Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB. 78. Tepuk jidat bersamaan.


__ADS_3

"Cie ... Cemburu," goda Zelea ke Zeon.


Pria itu saat ini sedang duduk di kursi ruang tengah, mengistirahatkan pikiran yang beberapa waktu lalu untuk bekerja.


"Ayo katakan, katakan kamu cemburu," goda Zelea lagi, kini duduk di sebelah Zeon, dengan wajah condong ke depan begitu dekat dengan wajah Zeon.


Zeon mengusap pipi mulus Zelea, yang selembut kulit bayi. "Kenapa? Tadi kamu tidak meminta aku untuk manjat pohon? Kan, aku ayahnya harusnya aku."


Zelea tersenyum meringis. "Hihihi, memangnya kamu bisa manjat, Sayang?"


Zeon nampak berpikir mendengar kalimat pertanyaan Zelea, karena seingatnya memang belum pernah sama sekali ia manjat.


Tapi kan tidak ada salahnya ia lakukan untuk istrinya yang lagi ingin mangga dari pohonnya langsung.


Zeon ingin merasakan seperti para pria yang disuruh para istrinya untuk manjat pohon.


Tapi kini istrinya sendiri malah meminta tolong pria lain, meski pria itu adalah Asistennya sendiri.


Tadi saat ia menyuruh Galang belum terpikir, dan setelah menyadari sudah melihat Galang tadi manjat pohon.


Zeon menghela nafas berat. "Gak bisa, belum pernah," jawabnya apa adanya.


Zelea tersenyum lebar mendengar ucapan Zeon. "Itu artinya aku melindungi suamiku ayah dari anakku ... Bagaimana jika suamiku jatuh nanti aku sedih," jawab Zelea dengan wajah di buat sesedih mungkin.


Udah deh, kalau sudah melihat Zelea bertingkah seperti ini, Zeon tidak bisa lagi merasa kesal.


Dan langsung dipeluknya erat Zelea kedalam pelukannya, Zeon menghujani pipi Zelea dengan ciuman.


"Eh." Cika langsung menutup matanya saat melihat pemandangan romantis itu.


Tadinya Cika mau bicara ke Zelea, mau bertanya mau dibuatkan bumbu petis yang seperti apa?


Eh gak tahunya malah melihat pemandangan romantis itu. Yang membuat jiwa jomblo jika melihatnya akan meronta-ronta.


Cika ahirnya berbalik dan kembali ke dapur.


Setelah puas menciumi wajah Zelea, Zeon mengusap rambut Zelea, rambut yang terasa halus jika di sentuh, serta wangi aromanya.


"Aku kembali ke ruang kerja," ucapnya dengan pandangan mata teduh ke arah Zelea.


"iya, aku mau membuat petis mangga, nanti kamu harus coba," ucapnya antusias.


Zeon mengangguk, mencium dalam-dalam kening Zelea, kemudian bangkit dan berjalan menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Dengan semangat Zelea juga pergi dari sana, Zelea menuju dapur, setibanya di dapur melihat Cika bersama bi Jum sedang mengupas mangga muda.


"Eh, Nyonya sudah datang," sapa Cika, begitu melihat Zelea "Nyonya mau dibuatkan bumbu petis rasa apa?" tanyanya sembari meletakkan mangga yang dikupas ke wadah.


Zelea mendekat, berdiri di pinggiran wastafel, karena mereka mengupas kulit mangga di depan wastafel.


"Rasa kacang kali enak."


"Nyonya mau rasa kacang?" tanya ulang bi Jum, memastikan sapa tahu Zelea mau berubah perkiraan.


Zelea mengangguk. "Yang pedas, Bi."


"Tapi, ibu hamil tidak boleh makan yang pedas-pedas, Nyonya." Cika yang menjawab.


Zelea tersenyum. "Dua rasa, Bi. Satu pedas satunya lagi biasa aja."


BI Jum mengangguk patuh. "Baik, Nyonya. Bibi buatkan sekarang."


BI Jum meninggalkan kegiatannya yang tadi mengupas kulit mangga, langsung mengerjakan kegiatan barunya yaitu membuat bumbu petis.


Zelea meneruskan pekerjaan bi Jum tadi yang mengupas mangga.


Cika yang melihat hal itu langsung berusaha mencegah Zelea. "Nyonya, jangan. biar saya saja. Nyonya duduk manis saja di sana." Cika menunjuk kursi yang ada di dapur ini.


"Tapi, Nyonya hati-hati ya? Jangan sampai teriris jemarinya," pinta Cika.


Hem.


Mencegahnya pun sia-sia, ahirnya Cika membiarkan Zelea ikut mengupas kulit mangga.


Setelah beberapa saat, dan semua sudah tersaji, ada tiga piring berisi petis mangga.


Satu piring dengan level lima pedasnya untuk Cika dan pelayan yang lain kalau mau.


Satu piring lagi tidak pedas sama sekali untuk Zelea. Dan piring satunya dengan level pedas tujuh untuk Zeon dan Galang.


Dengan wajah sumringah, Zelea berjalan menuju ruang kerja Zeon dengan membawa sepiring isi petis mangga.


Zelea sengaja mengasih Zeon dan Galang dengan rasa pedas, entah kenapa ingin melihat dua pria itu makan pedas hari ini.


"Sayang," ucapnya, begitu berhasil membuka pintu ruang kerja Zeon, dan seketika melihat wajah dua pria tampan di dalam sana.


"Lihat, aku bawa apa ini," ucapnya lagi sembari mendekat ke arah tempat duduk Zeon dan Galang, yang saat ini sedang duduk di sofa, membahas bisnis.

__ADS_1


"Aku bawa petis ... Kalian berdua harus mencicipinya." Zelea meletakkan piring berisi petis mangga muda di atas meja.


"Rasanya enak." Zelea mengerling ke arah Zeon.


Glek! Zeon menelan ludah kasar, bagaimana bisa petis mangga muda yang rasanya pasti asam dibilang enak.


Zeon menggeleng. "Tidak sayang, kamu saja yang makan."


Galang merasa setuju dengan pendapat Zeon, karena ia juga tidak suka asam, baru melihatnya saja sudah merinding, giginya terasa ngilu.


"Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa." Zelea menggelengkan kepalanya, bibirnya cemberut.


Hah! Mode bumil ngambek sedang mulai, tidak ada pilihan lain lagi, Zeon dan Galang saling pandang, ahirnya mereka mau memakan petis mangga rasa asam pedas itu.


"Huh hah," suara Zeon.


"Kenapa sayang, enak kan?" tanya Zelea tanpa dosa, jelas saja Zeon saat ini sedang kepedesan.


Mungkin saat ini waktunya ia menunjukan suami sayang istri, Zeon hanya mengangguk pasrah mengiyakan ucapan Zelea, dan kembali memakan petis mangga itu.


Galang sudah tidak bisa berkata-kata lagi, tidak perlu memberi komentar, karena sudah pasti rasanya asam pedas, namun terus memakan petis mangga itu, harus segera habis pikirnya.


Namun sepertinya tidak semudah yang dibayangkan, ketika mangga muda itu di kunyah di dalam mulut, matanya sampai mejam-mejam nahan asam juga pedas.


Apa lagi saat melewati tenggorokan, huh rasanya panas, karena ini sangat pedas bagi dua pria itu yang sama sekali tidak suka cabai.


Mereka berdua saat ini benar-benar seperti perang melawan rasa pedas dan asam, yang butuh ekstra perjuangan.


Lain halnya di mata Zelea, ekspresi wajah mereka berdua saat kepedasan sangat lucu.


"Wah ... Ternyata kalian sangat menyukainya, tadi pakek bilang tidak mau segala, besok aku buatkan lagi ya?" Zelea begitu antusias menawarinya dengan mata berbinar.


Zeon langsung mengangkat tangannya ia goyang-goyangkan, dengan mata menyipit-nyipit menahan asam. "Cukup, sayang. Ini yang terakhir."


Hah, ahirnya gumam Zeon sembari mengambil botol minum di atas mejanya.


Zeon menghabiskan air dalam botol minum, Zelea melihat Galang juga begitu.


"Sudah ya? jangan buatkan petis lagi," mohon Zeon, kini baru saja meletakan botol minum di atas meja.


Zelea mengangguk. "Tapi kalau aku pinta makan yang lain masih mau, kan?" Matanya berbinar.


Hah! Zeon dan Galang menepuk jidat bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2