
Di rumah sakit.
"Tuan, makan siangnya tidak dimakan?" tanya seorang suster yang baru masuk mau memeriksa keadaan Nofal lagi.
Nofal hanya melirik piring berisi makanan dengan malas, saat ini selera makannya telah hilang, Nofal hanya ingin tahu kabar Milli.
"Tuan, sebaiknya makanannya dimakan supaya, Tuan cepat sembuh."
Setelah berucap suster tersebut berjalan keluar, karena tugasnya sudah selesai.
Setelah berpikir ahirnya Nofal mau makan siang, tangannya meraih piring di atas meja itu, dan mulai untuk makan.
Karena ingin segera sembuh supaya bisa segera menemui Milli. Tidak ada lagi yang Nofal pikirkan selain Milli dan Milli.
Makan dengan rasa hambar, benar-benar tidak enak di lidahnya, tapi Nofal paksa terus, dan langsung ia telan-telan saja.
Pintu ruang rawat Nofal kembali terbuka, di susul sosok yang selalu setia bersamanya.
"Tuan."
Bagas datang.
Nofal hanya menatap sekilas, dan kembali menyelesaikan makannya.
Setelah makan dan minum, Nofal meminta Bagas untuk mendekat.
Bagas yang saat ini duduk di sofa langsung mendekati sang bos.
"Aku bosan, tolong temani aku keliling," pinta Nofal.
Bagas mengambil kursi roda lebih dulu, sebelum ahirnya membantu Nofal untuk duduk di kursi roda.
Bagas mulai mendorong kursi roda yang di duduki Nofal menuju keluar ruangan tersebut, berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Sesekali berpapasan dengan orang-orang yang lalu-lalang pengunjung rumah sakit.
"Restoran aman?" tanya basa-basi Nofal ke Bagas. Sembari kursi roda terus berjalan.
"Aman, Bos. Semua berjalan lancar tenang saja," ucap Bagas meyakinkan.
Nofal manggut-manggut. "Tidak ada masalah lagi, kan? Di restoran."
"Tidak ada, Bos. Semua lancar."
Pandangan mata Nofal melihat sekeliling rumah sakit, meski tidak terlihat bagus, tapi saat ini rumayan menghibur, di dalam ruangan benar-benar membuat Nofal jenuh.
Tiba-tiba pandangan mata Nofal melihat sepasang suami istri, dimana wanitanya sedang hamil, dan suaminya merangkul mesra sang istri.
Pemandangan itu membuat Nofal merasa iri, karena ia tidak bisa seperti itu bersama Milli.
Nofal meminta Bagas untuk berhenti mendorong kursi rodanya, ternyata Nofal masih ingin terus memandangi pasangan suami istri itu.
__ADS_1
"Gas?"
"Iya, Bos." Bagas menjawab.
"Lihatlah pasangan suami istri itu." Nofal menunjuk ke arah pasangan suami istri itu yang masih berjalan mesra.
Bagas mengikuti arah yang Nofal tunjuk.
"Apa aku bisa seperti mereka nantinya."
Suara Nofal terdengar sangat sedih, Bagas jadi merasa iba ke bosnya itu.
"Yakin, pasti bisa Bos." Bagas menyemangati.
Nofal tersenyum getir. "Tapi? Apa kamu tahu caranya?"
Bagas yang ditanya hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sembari senyum cengengesan.
Nofal menghela nafas panjang.
Satu hal yang Nofal sadari, mungkin semua ini sebagai penebus dosa-dosanya di masa lalu, yang dulu selalu permainkan wanita, tapi sekarang mau mendapatkan wanita yang dicintainya susah, bahkan ia sekarang harus di rawat di rumah sakit. Hanya untuk memperjuangkan wanita.
Nofal menertawakan diri sendiri.
Bagas yang mendengar Nofal tertawa kecil kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa aneh dengan Bosnya itu. Yang tiba-tiba tertawa.
"Eh! Iya Bos." Bagas terkejut mendengar ucapan Nofal, baru saja ia melamun.
Bagas memutar kembali kursi roda yang duduki Nofal untuk kembali ke ruang rawat.
Nofal sudah tidak berminat jalan-jalan ke area rumah sakit, mendadak moodnya berantakan, hanya karena memikirkan dirinya, yang merasa tidak seberuntung pasangan suami istri tadi yang dilihatnya.
Sampainya di ruang rawatnya, Nofal dan Bagas terkejut saat melihat seseorang yang sedang duduk di kursi sofa.
"Hah, ternyata kalian habis jalan-jalan," ucap Zeon sembari menghampiri Nofal.
"Kamu kapan datang?"
Zeon tidak langsung menjawab pertanyaan dari Nofal, ia lebih milih mengambil alih mendorong kursi roda itu menuju ranjang pasien.
"Tidak penting kapan aku sampai sini, yang penting selesai dari sini aku pulang menemui istriku."
"Ish!" Nofal mendengus mendengar ucapan Zeon, yang kini membantunya naik ke atas ranjang pasien.
Zeon membenahi letak infus.
"Buruan mau cerita apa?"
Zeon terkejut. "Kenapa jadi kamu yang buru-buru, kan. harusnya aku karena sudah ditungguin di kamar."
__ADS_1
"Kamu pamer mulu!' kesal Nofal.
Hahaha! Pecah sudah tawa Zeon, Bagas yang mendengar juga ikutan tertawa.
Kini Zeon ambil posisi duduk di sebelah ranjang pasien, Zeon menatap serius ke arah Nofal. "Aku sudah bicara dengannya."
Mata Nofal langsung membola antusias. "Bagaimana?"
Zeon langsung menceritakan semuanya ke Nofal tanpa kecuali.
Flash back off.
Zeon merasa geram mendengar semua ucapan ayah Milli, jelas sekarang kesabaran Zeon sudah habis untuk menghadapi ayah Milli.
Zeon tersenyum miring sembari menatap serius ayah Milli. "Dua miliar." Zeon menghentikan ucapannya sebentar.
Ayah Milli langsung kaget mendengar kata dua miliar yang dimaksud Zeon.
Zeon semakin tersenyum miring melihat reaksi ayah Milli yang kaget. "Saya tebus bayi itu senilai dua miliar, toh Anda tidak butuh dia kan? Dan saya tidak akan biarkan keturunan keluarga Alexa diasuh oleh orang lain." Tegasnya dengan menekan keluarga Alexa.
Ayah Milli langsung syok mendengar ucapan Zeon barusan, pikirannya sedang mencerna harus menjawab apa?
Namun ucapan Zeon kembali menusuk hatinya.
"Anda tidak bisa menolak, hanya ada dua pilihan ... Yaitu menikahkan putri Anda dengan kakak saya, atau menerima uang dua miliar lalu berikan bayi itu pada saya." Zeon menatap tajam ayah Milli, saat ini tidak ada aura ramah di wajah Zeon, tidak seperti awal datang tadi.
Ayah Milli menelan ludah kasar, jika ia harus menerima uang dua miliar itu akan merendahkan harga dirinya di depan Zeon seorang pria muda yang sukses di dunia bisnis.
Jika harus menikahkan Milli dengan Nofal, dalam hatinya tidak sudi memiliki menantu seperti Nofal, yang seorang mantan playboy.
"Beri saya satu alasan yang membuat Anda tidak menyukai kakak saya."
Kalimat ucapan Zeon kembali mampir di telinganya, Ayah Milli semakin tidak bisa berkutik.
"Di-dia yang selalu berganti wanita ... Dan saya tidak jamin dia akan membahagiakan putriku!" tegas ayah Milli.
Zeon hanya terkekeh dan tersenyum miring.
"Jadi bahkan kakak saya sampai masuk rumah sakit dan masih mau berjuang untuk mendapat restu Anda, itu semua bukan keseriusan menurut Anda?" tanya Zeon.
"Jika hal itu yang Anda khawatirkan ... Tidak akan tahu hasilnya seperti apa jika mereka belum menikah, lalu apa yang perlu dikhawatirkan," lanjut ucapnya.
Ayah Milli tampak memikirkan ucapan Zeon barusan, hanya terdiam tidak menjawab lagi, dan setelah mendapat jawaban dari yang direnungkan, Ayah Milli angkat bicara.
"Baiklah mereka akan menikah,"putus ayah Milli ahirnya.
Flash back on.
Nofal langsung memeluk Zeon sampai selang infusnya tertarik. "Terimakasih ... Terimakasih sudah membantuku," ucapnya terharu, tanpa sadar meneteskan air mata.
__ADS_1