Saya mau nunjukin ini Bos." Bagas menunjukan sesuatu dalam laptopnya ke Nofal.
__ADS_1
Sementara itu, di kursi pengunjung, Nila dan Sera tengah menyantap munu makan siang dengan lahap.
"Em, ini sangat enak," ucap Sera. Dan Nila mengangguk setuju.
"Andai Milli ada di sini pasti dia juga menyukai makanan ini," ucap Sera lagi.
"Tapi sepertinya tidak akan." Nila menimpali.
"Orang tua Milli tidak akan ijinkan Milli keluar rumah," lanjut ucap Nila, dengan mulut penuh makanan, hingga membuat ucapannya tidak begitu jelas.
"Kenapa?" Sera ingin tahu, karena apa pun itu masalah Milli hingga membuat gadis itu tidak masuk ke kampus, Sera benar-benar tidak tahu.
Nila tidak langsung menjawab, ia meminum jus lebih dulu, tenggorokannya serat.
Setelah selesai minum, Nila meletakkan kembali gelas ke atas meja, dan menatap Sera yang sat ini sedang minum jus.
"Milli hamil."
Byurrr!
Sera seketika menyemburkan jus ke depan, sangking terkejutnya mendengar ucapan Nila.
"Sera! wajahku jadi basah," keluh Nila karena air semburan jus Sera mengenai wajah Nila.
Nila meraih kota tisu dan mengambil lembaran tisu untuk mengelap wajahnya yang basah. "Awas jangan sampai kamu bocorkan ke orang lain.
"Hamil, Milli hamil," gumam seorang pria yang berdiri tepat di belakang mereka duduk, karena tadi Nofal berniat mau keluar dari restoran, dan tanpa sengaja malah mendengar ucapan Nila.
Saat ini Nofal tidak bisa berpikir, dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan, rasa ingin bertemu Milli tentu ada, tapi tidak mungkin bertanya pada dua temannya itu, karena tidak saling kenal.
Akan terlihat sangat lucu andai tiba-tiba Nofal bertanya pada Sera atau Nila soal Milli.
Dengan perasaan berkecamuk dan tidak menentu, Nofal melanjutkan langkahnya melewati kursi tempat gadis itu duduk.
Sera sempat menoleh saat Nofal lewat sebelahnya, tapi tidak bisa melihat wajah Nofal seutuhnya karena Nofal menggunakan kaca mata hitam.
"Lihatin apa sih?" tanya Nila, saat melihat Sera melihat sampai kepalanya menoleh ke belakang.
"Biasa cowok ganteng baru lewat," ucapnya sembari tertawa.
"Cowok muluk di otak kamu," cibir Nila.
__ADS_1
"Ish, disini cuma aku yang jomblo," ucapnya tidak terima.
Nila kembali mencibir.
Sementara itu di dalam mobil yang sedang melaju, Nofal sedang melajukan mobilnya ke suatu tempat, sebuah bangunan tua.
Saat Nofal tiba di sana, para pria berbadan kekar langsung menyambut kedatangan Nofal.
"Dimana ketua kalian!" bentak Nofal pada mereka, sepuluh orang. Yang saat ini berdiri gagah di depan Nofal, tapi kepala mereka menunduk semua.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Bos," sapaan pria berwajah brewok, tubuhnya juga kekar, banyak tato di badannya, apa lagi saat ini sedang bertelanjang dada. Hanya menggunakan celana panjang yang sobek-sobek di lututnya.
"Sudah berapa lama aku tugaskan ke kamu dan anak buah kamu untuk mencari gadis bernama, Milli!" bentak Nofal marah.
Sepuluh pria di belakang pria brewok itu semakin menundukkan kepalanya.
"Maaf, Bos. Sudah enam bulan," jawab pria brewok.
Bugh!
Nofal meninju perut pria brewok itu.
"Dan sampai sekarang kalian belum mendapat kabarnya! Bagaimana kerja kalian!"
"Apa yang sebenarnya kalian kerjakan ini!"
"Bodoh semua! tidak berguna!"
Nofal marah-marah dan maki-maki di depan mereka, orang yang Nofal suruh untuk mencari Milli selama enam bulan ini, tapi tidak mendapat kabar apa pun tentang Milli.
Nofal pergi dari sana, dan kembali masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya cepat kilat.
Sembari mengemudikan mobilnya, Nofal sesekali memukul setir mobil, sangat marah yang Nofal rasakan saat ini.
Ia ingin segera bertemu Milli, bahkan sejak kejadian malam itu ingin sekali Nofal bertemu Milli, bahkan sampai menyuruh orang untuk mencari Milli, semua itu Nofal lakukan ingin minta maaf dan bertanggung jawab.
Tapi sampai sekarang belum pernah bertemu Milli lagi, dan mendengar ucapan Nila tentang Milli yang hamil, membuat hati Nofal merasa cemas tidak karuan.
"Apa kah itu bayiku ... Oh Milli kamu dimana?" gumam Nofal frustasi. Bahkan mungkin Milli tidak tahu siapa pria yang menghamilinya.
__ADS_1
"Maafkan aku," gumamnya lirih dengan mata sendu, terus melajukan mobilnya.