Terjerat Cinta Anak Tiri

Terjerat Cinta Anak Tiri
BAB 51. Meminta bantuan.


__ADS_3

Siang hari Rendi harus kembali pulang untuk makan siang di rumah, karena baru saja mendapat telepon dari Zelea.


Tidak seperti biasanya sikap Zelea meminta Rendi untuk pulang saat jam istirahat kantor, tapi Rendi dengan senang hati mengabulkan permintaan Zelea.


Karena di kantor juga lagi tak sedang sibuk, Rendi bisa sedikit lama nanti di rumah, malah jika tidak ada hal penting tidak akan ke kantor lagi, karena sudah ada asisten yang menghandle.


"Kamu meminta aku pulang," ucap Rendi setelah pintu kamar Zelea ia buka.


Zelea yang tadi duduk di atas ranjang sembari memainkan ponselnya, kini langsung turun dari ranjang berjalan mendekati Rendi.


"Ya, aku ingin bicara sama kamu," ucapnya setelah berdiri di depan Rendi.


"Di ruang kerjaku," jawab Rendi


"Tidak perlu," sarkas cepat Zelea. "Di sini saja," terangnya lagi.


Zelea berjalan menuju sofa, Rendi mengikutinya di belakang.


Kini mereka sudah sama-sama duduk dengan saling berhadapan.


"Apa yang mau kamu bicarakan." Rendi memulai pertanyaan.


Zelea menatap serius ke arah Rendi. "Seperti yang aku katakan sama kamu waktu itu."


Kalimat yang Zelea ucapkan barusan langsung mengingatkan Rendi dengan obrolan bersama Zelea Minggu lalu.


Zelea yang saat itu berbisik di telinganya, mengatakan hal yang begitu mengejutkan baginya.


"*Tolong kamu katakan sama Zeon bahwa aku sedang amnesia, karena tidak ada cara lain untuk aku menghindari dia selain mengatakan amnesia."


"Jangan bertanya kenapa? Kamu cukup bantu aku untuk menjalankan kebohongan ini ... Tolong aku sampai aku mengatakan padamu untuk mengajak Zeon datang ke rumah*."


Begitulah kata-kata yang Zelea bisikkan di telinga Rendi.


"Halo ... Mengapa kamu bengong." Zelea menggerakkan tangan di depan wajah Rendi.


Lamunan Rendi langsung terbuyarkan mendengar suara Zelea. "Ah, maaf." Rendi tersenyum kaku.


"Lanjutkan yang mau kamu bicarakan," lanjut ucap Rendi, sedikit tersenyum.


"Aku ucapkan terimakasih karena kamu sudah mau bantu aku." Zelea menjeda ucapannya, mengambil nafas sebentar. "Dan kali ini aku mau minta tolong lagi." Zelea kembali menjeda ucapnya, terasa berat mau mengatakan, "Tolong ajak Zeon datang ke rumah, dan tunjukan kamar ini padanya, aku mau dia tahu semua ini."


Zelea beralih mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Rendi menghela nafas panjang, pandangannya yang sedari tadi menatap lurus ke arah Zelea, kini berpindah menatap ke arah pintu.


Tiba-tiba batinnya terasa sesak mendengar permintaan Zelea, karena ini berati ia harus melepaskan Zelea.


Rendi menggelengkan kepala seraya matanya memejam.

__ADS_1


Tidak, aku belum sanggup kehilangan Zelea, batin Rendi, tangannya terkepal.


Zelea yang menunggu jawaban Rendi tapi tak kunjung ia dengar, kini kembali menatap Rendi. "Kamu bisa, kan. Tolongin aku."


Suara lembut Zelea kembali mampir di pendengarannya, Rendi sedikit terkejut namun sesat kemudian Rendi tersenyum. "Akan aku lakukan untuk kamu."


Zelea bernafas lega, setelah mendengar jawaban Rendi mau membantu lagi.


Zelea seperti sedang ingat sesuatu. "Oh ya, tadi aku sudah masak lho, kita makan siang bersama yuk?"


Zelea bangkit lebih dulu, Rendi mengikutinya di belakang.


Tibanya di ruang makan, pelayan sudah menyusun menu makanan di atas meja, berikut piring juga gelas berisi air minum.


"Wah masakannya harum sekali, sepertinya enak ini," seloroh Rendi seraya mengerling ke arah Zelea yang saat ini menarik kursi.


"Cobainlah, mudah-mudahan tidak mengecewakan." Zelea balas tersenyum.


Setelah piring sudah terisi makanan, Zelea dan Rendi mulai makan.


"Emm," suara Rendi saat makan.


Zelea menoleh. "Kenapa tidak enak?"


Rendi tidak menjawab pertanyaan Zelea. Tapi lagi-lagi Zelea mendengar suara Rendi yang sama.


"Emm." Rendi menggumam lagi.


Rendi tersenyum. "Enak kok, enak banget malah ... Ini udah mau habis."


Zelea sedikit terkejut melihat piring Rendi yang sudah mau habis nasinya, baru tahu.


"Aku nambah ya? Enak soalnya," ucap Rendi.


"Boleh." Zelea tersenyum.


Namun ternyata keadaan di kantor tidak seperti yang Rendi pikirkan tadi, karena saat ini tiba-tiba kehadiran Rendi benar-benar dibutuhkan.


Setelah makan siang selesai, Rendi langsung kembali di kantor.


Kini Rendi masih dalam perjalanan berada di dalam mobil, bersama sopir sebagai pengendara.


Ternyata di sepanjang jalan Rendi masih teringat ucapan permintaan Zelea, dan hal ini membuat Rendi tidak semangat lagi.


Tapi melihat wajah bahagia Zelea saat mendengar jawabannya mau membantu, perasannya jadi tidak tega andai tidak memenuhi permintaan Zelea.


"Aku harus bagaimana," gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Rendi menatap jalanan di luar melalui kaca mobil, tatapannya kosong, dengan pikiran terus terbayang Zelea.

__ADS_1


"Aku sudah lama mencintaimu."


"Sejak pertama kali aku bertemu denganmu saat merawat Kakek."


"Dan aku selalu berharap kamu bisa membalas cintaku suatu hari nanti ... Tapi-." Rendi kembali mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sekarang kamu sudah bertemu dengan orang yang kamu cintai ... Aku harus mundur." Tatapan Rendi semakin menerawang jauh.


"Tapi apa aku bisa melakukan ini," gumamnya sedih.


Sampai mobil sudah tiba di area kantor, Rendi masih saja melamun.


"Tuan, mobilnya sudah sampai," ucap sopir memberitahu Rendi.


Seketika Rendi sadar bahwa ia sudah melamun sejak tadi.


Rendi keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke perusahaan.


*


*


*


Zelea di rumah membuat kue karamel, kue ini kesukaan Rendi, sebelum semua ini selesai dan ia akan pergi jauh, Zelea mau mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan dengan kue karamel.


"Non, lagi sibuk bikin apa?" tanya pelayan datang mendekati Zelea, penasaran.


Zelea tersenyum. "Mau bikin kue, Bibi."


"Wah ... Seru ini, Bibi bantuin ya, Non."


"Boleh," jawab Zelea.


Dengan di bantu pelayan, pembuatan kue karamel jdi lebih cepat, diselingi canda tawa keduanya.


Tidak terasa kue yang dibuat kini sudah jadi dan matang.


Zelea meminta pelayan untuk menyimpannya, kemudian Zelea masuk ke dalam kamar.


Zelea saat ini berdiri di depan lukisan Zeon. Zelea tersenyum memandangi lukisan Zeon.


"Besok kamu akan mengetahui semuanya, jangan sedih lagi, karena aku yakin setelah ini kamu pasti akan bahagia," ucapnya seolah Zeon mampu mendengar.


Tangan Zelea terulur mengusap lukisan tersebut. "Cinta yang begitu besar terkadang bukan yang bersikeras untuk tetap bersama sampai menghalalkan semua cara ... Tapi cinta yang besar itu harus mampu berkorban."


"Aku mencintaimu ... Sangat mencintaimu." Zelea mengecup lukisan tersebut. kemudian kembali berdiri tegap dan tersenyum memandangi lukisan tersebut.


"Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu akan menempati bagian begitu berarti dalam hidupku. "Zelea menggelengkan kepala. "Benar-benar tidak pernah membayangkan."

__ADS_1


Zelea kemudian berjalan menuju ranjang, dan menjatuhkan diri di atas kasur empuk itu dengan dramatis.


Zelea menghela nafas panjang, bibirnya tersenyum saat mengingat Zeon mengatakan cinta padanya.


__ADS_2