
Hahahaha!
Suara tawa bahagia Zelea saat melihat berita Nofal di televisi juga sosial media yang lainnya.
Semua membicarakan Nofal mengenai Vidio mesum yang beredar di sosial media.
Puas sekali itu lah yang Zelea rasakan saat ini, bahkan saat matanya melihat berita yang di tayangkan di televisi, dimana Nofal berjalan dengan kepala menunduk saat dibawa polisi. Zelea langsung tertawa keras.
Tidak masalah hari ini Zelea tertawa, karena balas dendamnya sudah terbalaskan.
Pria yang sudah menorehkan luka di hatinya, mencampakkan serta mempermalukan di depan banyak orang.
Zelea tidak akan pernah lupa kejadian memalukan di malam pesta topeng waktu itu.
Aku rasa semua ini sudah impas Nofal, kau kehilangan karir yang kau cintai, dan aku puas melihat penderitaan mu itu saat ini, batin Zelea tersenyum miring.
Dering ponsel Zelea bunyi, ternyata Retno yang menghubungi, dengan bibir tersenyum Zelea mengangkat panggilan telepon Retno.
"Ze, apa yang aku lihat di televisi itu beneran?" tanya Retno di sambungan telepon.
Dan Zelea langsung tertawa mendengar pertanyaan Retno itu, di sebrang sana Retno sudah paham walau hanya mendengar suara tawa Zelea, pasti berita hangat tentang Nofal saat ini adalah benar dan pelaku yang membuat viral Vidio tersebut adalah Zelea.
"Tidak salah lagi, itu memang beneran dia. Bagaimana apa kamu sudah yakin?" Zelea menjawab, saat bicara masih terdengar ada suara tawa.
Di seberang sana Retno tersenyum, seolah Zelea mampu melihat.
"Bagus Ze, jika balas dendam kamu terbalaskan, dan segeralah pergi dari sana akhiri semua sandiwara mu itu."
"Aku berencana seperti itu, tapi untuk sementara waktu aku bingung mau tinggal dimana," jelas Zelea bicara apa adanya.
Bukan tidak ada uang, andai mau ke luar negeri juga belum tahu kemana tujuannya.
"Apa kamu yakin Radit tidak akan mencari mu?" Retno memastikan.
"Aku rasa tidak, karena nanti aku akan tinggalkan sebuah surat," jelas Zelea dengan pasti.
"Baik jika begitu, sementara kamu tinggal di apartemen aku, setelah itu kita pikirkan bersama untuk kamu akan kemana nantinya," saran Retno, dan Zelea mengangguk setuju.
"Baiklah jika begitu aku akan bersiap dari sekarang."
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu, sambungan telepon terputus.
Zelea melihat jam dinding, saat ini masih menunjukkan waktu satu siang. Zelea segera beranjak dari tempat tidur untuk mengemasi barang-barangnya.
Setelah koper miliknya penuh dengan pakaiannya, Zelea tinggal untuk membersihkan badan.
Wanita itu hanya butuh sepuluh menit mandi sudah selesai, keluar dari dalam kamar mandi wajah Zelea nampak lebih segar. Bibirnya terus tersenyum, seolah sedang menyambut hari bebas. Menjalani hari tanpa ada drama sandiwara.
Setelah berpakaian, Zelea turun ke bawah, tujuannya ruang makan untuk makan siang lebih dulu, namun koper miliknya masih berada di dalam kamar.
Saat melihat Zelea makan dengan pakaian rapi, para pelayan tidak ada yang curiga, hanya berpikir mungkin sang Nyonya sudah sembuh dari sakitnya.
Zelea menyelesaikan makannya dengan cepat, setelah minum langsung pergi dari sana menuju kamarnya lagi.
*
*
Nofal tidak henti-hentinya memaki dan mengumpat, pria itu masih belum bisa terima apa bila saat ini harus berada di dalam penjara.
Kepalan tangannya sedari tadi hanya memukul dinding, tidak peduli dengan darah segar yang keluar, bahkan rasa perih tidak lagi Nofal rasakan.
Dalam sekejap hidupnya berubah, yang tadi pagi masih bebas namun saat ini hanya sekedar bernafas harus berbagi udara sama orang lain.
Arghhhh!
Nofal benar-benar merasa terpuruk, karena ayahnya tidak mau menolong, dan karir yang begitu Nofal cintai kini pasti sudah hancur.
Meski ia tidak melihat televisi saat ini, tapi juga tahu bahwa saat ini pasti nama dan fotonya sedang hangat-hangatnya mengisi berita di televisi serta sosial media yang lain.
Dan saat seperti ini Nofal langsung teringat Zelea, kekasih sekaligus ibu tirinya itu tidak menampakkan batang hidungnya. Nofal menjadi curiga.
Nofal memegang kuat jeruji besi disertai tatapan menusuk mengarah ke depan.
Apa semua ini ulah Zelea, karena wanita itu tidak menjengukku sama sekali. Apa dia-
Nofal tidak bisa melanjutkan kata batinnya, kini sadar pasti praduganya itu benar. Dan saat mendapati situasi tidak dipedulikan oleh Zelea, Nofal teringat kenangan di masa lalu yang pernah menyakiti Zelea.
"Dia balas dendam padaku?" Nofal tersenyum getir. Tidak menyangka bahwa selama ini Zelea hanya bersandiwara.
__ADS_1
"Apa motif dia selain aku? apa dia juga berencana merebut harta Daddy?" bertanya-tanya pada diri sendiri.
Nofal semakin mengeraskan rahangnya, seketika amarahnya bertambah berkali-kali lipat pada Zelea. Tapi saat ini merasa tidak berdaya karena tidak bisa berbuat apa pun.
*
*
Di kantor, Radit berdiri di depan jendela pandangannya menatap keluar yang banyak bangunan tinggi berdiri di sana.
Perasaan sebagai ayah masih terasa sesak, mendapati putranya yang selama ini begitu ia percayai harus salah jalan.
Radit yang begitu menjunjung tinggi seorang wanita, siapa pun wanita bukan hanya istrinya sendiri, hatinya juga merasa terluka dengan perbuatan Nofal yang melecehkan wanita.
"Mungkin selama ini Daddy terlalu memanjakan kamu Nofal, dan kali ini biarlah kamu belajar tanggung jawab. Daddy miliki harapan besar buat kamu, setelah bebas nanti menjadi pribadi yang lebih baik."
Tubuh Radit bergetar saat bicara, pria itu menangis, kesedihannya bertambah berkali-kali lipat saat mengingat almarhum istrinya.
"Maafkan aku sayang, aku telah gagal mendidik anak-anak kita. Maafkan aku sayang."
Ruangan yang sepi ini semakin menambah suasana kesedihan, Radit tidak mengijinkan Asisten Mip masuk, pria itu hanya ingin sendiri setelah baru saja masalah yang didapatkan.
Sementara Asisten Mip sedikit membereskan berita miring mengenai Radit, kesalahan yang dibuat putranya nyatanya seorang ayah ikut-ikutan di hujat oleh para netizen.
Padahal Radit tidak tahu apa-apa, dan ini sudah resiko terlebih putranya seorang selebriti terkenal.
*
*
Di mansion saat ini sangat sepi, jam segini para pelayan lagi pada istirahat, dan Bi Jum yang tadi melayani Zelea saat makan, sekarang sedang di kamar mandi.
Jadi saat Zelea menarik koper keluar tidak ada yang mengetahui, merasa aman Zelea mempercepat langkah kakinya menuju pintu utama.
Di luar sana pasti ada satpam, dan Zelea sudah mempersiapkan jawaban andai satpam akan bertanya dirinya mau kemana.
Zelea bernafas lega saa sudah tiba di depan pintu utama, tangannya langsung memutar handel pintu itu.
Klek!
__ADS_1
Deg!
Zelea terkejut serta membelalakkan matanya melihat seseorang yang saat ini berdiri di hadapannya.